Menuju konten utama
Miroso

Burger, Makanan Anak Semua Bangsa

Karena lahir dari rahim para imigran, maka secara alamiah burger jadi lentur dalam menyerap berbagai pengaruh kuliner ataupun modifikasi.

Burger, Makanan Anak Semua Bangsa
Header Miroso Burger, Anak Semua Bangsa. tirto.id/Tino

tirto.id - Hollywood sedang mengalami pembatasan jalan. Di sepanjang Hollywood Boulevard, pagar besi dibentangkan. Polisi berjaga di tengah jalan. Aku tak melihat mereka menyantap donat, melainkan burger Carl’s JR.

Aku baru ingat kalau malam nanti akan ada penyelenggaraan Oscars ke 95. Langit mendung. Mungkin akan turun hujan deras seperti kemarin. Atau bisa juga pawang hujan di Hollywood lebih sakti?

Aku membuka peta digital, mengetik tujuanku. Hanya satu kilometer. Dari Musician Institute, aku cuma perlu berjalan lurus ke arah timur, 50 meter, lalu belok kiri di jalan N Higland Avenue, jalan terus kira-kira 500 meter, lalu belok kanan di Sunset Boulevard, 300 meter kemudian aku akan ketemu dengan apa yang kucari.

In N Out Burger.

Anthony Bourdain, juru masak dan penulis kesayangan banyak orang, memuji tempat makan ini setinggi langit. Dia cerita dalam sebuah episode di Eater, setiap datang ke Los Angeles, ia akan langsung menuju gerai In N Out dekat bandara, makan di tempat, lalu bungkus beberapa buat dimakan di hotel bintang lima yang dia tempati.

Di hotel papan atas yang biasanya penuh tatapan syak wasangka terhadap makanan cepat saji, tak pernah ada pandangan dan ucapan meremehkan terhadap In N Out. Selalu: nice choice, good food, dan sebagainya.

“Ini salah satu restoran favoritku di Los Angeles,” ujar Bourdain.

Antrean tak panjang. Hanya satu orang di depanku. Bahkan sebelum sampai sini, aku sudah tahu apa yang akan kupesan.

“Satu Double Double, please.”

“Apa kamu mau bawang bombay?”

“Iya, ma’am.”

“Ada pesanan lagi?”

“Satu kentang goreng, please. Dengan animal style.”

Adegan percakapan itu terus kuulang di kepalaku sejak aku pertama sampai di Los Angeles beberapa hari lalu. Ini kota yang penuh dengan kekayaan kuliner dari berbagai bangsa. Mungkin yang paling beragam di seluruh penjuru Amerika. Tacos, rogan josh, ramen, suqaar, churrasco, rendang, hingga naengmyeon. Nyaris semua ada di sini.

Dan tentu saja, dari semua kekayaan khazanah itu, ada In N Out di sana. Bagaimanapun burger adalah anak seluruh bangsa. Dan sejak lama burger di sini menjadi identitas kuliner penting warga Los Angeles.

Tak Pernah Jadi Cemooh

Jika kamu sering selancar di internet dan menonton video masak, kamu mungkin bisa mengamati pola tertentu. Ada jenis-jenis makanan "suci" yang nyaris tak boleh diganggu gugat. Jika kamu salah membuatnya, atau tak sesuai dengan "aturan", atau memodifikasi keluar pagar, maka akan ada orang-orang yang ngamuk di kolom komentar.

"Ini bukan cara yang benar!"

"Woiii, ini sih ngawur namanya!"

"Nenekku pasti akan bangkit dari kuburannya, terus ngamuk-ngamuk karena lihat video ini!"

Dan lain sebagainya.

Biasanya makanan seperti itu datang dari negara dengan kultur kuliner kaya, maka mereka menjaga betul warisan leluhurnya itu. Orang Italia biasanya ngamuk kalau pasta dan pizza diotak-atik sembarangan. Mereka sampai sekarang pasti marah besar jika melihat pizza dengan pugasan nanas. Urat leher mereka pasti keluar ketika harus menjelaskan dengan nada tinggi setiap kali ada yang membuat pasta dengan krim dan menyebutnya carbonara.

Begitu pula orang Indonesia. Banyak dari kita cenderung sangat protektif --sekaligus kadang bangga berlebihan-- terhadap kuliner kita, apalagi jika itu dibawa ke panggung internasional. Kita siap perang di internet untuk membela rendang yang dimasak serampangan oleh orang luar Indonesia, dan ketika rendang diklaim oleh negara lain. Banyak juga yang ngamuk ketika melihat Indomie dibuat dengan cara tak lazim.

Ini semua tak terjadi pada burger. Ia adalah makanan semua bangsa.

Infografik Miroso Burger

Infografik Miroso Burger, Anak Semua Bangsa. tirto.id/Tino

Burger sejak awal punya awal mula yang simpang siur. Beberapa menyebut makanan ini sudah ada sejak abad ke 4, meski secara deskripsi bentuk jauh berbeda dengan burger yang kita kenal. Ia lebih menyerupai makanan dari daging cincang, seperti meatloaf atau kofta.

