Carnivale, Persabungan Baik & Jahat dalam Kemasan Karnaval Keliling

Penulis: R. A. Benjamin, tirto.id - 22 Jul 2022 10:00 WIB
Dibaca Normal 5 menit
Meski tak populer, serial Carnivàle tetap mampu menggaet penonton fanatik. Apakah ia memang terlalu “mendahului zaman”?
tirto.id - Bukan dari trailernya, melainkan poster belaka. Ilustrasi poster sebuah serial televisi dengan cepat menarik perhatian saya. Semula, saya mengira serial itu berkisah tentang sirkus atau mengambil set di sebuah sirkus. Namun, raut wajah para karakter di poster itu terlampau serius untuk latar “senang-senang” semacam itu.

Carnivàle, nama serial itu, dirilis HBO pada 2003. Ia hanya bertahan dua musim hingga 2005. Pada masa rilisnya, HBO belum sampai ke televisi rumah. Saya di waktu itu bahkan masih mengira tontonan berseri hanya berkisar sinetron, telenovela, kartun, dan anime.

Saya baru menemukan Carnivàle nyaris dua dekade kemudian. Ketika tontonan melimpah di layanan streaming, mudah sekali beranjak mengikuti suatu tontonan gara-gara posternya semata. Dan ketika internet jauh lebih mudah diakses, barulah saya mengetahui banyak hal tentang serial ini—termasuk mengapa ia tak pernah berlanjut.

Drama periode rekaan Daniel Knauf ini membutuhkan setidaknya 4 juta dolar AS untuk produksi setiap episode. Ketika angka itu tak bisa ditekan lebih rendah lagi, Carnivàle pun dihentikan produksinya hanya untuk dua musim. Padahal, itu baru mencakup babak pertama dari rencana trilogi sepanjang enam musim.

Episode pertamanya sukses meraup 5,3 juta penonton—rekor untuk HBO Original Series. Musim pertamanya mencapai rata-rata 3,54 juta penonton, tapi rata-rata penonton musim keduanya malah jatuh di angka 1,81 juta penonton. Maka tak mengherankan serial ini dihentikan di musim kedua.

Carnivàle nyatanya tak cukup populer di kalangan penggemar drama supranatural, drama periode, atau horor. Serial ini bahkan nyaris tak terdengar gaungnya layaknya judul-judul populer lain yang sezaman, semisal Lost (2004-2010) atau The Wire (2002-2008).

Meski demikian, Carnivàle punya penggemar fanatiknya sendiri. Merekalah yang mengirimkan 50 ribu email ke HBO tatkala serial ini dihentikan. Namun, desakan penggemar fanatik semacam itu tentu saja tak cukup untuk membuat sebuah serial berlanjut.


Terang Vs. Gelap dalam Skala Manusia

Ini adalah dekade 1930-an atau masa Great Depression di Amerika Serikat yang baru punya 48 negara bagian. Pergolakan sosial dan politik terjadi di banyak tempat, tingkat pengangguran pun tinggi. Pada waktu yang sama, fasisme bangkit di Eropa dan dunia sedang menjelang perang terakbar dalam sejarah umat manusia.

Carnivàle berfokus pada sebuah grup travelling carnival yang juga bernama Carnivàle, berlogo bulan dan matahari, langit terang dan gelap. Tema perseteruan antara baik dan jahat memang sedari mula disisipkan ke dalam banyak aspek, termasuk dalam sekuens pembuka serial melalui wujud ilustrasi kartu tarot.

Di luar karnaval, kita bakal menemukan banyak orang tak karuan, mulai dari yang menjualbelikan cucunya yang terbelakang hingga freak finder, pencari orang “aneh” untuk dipasok ke sirkus atau karnaval. Di dalam karnavalnya, kau bisa menemukan mereka yang lazim ditemukan di freak show, seperti perempuan berjanggut atau manusia tak bertulang hingga dagangan lain karnaval seperti kincir ria atau tarian cooch yang disesaki penonton laki-laki dewasa.

Pemandangan indah dari periode 1930-an yang sangat mendetail menjadi hidangan untuk mata penonton di sepanjang seri. Demikian pula lanskap tandus penuh debu dan orang-orang lusuh bagai jauh dari air. Hujan hanya terjadi sesekali, ketika terjadi peristiwa penting yang melibatkan para avatar sekaligus, entah itu seks maupun pembunuhan.

