Periksa Data

Biden Menang Pilpres AS, Indonesia Untung atau Buntung?

Oleh: Made Anthony Iswara - 13 November 2020
Dibaca Normal 3 menit
Sebagian besar ekonom menilai kemenangan Biden akan membawa sentimen positif terhadap perdagangan dunia.
tirto.id - Pada 7 November 2020, kecemasan dunia seputar hasil Pemilihan Presiden (Pilpres) Amerika Serikat (AS) 2020 selama beberapa bulan terakhir akhirnya terjawab. Politikus Demokrat Joe Biden memenangkan Pilpres AS 2020 mengalahkan petahana Donald Trump.

Dengan kemenangan ini, Biden akan menjadi presiden tertua sepanjang sejarah AS. Sementara Kamala Harris, anggota Senat yang mewakili California sejak 2017 dengan orang tua imigran asal Jamaika dan India, akan menjadi perempuan pertama yang menjabat sebagai wakil presiden AS.

Dilansir dari Reuters, ribuan orang di AS turun ke jalan untuk merayakan kemenangan mantan Wakil Presiden era Barack Obama ini. Di sisi lain, Reuters melaporkan bahwa ratusan pendukung Presiden Donald Trump dari Partai Republik masih bersikeras bahwa "pemilihan ini masih jauh dari selesai” saat melakukan demonstrasi.

Namun, keceriaan tersebut ternyata tidak hanya dirasakan pendukung Biden di negara Paman Sam. Beberapa pemimpin dunia juga turut memberikan ucapan selamat kepada Biden, termasuk Presiden Joko Widodo (Jokowi).

"Selamat terhangat saya kepada @JoeBiden dan @KamalaHarris atas pemilihan bersejarah Anda. Hasil turnout (jumlah pemilih yang menggunakan haknya) yang sangat besar adalah cerminan dari harapan yang ditempatkan pada demokrasi," tulis Presiden Jokowi melalui akun resmi Twitter-nya @jokowi.
Jokowi menambahkan bahwa dirinya "menantikan untuk bekerja sama" dengan Biden dalam memperkuat kemitraan strategis Indonesia-AS serta mendorong kerja sama kita di bidang "ekonomi, demokrasi, dan multilateralisme untuk kepentingan kedua negara."

Tidak hanya itu, nama Biden bahkan ikut bergema di pasar keuangan Indonesia melalui sebutan “Biden Effect” seiring penguatan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan harga emas di Indonesia pasca kemenangan Biden.

Hasil pilpres ini pun memunculkan opini yang beragam di kalangan pakar-pakar ekonomi terkait dampak kemenangan Biden di Indonesia. Apa benar Indonesia akan untung dari menangnya Biden?


Sentimen Positif Dunia

Satu opini yang sering muncul di kalangan ekonom adalah bahwa kemenangan Biden dalam pilpres AS diyakini akan membawa sentimen positif terhadap perekonomian global.

Melalui pesan yang diterima Tirto, Senin (11/11/2020), Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Piter Abdullah menilai bahwa kemenangan Biden akan membangkitkan market confidence. Artinya, ada keyakinan bahwa perang dagang AS dan Cina akan mereda atau bahkan terhenti.

Dengan terhentinya perang dagang, perdagangan internasional akan bangkit lagi, yang kemudian bisa memicu produksi dan kenaikan harga komoditas, lanjut Piter. Ia juga memprediksi bahwa market confidence ini juga akan mendorong risk appetite (selera risiko) investor yang lebih besar sehingga volume transaksi di pasar keuangan akan meningkat.

"Indonesia saya kira akan mendapatkan dampak positif dari bangkitnya perekonomian global pasca kemenangan Biden. Pertama, ada peluang kenaikan harga produk komoditas yang menjadi andalan ekspor indonesia. Di sisi lain, aliran modal juga akan mengalir ke Indonesia baik dalam bentuk portofolio maupun FDI," jelas Piter.

Sentimen positif ini tercermin dalam pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang telah meroket sejak 5 November menyambut potensi Biden untuk memenangkan pemilu dari hasil prediksi dan survei. Kenaikan ini angin segar bagi pasar saham setelah IHSG yang cenderung lesu sebulan terakhir.


"Pelaku pasar sangat memperhatikan pemilihan presiden karena [hal ini] akan mempengaruhi kebijakan Amerika Serikat ke depannya," jelas Direktur Anugerah Mega Investama Hans Kwee melalui pesan yang diterima Tirto pada 8 November 2020.

Menurut Hans, potensi meredamnya perang dagang AS dengan Cina, Eropa dan Meksiko ini dengan terpilihnya Biden akan cenderung menurunkan volatilitas pasar dan berpotensi membuat Rupiah menguat terhadap Dollar AS.

