Penanganan emergensi pada pasien Penyakit Jantung koroner (PJK) sangat penting guna mencegah kematian, terutama 12 jam setelah terjadinya serangan. Hal ini dijelaskan Dokter spesialis Jantung dan Pembuluh darah RS Jantung Diagram Siloam Hospitals Group, Dr. M. Barri Fahmi, SpJP.

Serangan jantung disebabkan oleh mendadak hilangnya aliran darah ke pembuluh darah jantung, dikenal juga dengan nama pembuluh darah koroner, karena terjadi mendadak dan menyebabkan kerusakan yang dahsyat pada otot jantung,

“Maka diperlukan tindakan segera untuk membuka sumbatan pada pembuluh darah koroner. Tindakan tersebut dikenal dengan nama Primary Percutaneous Coronary Intervention atau PPCI," jelasnya dilansir dari Antara.

Menurut Barri, PPCI adalah tindakan minimal invasif yang harus dilakukan segera dalam waktu kurang dari 12 jam sejak terjadinya serangan jantung. Tindakan ini dilakukan di ruang kateterisasi oleh dokter jantung konsultan intervensi dan didukung oleh tim perawat yang berpengalaman.

PPCI menggunakan bius lokal dan biasanya dilakukan melalui pembuluh darah di pergelangan tangan atau paha. Pasien sadar penuh selama prosedur dan bisa berkomunikasi dengan dokter setiap saat. Segera setelah ditemukan adanya sumbatan pada pembuluh darah koroner, dokter akan memasang stent atau ring.

"Durasi dari tindakan ini berkisar 1 jam hingga 2 jam, tergantung dari beratnya sumbatan yang ditemukan. Setelah dilakukan pemasangan stent atau ring, pasien akan dirawat di ruang Intensive Cardiac Care Unit (ICCU) untuk pemantauan lebih lanjut. Jika tidak ada penyulit atau komplikasi biasanya pasien bisa pulang dalam waktu empat hingga lima hari," ujar Barri.

Pada, Rabu (5/12/2018) lalu Rumah Sakit Jantung Diagram (Siloam Hospitals Group) Cinere, Depok. memperkenalkan tindakan Primary Percutaneous Coronary Intervention (PPCI) sebagai tindakan membuka sumbatan pada pembuluh darah koroner.

Sementara Dr. Jeffrey Wirianta, SpJp, FIHA selaku Interventional Cardiologist mengatakan pihaknya terus melakukan sosialisasi sebagai upaya untuk melayani pelayanan BPJS terhadap penyakit jantung di antaranya di komunitas, perkumpulan olahraga, hingga perkumpulan lansia.

Ia mengatakan, serangan jantung dapat dikenali dari gejala yang khas. Menurutnya, ada tiga ciri khas gejala tersebut, yakni sifat rasa nyerinya seperti ditekan, ditindih atau rasa seperti dihantam benda tumpul.

“Bukan seperti ditusuk-tusuk atau disayat. Serta, durasi nyeri pun berlangsung selama 15 menit hingga 20 menit,” katanya melalui keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Minggu (9/12/2018) dilansir Antara.

Kedua, pencetusnya diantaranya adalah stress emosional atau kelelahan fisik. Namun, serangan jantung kerap tidak menunjukkan gejala khas pada beberapa orang, terutama pada perempuan, usia lanjut, dan penderita diabetes. Hal itu disebabkan adanya neuropati diabetik yang dapat merusak saraf mengatur kerja jantung.

"Tak heran apabila serangan jantung pada penderita diabetes disebut dengan serangan silent,” lanjutnya.

Untuk lebih mengidentifikasi terjadinya serangan jantung, diperlukan pula hasil pola gambaran elektrokardiografi (EKG) yang jelas, hasil laboratorium seperti enzim jantung yang spesifik, serta pemeriksaan lain yang menunjang (ekokardiografi dan atau kateterisasi jantung).


Faktor yang dapat menyebabkan penyakit jantung, dilansir dari Health Line (6/12/2018) adalah faktor usia. Risiko penyakit jantung meningkat sekitar usia 55 tahun pada wanita dan usia 45 pria.

Faktor risiko lainnya adalah:
  • Kegemukan
  • Resistensi insulin atau diabetes
  • Kolesterol tinggi dan tekanan darah
  • Riwayat keluarga penyakit jantung
  • Tidak aktif secara fisik
  • Merokok
  • Makan makanan yang tidak sehat
  • Depresi klinis
Dan faktor lainnya adalah dikarenakan gaya hidup yang tidak sehat. Meskipun faktor genetik dapat meningkatkan risiko penyakit jantung, pilihan gaya hidup yang tidak sehat memainkan peranan yang besar.

Masih dari sumber yang sama, beberapa pilihan gaya hidup yang tidak sehat yang dapat berkontribusi pada penyakit jantung meliputi:
  • Kurang latihan fisik
  • Makan makanan tidak sehat yang tinggi protein lemak, lemak trans, makanan manis, dan sodium
  • Merokok
  • Minum alkohol berlebihan
  • Tinggal di lingkungan yang tingkat stresnya (tekanan) tinggi tanpa teknik manajemen stres yang tepat
  • Diabetes yang tidak dirawat