Menuju konten utama

Budaya Bakar Loket Tiket Sepakbola

Rebutan tiket pertandingan sepakbola yang berakhir ricuh kerap terjadi di Indonesia. Hingga membakar loket tiket sepakbola, Kemarahan calon penonton itu bahkan sudah membudaya.

Budaya Bakar Loket Tiket Sepakbola
Para suporter timnas Indonesia yang kecewa berada di depan loket penjualan tiket final sepakbola SEA Games XXVI 2011 yang dibakar di Stadion Utama Gelora Bung Karno,Jakarta, Senin (21/11). FOTO ANTARA/ Marifka Wahyu Hidayat.

tirto.id - tirto.id – Laju Timnas Indonesia ke laga final Piala AFF untuk melawan Thailand membuat masyarakat dihinggapi euforia. Bahkan, untuk menonton secara langsung di stadion, mereka rela mengantre sejak dini hari demi mendapatkan tiket kategori tiga seharga Rp100 ribu. Tak lebih dari tiga jam sejak loket dibuka, 15 ribu tiket di dua tempat—semuanya di markas tentara—ludes.

Sayang, histeria itu tak diimbangi kesabaran dalam budaya mengantre. Alhasil, beberapa pengantre pingsan dan penjualan tiket offline ditunda.

Tidak kali ini saja rebutan tiket pertandingan sepakbola di Indonesia berakhir ricuh. Ternyata budaya rebutan dan gampang merangsek anteran sudah jadi cerita umum saking biasanya.

Tengok saja enam tahun ke belakang, persisnya saat pertandingan semifinal Piala AFF Indonesia melawan Filipina di Stadion Utama Gelora Bung Karno, 19 Desember 2010. Massa mengamuk dan menuntut janji panitia yang akan memberikan tiket resmi kepada para pemilik tiket sementara. Ratusan orang menerobos pintu masuk Senayan untuk berebut tiket. Barulah penonton bisa mendapatkan tiket dengan membawa bukti pembayaran tiket sementara untuk ditukarkan.

Kaos manajemen tiket itu terlihat dari foto seorang pria berkemeja putih yang terkapar dengan sebuah botol mineral di sampingnya. Pria itu petugas yang babak belur diamuk massa yang kecewa lantaran tak memperoleh tiket menonton.

Tak sampai di situ, rekaman gambar lain menunjukkan tiga petugas penjual tiket terkurung di loket dan ketakutan. Mereka dikerumuni lautan massa yang marah dan melontarkan cacian seusai panitia mengumumkan bahwa penjualan tiket ludes.

Sehari sebelumnya, di tempat berbeda, amuk massa diarahkan pada panitia pelaksana lokal Suzuki AFF Cup 2010 karena tak kunjung membuka loket penjualan hingga pukul 12.00. Massa yang naik pitam memaksa masuk ke halaman PSSI, berteriak sambil memaki.

Tak kunjung direspons, mereka akhirnya melampiaskan amarah dengan menurunkan bendera PSSI, menginjak dan membakarnya dengan menyanyikan Indonesia Raya. Sepuluh orang personel polisi yang sedang berjaga tak mampu meredam amarah massa. Ujungnya, mobil operasional PSSI dengan plat B 8379 ZO pun kena baret dan hampir saja hendak dibakar.

Di tahun berikutnya, kejadian serupa berulang dalam pertandingan Sea Games cabang sepakbola ketika laga final Indonesia melawan Malaysia. November 2011 menjadi bulan kelabu tatkala ratusan orang yang sudah mengantre untuk mendapatkan tiket akhirnya kecewa karena 70 ribu lembar tiket yang dijanjikan sudah habis sebelum waktunya. Ditambah, panitia pelaksana dengan seenaknya menaikkan harga tiket secara sepihak.

Harga tiket final untuk Kategori I menjadi Rp200 ribu, naik Rp50 ribu dari harga semula. Tiket VIP Timur naik jadi Rp500 ribu dari semula Rp250 ribu dan VIP Barat naik jadi Rp750 ribu dari semula Rp350 ribu. Terakhir, harga tiket untuk VVIP naik menjadi Rp1 juta dari semula Rp500 ribu.

Kemarahan ratusan calon penonton ini kemudian diluapkan pada pembakaran sebuah loket penjualan tiket di samping restoran Lagunas pada pukul 16.00. Untuk meredam kemarahan massa, pihak panitia pun mengambil jalan pintas dengan mengeluarkan seribu tiket tambahan.

Loyalitas suporter Indonesia memang tak perlu diragukan lagi. Dan loyalitas ini acapkali jadi histeria yang ujungnya terjadi aksi bakar-bakar loket karena mereka kecewa tak kebagian tiket.

Kejadian ini kembali berulang pada September 2013. Lokasinya: loket tiket di Stadion Gelora Delta Sidoarjo sesaat menjelang partai final Piala AFF U-19 saat Indonesia melawan Vietnam. Aksi ini bermula dari ratusan suporter yang kesal karena sudah datang mengantre sejak pagi tapi loket baru dibuka pukul 10.00. Padahal sebagian pengantre mulai berdatangan sehari sebelumnya.

Massa yang marah melempari kaca loket di sisi utara dengan batu hingga pecah. Penjaga loket yang panik akhirnya terpaksa keluar dari ruangan. Tiba-tiba muncul api yang lantas membakar loket. Beruntung, api tak menjalar luas karena panitia sigap memadamkannya dengan air keran.

Baca juga artikel terkait PIALA AFF 2016 atau tulisan lainnya dari Aditya Widya Putri

tirto.id - Olahraga
Reporter: Aditya Widya Putri
Penulis: Aditya Widya Putri
Editor: Fahri Salam