Menuju konten utama

Cerita di Balik Kremasi 22 Jenazah Telantar di RSUP Prof Ngoerah

Kremasi dalam perspektif Hindu Bali dilakukan agar roh tidak penasaran di dunia dan bisa lepas dari Panca Maha Bhuta.

Cerita di Balik Kremasi 22 Jenazah Telantar di RSUP Prof Ngoerah
Umat Hindu melakukan ritual terhadap puluhan peti berisi jenazah yang telantar saat upacara kremasi massal di Dharma Kerthi Dalem Kerobokan, Badung, Bali, Selasa (27/10/2026). Kegiatan yang digelar Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Prof Ngoerah bersama Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Provinsi Bali tersebut melakukan kremasi terhadap 22 jenazah telantar sejak tahun 2023 hingga tahun 2026 yakni terdiri dari 13 jenazah dewasa serta sembilan jenazah bayi atau orok dan di antaranya terdapat tujuh jenazah warga negara asing (WNA). ANTARA FOTO/Nyoman Hendra Wibowo/YU
Jadikan tirto.id sumber pilihan pencarian Google

tirto.id - Instalasi kedokteran forensik dan pemulasaraan jenazah Rumah Sakit Umum Pemerintah (RSUP) Prof dr I Goesti Ngoerah Gede Ngoerah (RSUP Prof Ngoerah—dahulu dikenal dengan nama RSUP Sanglah), Denpasar, Bali, melakukan prosesi kremasi jenazah telantar pada 27-28 Oktober 2026.

Setidaknya, ada 22 jenazah telantar yang menjalani prosesi kremasi. Selain berkewarganegaraan Indonesia, ada pula jenazah warga negara asing yang diikutkan dalam prosesi ini. Izinya sendiri telah diperoleh dari Dinas Sosial (Dinsos) Provinsi Bali, kepolisian, dan kedutaan besar beberapa negara.

Jenazah-jenazah tanpa identitas itu telah dirawat dan disemayamkan sejak 2023. Sebelum kremasi dilaksanakan, pihak berwenang telah berproses panjang melakukan pemeriksaan, pencarian keluarga, dan lain sebagainya.

Akhirnya, jenazah-jenazah telantar itu diserahkan untuk mengikuti prosesi kremasi menurut kepercayaan Hindu Bali di Yayasan Dharma Kerthi, Desa Kerobokan, Kecamatan Kuta Utara, Badung. Di antara 22 jenazah itu, terdapat 3 jenazah yang diketahui beragama IsIam. Sehingga, 3 jenazah ini kemudian dimakamkan di Pemakaman Muslim Waturenggong oleh Yayasan An-Nur Denpasar dengan biaya ditanggung Yayasan Peduli Annisa.

Di hari pertama kremasi, jenazah-jenazah telantar di letakkan di peti mati untuk menjalani ritual ngulapin. Selanjutnya, jenazah telantar dibawa ke lokasi kremasi.

Setelah selesai, ritual berlanjut ke tahap ngeraka galih atau pengumpulan sisa-sisa tulang dan abu jenazah. Abu mereka di tata kembali diatas kain putih, kemudian berlanjut ke upacara nganyut atau pelarungan abu di Pantai Padang Galak, Denpasar Selatan, Kota Denpasar.

Direktur Utama RSUP Prof Ngoerah, I Gusti Ngurah Ketut Sukadarma, menjelaskan jenazah yang dikremasi terdiri 11 laki-laki, 5 perempuan, serta beberapa yang belum teridentifikasi.

"Ini berlangsung dua hari. Total semuanya ada 22 jenazah. Di antaranya, ada 7 jenazah asing dan selebihnya 9 bayi dan sisanya memang jenazah telantar," ujar Sukadarma, Selasa (27/10/2026).

Jenazah WNA yang dikremasi berasal dari Belanda (3 orang), Amerika Serikat (2 orang), dan Australia (2 orang).

Jenazah terlama diketahui sudah disemayamkan selama 1.100 hari—padahal, rata-rata waktu penyimpanan adalah 475 hari. Sedangkan, jenazah bayi yang disimpan dan ditangani kepolisian tersimpan sebentar, dengan usia mulai dari 9 hingga 130 hari.