Salah satu unsur yang membuat serial ini dinamis tak lain berkat perjalanan yang harfiah. Kombinasi drama dan petualangan digambarkan dengan karnaval yang berpindah dari satu kota ke kota lain, menghadapi keganjilannya masing-masing. Konvoi karnaval itu singgah di kota-kota Amerika yang namanya sama dengan kota-kota kuno atau yang disebut dalam alkitab, seperti Babylon, Damascus, hingga akhirnya New Canaan.

Perpindahan itu diarahkan nyaris tanpa motif bisnis oleh Management, sosok misterius pemimpin karnaval. Wujudnya sama sekali tak pernah terlihat oleh sebagian besar personel karnaval. Hanya ada Samson (Michael J. Anderson) yang bertugas sebagai penyambung mulut Management sekaligus penanggung jawab karnaval dan berderet hal lain di luar bisnis.

Di pusat semuanya, ada anak muda rekrutan anyar Ben Hawkins (Nick Stahl) dan pendeta Methodist Justin Crowe alias Brother Justin (Clancy Brown). Masing-masing mereka menjadi avatar untuk kekuatan terang atau gelap. Secara perlahan, keduanya diarahkan pada takdir menjelma sebagai inkarnasi Tuhan dan Antikristus. Salah satu dari mereka berniat mendatangkan kehancuran, membawa neraka ke dunia, dan penonton hanya bisa menerka siapa yang “gelap” dan siapa yang “terang” hingga musim kedua berlangsung.

Pertentangan keduanya menyeret cerita ke percabangan yang sesekali berpapasan jalur dalam mimpi yang sama. Penceritaan keduanya juga seolah mengaburkan batas antara kehendak bebas dan determinisme—tampaknya malah lebih condong ke yang terakhir demi kepentingan dramatis.

Kisah memang berputar di sekeliling Hawkins dan Brother Justin, tapi juga membagi porsi tak sedikit untuk karakter lain di sekitar mereka—rekan-rekan karnaval Hawkins maupun siapa saja yang terlibat dengan sang pendeta—dalam kisah mereka masing-masing yang pada akhirnya berkelindan erat.

Selalu ada hal tak biasa yang terjadi saat karnaval dihelat, entah itu kecelakaan atau pembunuhan dalam grup yang kaya akan interaksi ini. Berkat eksekusi yang menawan, segala romansa (atau hasrat singkat belaka) antarkarakter ditampilkan dengan alami, termasuk hubungan rumit antarkarakter yang berlawanan seperti Jonesy dan Stumpy.

Serial ini juga menyoroti sindikat pengembara yang memiliki budaya dan nilai tersendiri yang sepenuhnya asing bagi warga penetap. Sebagian besar dari mereka digambarkan antireligi dan beberapa di antaranya pun memiliki kekuatan supranatural, seperti perempuan Romani yang mendapatkan visi dan mampu berkomunikasi via telepati. Namun di sisi lain, mereka juga digambarkan sebagai manusia kelas pekerja biasa dengan ketidakpuasan terhadap keputusan pemilik karnaval.


Menyajikan Mitologinya Sendiri

Secara keseluruhan, aman menyebut Carnivàle sebagai serial bernuansa gelap. Aspek “terang” terasa subtil, dengan sedikit keceriaan di sana-sini. Selebihnya ia nyaris selalu murung, tapi tetap memikat dengan plot yang kian seru kala benang merah mulai terhubung.

Carnivàle membawa konotasi keagamaan yang luas dan kuat dalam penciptaan mitologinya sendiri. Sarat perkara alkitabiah, unsur estetik seperti Pohon Pengetahuan tentang Baik dan Jahat dari Kristen dan Yudaisme, konsep avatar dari Hindu, penggambaran pendeta Methodist dan sosok-sosok "nabi baru", hingga Kesatria Templar. Belum lagi elemen seperti tarot, freemason, hingga okultisme secara umum.

Dari periode 1930-an, serial ini meminjam kaitan dengan Ku Klux Klan, fenomena alam seperti dust bowl, dan kondisi sosial seperti Great Depression, begitu pula hiburan malam yang sedang tenar seperti cooch.