Selain itu, harga beberapa komoditas unggulan RI juga naik sepekan terakhir. Misalnya, harga minyak sawit mentah (CPO) kini berada di rentang tertinggi dalam delapan tahun terakhir meski terkoreksi tipis hari Kamis (12/11/2020), dilansir dari CNBC.

Lebih lanjut, sentimen positif dari kemenangan Biden tampaknya juga dipengaruhi oleh publikasi efektivitas vaksin COVID-19 dari Pfizer asal Amerika Serikat yang efektifitasnya mencapai 90 persen. Pengumuman terkait vaksin ini telah menimbulkan sentimen positif bagi perekonomian, seperti diucapkan oleh Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam diskusi bertajuk "Kondisi Sektor Keuangan Terkini Serta Meneropong Ekonomi 2021", Selasa (10/11/2020).


Belum Tentu Mereda?

Kendati demikian, Kepala Departemen Ekonomi Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Yose Rizal Damuri kepada Tirto, Selasa (11/11/2020), menganggap bahwa terpilihnya Biden untuk menjadi Presiden ke-46 AS tidak serta merta akan menghentikan perang dagang AS dengan Cina.

Alasannya, permasalahan antar kedua negara raksasa ini "sangat dalam," mulai dari dominasi AS di dunia, manipulasi mata uang di Cina ataupun masalah-masalah lainnya.
"Tetapi penyelesaiannya kemungkinan tidak akan secara agresif ataupun dengan cara yang intimidatif," ucap Yose. "Yang mungkin dilakukan adalah membawa Cina ke WTO."

Namun, ia menilai bahwa Biden memang akan lebih "bersahabat" dengan kerja sama internasional dibandingkan Trump dan akan memberikan kepastian bagi pelaku usaha, sehingga akan berdampak positif kepada perdagangan internasional.

Menurut Yose, Trump cenderung menganggap perdagangan dan kerja sama internasional sebagai sesuatu yang merugikan AS seperti yang tercermin dalam keluarnya AS dari North Atlantic Free Trade Agreement (NAFTA) dan Kemitraan Trans Pasifik (TPP).

Dengan motonya "America First," Trump juga selama ini fokus menarik kembali investasi AS di luar negeri untuk agar dikembalikan ke dalam negeri. Yose menilai bahwa kebijakan AS juga sulit ditebak karena berbagai cuitan Trump di Twitter. "Hari ini bilang A, besoknya bilang B," kata Yose.

Data WTO menunjukan, akibat ulah Trump di tengah pelemahan PDB dunia dan konflik perdagangan yang makin panas, pertumbuhan perdagangan dunia merosot dari 4,7% (2017) menjadi 3% (2018) lalu terkontraksi 0,1% (2019). Pertumbuhan PDB dunia juga ikut melambat dari 3% (2017) menjadi 2,9% (2018) dan 2,3% (2019).



Indonesia Cuan?

Tidak semua ekonom melihat sisi positif dari kemenangan Biden di Pilpres AS. Sebulan sebelum hasil Pilpres AS tahun ini, Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Faisal Basri menjelaskan bahwa kemenangan Biden bisa merugikan Indonesia.

Hal tersebut dikarenakan membaiknya ekonomi AS di bawah pemerintahan Biden dapat menyebabkan adanya penguatan dolar Amerika, sehingga dapat menekan nilai tukar rupiah terhadap dolar, jelas Faisal dalam sebuah webinar pada tanggal 5 Oktober 2020 lalu.

"Tapi ini agak lucu. Lebih baik buat Indonesia kalau Donald Trumpnya menang karena makin awut-awutan ekonomi [AS]. Kalau ekonomi Amerika awut-awutan, Indonesia makin diuntungkan," ucap Faisal.

Dikutip dari Detik, Faisal juga mengatakan bahwa Partai Demokrat di AS akan lebih ketat dalam memberikan insentif atau menjalin kerja sama dengan negara lain, misalnya Indonesia. Salah satunya adalah dengan memberikan sejumlah syarat-syarat terkait hak asasi manusia yang bisa memberatkan posisi Indonesia.

Di sisi lain, Partai Republik di AS selama ini "kerjaannya" mengeluarkan stimulus dan cetak uang, sehingga dolar AS turun dan rupiah menguat. Posisi ini dinilai akan lebih menguntungkan Indonesia.

"Kalau Partai Republik yang penting bisnis. Perusahaan minyaknya diminta dikasih fasilitas, Freeport jangan diganggu, begitu-begitu saja, dan GSP dikasih begitu kan," tutur Faisal.

Baca juga artikel terkait PERIKSA DATA atau tulisan menarik lainnya Made Anthony Iswara
(tirto.id - Ekonomi)

Penulis: Made Anthony Iswara
Editor: Ign. L. Adhi Bhaskara
DarkLight