Selain itu, Sukadarma menyebut rumah sakitnya juga masih menyimpan mayat lain yang belum bisa dikremasi karena proses pemastian statusnya masih berlangsung.

"Ini pun sebenarnya masih ada sisa karena masih belum jelas identitasnya dan belum dilepas oleh pihak kepolisian. Jadi, kalau kami sudah mendapatkan kepastian status dari pihak kepolisian, barulah kami melakukan acara pelepasan untuk dilakukan perabuan atau kremasi," jelasnya.

RSUP Prof Ngoerah mencatat total tagihan terkait perawatan dan penyimpanan jenazah telantar itu mencapai Rp4 miliar. Proses kremasi jenazah telantar itu bertujuan untuk mengurangi penumpukan jenazah di rumah sakit tersebut.

“Kalau tidak dilakukan tindakan seperti ini, ada masyarakat yang memerlukan layanan untuk penitipan jenazah tentu jadi terhambat," terang Sukadarma.

Proses kremasi jenazah telantar ini dibiayai oleh Dinas Sosial. Sukadarma berharap, langkah ini dapat memberikan ketenangan bagi jenazah-jenazah telantar tersebut.

"Mudah-mudahan ini menjadi amalan yang baik untuk kita karena, terus terang, kami memiliki kapasitas yang terbatas sebenarnya untuk penyimpanan jenazah," ujarnya.

Dinsos P3A Bali Apresiasi RSUP Ngoerah

Kepala Dinas Sosial, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (Dinsos P3A) Provinsi Bali, Anak Agung Sagung Mas Dwipayani, menyebut jenazah telantar di RSUP Prof Ngoerah yang dikremasi adalah jenazah yang proses pemberkasannya telah rampung.

"Kami, Dinas Sosial, tentunya juga pihak Rumah Sakit Ngoerah, menunggu selesainya atau tuntasnya penyidikan atau penyelidikan yang dilakukan pihak kepolisian. Karena, jika belum tuntas, kami tidak bisa meneruskan atau melaksanakan kegiatan kremasi dan pemulasaraan jenazah seperti ini," terang Dwipayani.

Dalam hal ini, Dinsos memang diberikan mandat untuk mengurus tugas penanganan masyarakat telantar, jenazah telantar, dan orang yang ditelantarkan. Terkait hal ini, Dwipayani meminta masyarakat memastikan jenazah yang telantar di rumah sakit bagian keluarganya atau bukan.

"Mohon segera dipastikan, dilakukan identifikasi, dan penyelesaian perkara. Sehingga, tidak membebani rumah sakit Ngoerah, sehingga (instalasi jenazah) bisa digunakan untuk masyarakat lain yang membutuhkan," ungkapnya.

Dinsos P3A Bali juga mengapresiasi RSUP Prof Ngoerah yang telah melakukan perawatan jenazah telantar.

"Sinergi ini sangat memberikan atensi kepada jenazah yang telantar atau ditelantarkan oleh keluarga," kata Dwipayani.

Mengenai anggaran, Dwipayani menyebut Dinsos P3A Bali setiap tahunnya menyediakan anggaran Rp8,5 juta untuk satu jenazah. Terkait proses kremasi yang baru saja berlangsung, Dinsos P3A Bali menyediakan 20 alokasi anggaran untuk 22 jenazah dengan total Rp170 juta.

Mengapa hanya 20 alokasi? Dwipayani membeberkan ada peti yang dapat menampung beberapa jenazah bayi dan jenazah yang tak teridentifikasi.

"Untuk tahun lalu, kami mengalokasikan 25 jenazah telantar. Tetapi tahun ini, kami mengalokasikan 20 karena ada informasi yang kami terima dari kepolisian trennya menurun," jelasnya.

Ke depan, pemulasaraan atau kremasi akan dilakukan dua kali dalam setahun atau per semester. Dinsos P3A Bali telah berkoordinasi dengan RSUP Prof Ngoerah, khususnya bagian forensik, agar tidak terjadi penumpukan jenazah telantar.