Salah satu yang sering dirujuk menjadi kota asal burger adalah Hamburg, karenanya nama yang lebih dulu dikenal adalah hamburger. Hamburg yang merupakan kota pelabuhan, menjadi titik awal penting bagi para imigran Eropa yang pindah ke Amerika Serikat.

Sejarawan Theodora Fitz- Gibbon punya argumen itu. Dia menyebut bahwa kedatangan kapal-kapal jalur Hamburg-AS yang membawa imigran itu membawa serta kultur hamburger dan mengenalkannya di AS. Namun Josh Ozersky dalam The Hamburger: A History (2008) yang diterbitkan Yale Press membantah argumen Theodora.

"Gelombang kedatangan imigran Jerman yang membanjiri Amerika pada 1850-an, para pengungsi yang melarikan diri dari kekacauan politik, tiba di Amerika dan mereka sudah disambut oleh Hamburg steak," tulis Josh.

Josh dengan yakin menyebut bahwa burger adalah makanan Amerika Serikat. Titik. Argumen Josh malah menebalkan bahwa burger memang makanan semua bangsa, karena negara ini dibangun oleh keringat para imigran, para pendatang dari seluruh penjuru dunia. Maka tak mengherankan kalau ada banyak bisnis burger lahir dan besar di AS, dan kelak menyebar ke seluruh dunia. Bahkan McDonald's tak kurang-kurang disebut sebagai simbol kapitalisme AS. Kurang Amerika apa lagi coba?

Karena lahir dari rahim para imigran, maka secara alamiah burger jadi lentur dalam menyerap berbagai pengaruh kuliner ataupun modifikasi. Tak ada satu negara atau bangsa yang berhak mengklaim --apalagi pakai marah-marah dan otot kencang-- sebagai tempat asal burger.

Maka kita bisa melihat burger dengan berbagai varian protein dan berbagai jenis saus. Hidangan ini juga bisa mewakili rasa sebuah kultur. Ada burger rendang yang sangat Indonesia. Di Korea Selatan, laris burger dengan patty berlumur saus bulgogi. Di Jepang juga ada yang menjual burger unagi, lengkap dengan saus manis gurihnya. Di India, juga banyak ditemukan burger dengan isian telur yang harganya terjangkau, tentu dengan sedikit percikan bumbu garam masala.

***

Aku menunggu sekitar 15 menit hingga pesananku di In N Out datang. Ini adalah gerai makanan cepat saji yang dikenal menjaga betul kualitasnya. Jargonnya seperti menepuk dada dengan penuh kebanggaan: Quality you can taste. Konon tak ada bahan baku beku di sini. Semua segar dari dapur pusat, yang dikirim ke cabang-cabang mereka. Maka aku dan jutaan pembeli In N Out bisa memahami bahwa kami masih harus menunggu usai memesan.

Dari tempatku duduk, aku bisa melihat dapur mereka yang terbuka. Kentang diiris, direndam air agar pati tepungnya luntur, lalu berendam dalam minyak panas. Daging burger dipipihkan lalu dimasak sebentar saja dengan panas ultra tinggi, menghasilkan permukaan yang garing, tapi masih penuh dengan saripati daging di bagian dalam.

Ketika nomorku dipanggil, aku bangkit dengan perasaan riang, seperti murid yang duduk rapih lalu boleh pulang duluan.

Di hadapanku, adalah apa yang disebut Margot dalam film The Menu (2022) sebagai “A real cheeseburger. Not some fancy, deconstructed, affluent bullshit, a REAL cheeseburger.”

Adegan itu terasa puitis sekali. Dikelilingi oleh para elitist food afficionado, di antara garis batas tipis antara hidup dan mati, Margot masih bisa membayangkan burger . Dalam adegan ini, dengan penekanan terhadap kata REAL, burger ditempatkan pada kodratnya, : sebuah makanan kelas pekerja yang murah tapi mengenyangkan.

Double Double berarti dobel patty dan dobel keju. Bagian dasar roti dioles saus khas In N Out —seperti saus thousand islands, hanya tak semanis itu, dan sedikit lebih gurih. Ada selada bokor, serta gherkin dan tomat sebagai pemberi kerenyahan dan kesegaran tandingan agar tak mudah eneg. Dan tentu saja bawang bombay.

Sedangkan kentang goreng animal style menghadirkan kekacauan dalam sebuah kerapian. Seperti band hair metal alumni Sunset Strip yang bermain di Birdland Jazz Club. Kentang goreng segar bertekstur garing, diberi keju yang lantas dilelehkan, tumpukan bawang bombang yang sudah dikaramelisasi, lantas dibanjur saus khas mereka. Chaos in an order at its best.

Sedetik setelah suapan pertama, aku sekarang bisa memahami apa yang dibilang Bourdain.

Sejurus kemudian, satu burger dobel dan sepinggan kentang goreng sudah menempati ruang terbaik dalam perut. Dua belas dolar terbaik yang aku habiskan di Los Angeles. Setelah menunggu perut sedikit lega, aku bangkit dan keluar restoran. Angin dingin menyambut. Aku menengok ke atas.

Langit Hollywood makin mendung.

Baca juga artikel terkait BURGER atau tulisan lainnya dari Nuran Wibisono

tirto.id - Gaya hidup
Penulis: Nuran Wibisono
Editor: Irfan Teguh Pribadi