Kita juga bisa menyederhanakan Carnivàle sebagai gambaran orang-orang biasa yang menjalani hidup di tengah berbagai kesulitan dan hiburan seadanya, sementara perang besar yang menentukan nasib dunia tengah direbus di luar sana. Tema utama pertarungan baik dan jahat itu disampaikan dengan keunikan yang bisa jadi tak bisa ditemukan dalam kisah lainnya.

Semua itu dimampatkan ke dalam kisah sebuah grup karnaval dan pendeta yang ingin membangun denominasi dan kuil besarnya sendiri. Carnivàle merupakan seri yang tak hanya unik, tapi juga cerdas membawa cerita dan penggambaran yang gelap dalam wujud hiburan dan terang yang kerap diasosiasikan dengan karnaval.

Dari segi penampilan, serial ini dipanggul sederet akting menawan—atau minimal layak. Dan dengan porsi yang besar untuk banyak karakter, mudah saja untuk membuat penonton memiliki karakter favoritnya masing-masing. Secara umum, akting Clancy Brown sebagai Brother Justin bisa dibilang paling berkesan. Dia mencuri perhatian di setiap adegan dan dialognya, entah kalimat dari kitab suci atau perkataan biasa, yang tafsirannya tak pernah tunggal.

Pada akhirnya, kita hanya mendapatkan bagian pertama trilogi Carnivàle. Karenanya, jangan heran bila banyak tulisan, frasa, atau bahkan subplot yang tak terjelaskan dan tak menemui akhir. Kisahnya memang tak berlanjut, tapi bila preferensi tontonanmu mencakup pertarungan baik dan buruk yang kompleks pula sesekali mencekam dibungkus keriaan karnaval, Carnivàle bisa jadi sajian yang memuaskan.


Infografik Misbar Carnivale
Infografik Misbar Carnivàle. tirto.id/Quita


Kisah Besar yang Berakhir Prematur

Dua musim pertama Carnivàle memang mencapai klimaks dan berhasil menutup babak pertama triloginya. Pun masih ada cliffhanger krusial di finale episode musim keduanya. Namun, sebagaimana sudah disebut sebelumnya, penonton dipaksa puas hanya sampai di situ karena serialnya tak berlanjut.

Carnivàle dituturkan dengan lamat-lamat. Setiap episode ditampilkan dalam rentang rata-rata 54 menit dengan 12 episode per musimnya. Ia menyediakan banyak ruang untuk reaksi, ekspresi, pengembangan karakter, dan tempo serta suasana yang atmosferik.

Ia tak langsung menohok sedari mula. Ia pun menghadirkan serbaneka simbolisme esoterik yang berpotensi membingungkan atau sepenuhnya terasa tak menarik bagi sebagian audiens. Bagi mereka yang tak sabaran, sangat mungkin untuk tergoda beralih ke show lain yang lebih mudah diikuti.

Namun karena sajian itu pula, agaknya tak berlebihan untuk memberinya stempel klise seperti "mendahului zamannya". Jika tayang pada satu atau dua dekade lebih lambat—ketika kultur binge watching kian marak, ia bisa saja menjadi salah satu serial populer.

Atau, ia memang tak bakal pernah menembus pangsa pasar yang luas lantaran keunikan maupun keanehannya. Dengan banyaknya cult followers yang menyebut diri mereka "carnies" atau "rousties", ia memang berbagi lebih banyak kesamaan dengan judul-judul film atau serial televisi cult yang segmentasinya sangat terbatas.

Hingga kini, tak ada kabar terkini soal rencana reboot, revival, apalagi kisah lanjutannya. Suatu waktu, gagasan sang penulis serial Daniel Knauf untuk melanjutkan ceritanya dalam wujud novel grafis pun menemui jalan buntu akibat gagalnya negosiasi antara HBO dan Marvel.

Jikapun masa depan tak berpihak untuk serial ini, kita selalu bisa mengenangnya sebagai salah satu serial televisi paling underrated yang tak pernah terselesaikan. Let's shake some dust!

Baca juga artikel terkait SERIAL TV atau tulisan menarik lainnya R. A. Benjamin
(tirto.id - Film)

Penulis: R. A. Benjamin
Editor: Fadrik Aziz Firdausi

DarkLight