"Kami juga akan berkolaborasi dengan pihak kepolisian untuk segera mempersingkat waktu penyidikan atau penyelidikan sehingga tidak akan terakumulasi seperti ini," pungkas Dwipayani.

Kremasi Jenazah dalam Kepercayaan Hindu Bali

Penuntun Perabuan Dharma Kerthi Dalem Kerobokan, Ida Bagus Pancima, menjelaskan kepada kontributor Tirto makna dari setiap tahapan upacara perabuan jenazah secara Hindu Bali.

Pencima menyampaikan bahwa prosesi ngulapin dilakukan untuk memanggil roh-roh jenazah telantar sebelum dilakukan perabuan.

"Setelah jenazah diangkut semua, kami lakukan ngulapin, memanggil-manggil rohnya biar jangan dia nyangkut-nyangkut di jalan. Karena itu, kami bawa mereka ke sini. Setelah di-ulapin, baru di-aturin (dihaturkan)," ujar Pancima.

Prosesi aturin adalah penyajian makanan untuk roh-roh jenazah telantar itu. Ini dilakukan untuk menghormati mereka sebelum dikremasi. Menurut Pancima, jenazah-jenazah itu dibawa menjalani setiap prosesi seolah-olah mereka hidup.

"Setelah itu baru dia akan berangkat ke tempat perabuan. Berangkatnya juga tidak langsung ke sini. Ada upacaranya untuk melepas mereka. Ada sesajian itu dari daun dadap," terangnya.

Prosesi selanjutnya adalah puncaknya, yakni kremasi. Jasad dibakar sampai habis berbarengan dengan sajian dan peti matinya. Setelah selesai kremasi, sisa-sisa tulang dan abu dari para jenazah dikumpulkan. Pancima menyebut, para roh dari jenazah itu menunggui saat kremasi berlangsung dan mereka akan diantarkan bersama sisa-sisa tubuhnya menjalani pelarungan atau dengan cara lain yang dikenal dengan nama panca bayu bagi umat Hindu.

"Jasadnya ini setelah dikembalikan ke panca maha bhuta, ke tempat asalnya Sang Hyang Widhi. Jadi, dia (roh) sudah melihat, 'oh, sudah (kremasi)'. Jadi, sudah tenang. Terakhir, baru dibakar dua-duanya," jelasnya.

Ritual kremasi, menurut Pancima, sama seperti ngaben.

Kremasi juga menjadi langkah agar roh-roh tidak lama berdiam di dunia dan bisa lepas dari Panca Maha Bhuta. Jika hal itu tidak dilakukan, maka roh-roh itu masih penasaran atau kebingungan akan nasib yang menimpanya di dunia.

"Bingung dia itu, sekarang kita bantu dengan dikremasi. Bagi yang punya indra keenam, pasti melihat mereka. Saya bilang, ‘Lebih baik ya jangan jauh-jauh, ayo ke sini.’ Saya bilang ke mereka (roh), kami akan bantu (mengantar ke Sang Hyang Widhi),” imbuhnya.

Setelah semua jasad menjadi abu, penuntun akan membuatkan simbol dengan membedakan antara laki-laki dan perempuan. Roh-roh lalu dibuatkan bentuk seperti manusia atau ngareka, disembahyangi untuk kemudian dilarung atau dihanyutkan ke laut.

“Semua itu ke laut, selesainya di laut. Tapi, kami tambahkan upacaranya yang disebut mesalaran. Itu ada ayam sama bebek dan seperangkatnya (sajian pelengkap). Nanti di sana roh-roh mau memilih jalannya, ada yang keluar negeri, Bali, mungkin ada ke Jawa, atau di wilayah Nusantara," kata Pancima.

"Ada pesawatnya sebagai simbol kendaraannya untuk mengantarkan mereka kembali ke keluarganya. Supaya jangan bingung di sini, enggak ada yang ngurus. Roh enggak boleh sembarangan, tapi kadang-kadang ada yang mau di sini," sambungnya.

Baca juga artikel terkait KREMASI atau tulisan lainnya dari Ahmad Firizqi Irwan

tirto.id - News Plus
Kontributor: Ahmad Firizqi Irwan
Penulis: Ahmad Firizqi Irwan
Editor: Fadrik Aziz Firdausi