Biografi dan Karier Try Sutrisno: Wakil Presiden pada Masa Soeharto

Kontributor: Alhidayath Parinduri, tirto.id - 25 Mei 2022 11:09 WIB
Dibaca Normal 2 menit
Biografi Try Sutrisno hingga bisa menjadi Wakil Presiden Republik Indonesia tahun 1993-1998.
tirto.id - Try Sutrisno merupakan Wakil Presiden ke-6 Republik Indonesia yang menjabat sejak 1993-1998. Pria kelahiran Surabaya, 15 November 1935 ini salah satu wakil presiden berlatar belakang militer.

Dalam mencapai puncak kariernya sebagai Wapres, Try harus melewati semuanya dari bawah. Dikutip Salim Said dalam Menyaksikan 30 Tahun Pemerintahan Otoriter Soeharto (2016:167), Try memulai perjalanan kariernya sebagai Sersan Taruna pada Akademi Teknik Angkatan Darat (Atekad).

Lantas, bagaimana perjalanan karier Try Sutrisno hingga bisa menjadi Wakil Presiden Republik Indonesia pada tahun 1993-1998? Simak ulasannya pada artikel berikut!


Biografi Try Sutrisno

Try Sutrisno lahir pada 15 November 1935 di Surabaya. Ia anak dari Subandi dan Mardiyah. Ayahnya merupakan seorang supir ambulance, sementara ibunya seorang ibu rumah tangga.

Pada masa kecilnya, Try sempat berhenti sekolah dikarenakan sekolahnya hancur akibat serangan Belanda. Alhasil, demi memenuhi kebutuhan keluarga, Try ikut mencari nafkah dengan berjualan koran dan rokok.

Seiring berjalannya waktu, pada 1949 setelah Belanda mundur dari Indonesia, Try kembali melanjutkan pendidikannya hingga tamat SMA pada 1956. Setelah itu, ia bertekad untuk melanjutkan pendidikan di sekolah militer.

Pada tahun 1956, Try mengikuti seleksi di Akademi Teknik Angkatan Darat (Atekad) dan berhasil lolos setelah ia mampu menarik perhatian Mayor Jendral GPH Djatikusumo. Ia pun berhasil menyelesaikan pendidikan militernya pada 1959 dengan pangkat Sersan Taruna.

Pada 1961, Try Sutrisno resmi menikahi Tuti Setyawati dan dikaruniai 7 orang anak yaitu Nora Tristyana, Taufik Dwi Cahyono, Firman Santyabudi, Nori Chandrawati, Isfan Fajar Satrio, Kunto Arief Wibowo, dan Natalia Indrasari.


Karier Militer & Perjalanan Politik Try Sutrisno

Setelah menyelesaikan pendidikan militernya pada 1959, Try ditugaskan di Kodam Sriwijaya yang saat itu dipimpin oleh Harun Sohar. Penugasannya di Kodam Sriwijaya tak terlepas dari pengalamannya di Sumatera.

Dilansir dari laman tni.mil.id, pada tahun 1957 Try Sutrisno telah ikut melakukan penumpasan terhadap pemberontakan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) di Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau, dan Jambi.

Pada 1962, Try kembali ikut dalam operasi Trikora untuk pembebasan Irian Barat. Saat itu, ia sebagai perwira zeni ditugaskan untuk membangun lapangan terbang di Kendari. Di sinilah awal mula perjumpaan Try Sutrisno dengan Soeharto yang saat itu menjadi Panglima Komando Mandala operasi Trikora.

Mengutip dari buku Ibu Tien Soeharto dalam Pandangan dan Kenangan Para Wanita: Rangkaian Melati (1996:18), Tuti Setyawati (istri Try Sutrisno), menyebutkan bahwa Harto tahu persis tentang Pak Try pada waktu membuat Lapangan Terbang Kendari, Sulawesi Tenggara.

Setelah pertemuan itu, Try kemudian masuk dalam lingkaran orang-orang Soeharto. Pada tahun 1974-1978, Try yang berpangkat Kolonel mendapat tugas menjadi ajudan Presiden Soeharto. Karier Try pun semakin melejit, selepas menjadi ajudan Soeharto, Try diangkat menjadi Kepala Staf Kodam Udayana sampai tahun 1979.

Kemudian, pada tahun 1982-1985 Try Sutrisno diberikan tugas untuk menjabat sebagai Pangdam Jaya. Setelah itu, karier militer Try Sutrisno terus melesat dan ditunjuk sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) pada 1986-1988. Puncak karier militernya pun terjadi pada tahun 1988-1993 di mana ia ditunjuk Soeharto sebagai Panglima ABRI menggantikan Benny Moerdani.

Setelah menjabat sebagai Panglima ABRI, Try Sutrisno kemudian diberikan tanggung jawab besar untuk menjadi Wakil Presiden Indonesia pada 1993-1998. Selepas menjadi Wakil Presiden dan runtuhnya rezim Soeharto, Try Sutrisno tetap aktif berpolitik dan menjadi sesepuh di Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI).


Baca juga artikel terkait TRY SUTRISNO atau tulisan menarik lainnya Alhidayath Parinduri
(tirto.id - Sosial Budaya)

Kontributor: Alhidayath Parinduri
Penulis: Alhidayath Parinduri
Editor: Alexander Haryanto

DarkLight