Beruang Air Si Hewan Super

Ilustrasi bentuk Tardigrades atau Beruang Air, sangat mustahil dilihat dengan mata telanjang. Hanya bisa dilihat dengan mikroskop. [Gambar/nytimes.com]
Oleh: Aulia Adam - 10 Oktober 2016
Dibaca Normal 2 menit
Namanya tardigrades, atawa lebih populer sebagai beruang air. Jangan bayangkan ukurannya serupa beruang grizzly atau beruang kutub, sebab ia hanya bisa dilihat dengan bantuan mikroskop. Tapi kekuatannya lebih dari beruang bahkan organisme manapun di bumi ini.
Ukurannya kecil dan hanya bisa ditengok dengan bantuan mikroskop. Ukuran paling besar yang pernah ditemukan paling panjang hanya 1 milimeter lebih sedikit. Ia disebut tardigrada, jamaknya tardigrades, yang berarti “Si Langkah Pendek”. Pertama kali ditemukan oleh seorang pastor di Jerman bernama J.A.E Goeze, pada 1773.

Sebetulnya, dari bentuk ia lebih mirip lintah berkaki lima pasang ketimbang beruang. Namun karena kekuatannya yang luar biasa, maka ia diberi nama megah seperti salah satu binatang terbesar itu. Sementara saat pertama kali ditemukan, hidupnya memang di tanah becek atau lumut basah, maka ia diberi embel-embel air.

Hewan invertebrata ini sejatinya bisa ditemukan hampir di seluruh habitat di bumi ini, dengan total spesies hingga 900 jenis. Fakta ini tak mengherankan jika menilik daya tahan tubuh beruang air. Ia bisa tahan pada suhu panas hingga 150 derajat celcius dan sedingin -273 derajat celcius.

Beruang air juga bisa hidup tanpa air selama 10-30 tahun dan tak hancur dibantai sinar radiasi. Ini artinya, beruang air mampu bertahan hidup di kedalaman 7 kilometer di bawah permukaan laut, dan 6 kilometer di atasnya.

Kekuatan luar biasa si beruang air tentu menarik perhatian para ilmuwan. Salah satunya adalah gabungan ilmuwan Swedia dan Jerman yang menamakan eksperimen mereka TARDIS, singkatan untuk tardigrades in Space. Seperti namanya, tujuan studi ini adalah untuk mengetahui sejauh mana daya tahan beruang air di ruang hampa luar angkasa. Maka selama 12 hari pada September 2007, sebanyak 3.000 beruang air menumpang kapsul Foton M-3 milik Agensi Luar Angkasa Eropa (ESA) untuk memutar di orbit bumi.

Hasilnya? “Di ruang hampa luar angkasa sana, di mana organisme akan menghadapi dehidrasi yang ekstrem dan radiasi kosmik, nyatanya tak jadi masalah untuk beruang air,” kata Pemimpin Proyek TARDIS Ingemar Jönsson, dari Universitas Kristianstad, Swedia seperti dikutip dari situs resmi ESA.

Fakta baru tentang kuatnya makhluk kecil ini, membuatnya semakin menarik untuk terus diteliti. Jönsson bilang, tugas berikutnya setelah proyek TARDIS adalah mencari tahu bagaimana mekanisme yang dilakukan tubuh beruang air untuk mampu bertahan menghadapi kerasnya hidup di ruang hampa luar angkasa sana.

Tak dinyana, hanya selama sembilan tahun, ilmuwan dari benua seberang menyahut pertanyaan Jönsson. Pada pekan ketiga September lalu, ilmuwan dari Universitas Tokyo, Jepang, merilis temuan mereka tentang alasan di balik kekuatan super si beruang air.

Rahasia itu ternyata terletak pada sebuah protein jenis baru yang mereka temukan dalam tubuh tardigrada. Mereka menerjemahkan genom pada tardigrades jenis Ramazzottius varieornatus secara teliti, dan menemukan sebuah protein yang kemudian mereka namai Dsup, akronim dari Damage Suppressor.



Penemuan protein ini bisa dikatakan sebagai salah satu temuan terbesar pada dekade ini. Dengan ditemukannya Dsup, para peneliti punya alasan lebih untuk bermimpi tentang banyak hal. Salah satunya adalah penggunaan Dsup pada organisme lain termasuk manusia, tulis ilmuwan Universitas Tokyo dalam rilis mereka.

Seperti sel dalam tubuh beruang air, sel dalam tubuh manusia juga hancur jika terpapar sinar X-ray. Namun, saat para ilmuwan memanipulasi sel manusia untuk menciptakan protein Dsup seperti yang ada pada beruang air, hampir separuh DNA sel manusia malah rusak. Ini membuktikan, bahwa Dsup sebenarnya bukan memperbaiki DNA yang rusak melainkan mencegahnya untuk tidak rusak.

Percobaan ini membuat mereka lebih mengerti tentang mekanisme "bertahan hidup" si beruang air. Para ilmuwan berharap temuan ini dapat membantu melindungi sel manusia dari kerusakan. “Kalau kemampuan ini bisa ditransfer kepada manusia, mungkin akan sangat membantu proses pencangkokan kulit atau organ dalam dunia bedah,” tulis jurnalis Lindsay Dodgson untuk Business Insider.

Tak hanya di dunia biologi, kekuatan makhluk mungil ini juga dicurigai mampu mengembangkan temuan manusia di bidang astronomi. Setelah ESA merilis temuannya tentang ketahanan beruang air di luar angkasa, salah satu ahli biologi ESA Rene Demets mengatakan, “Pertanyaan menarik setelah terbuktinya kemampuan beruang air bertahan di luar angkasa adalah, bagaimana ia bisa terbentuk sedemikian rupa untuk bisa bertahan di luar angkasa?”

Ia mengaitkan eksistensi beruang air dengan Teori Panspermia yang yakin kalau segala kehidupan di bumi berasal dari jagat raya bukan sebaliknya. Maksudnya, bisa saja beruang air ini sebenarnya makhluk luar angkasa yang sudah mendarat di bui ratusan tahun lalu dengan bantuan asteroid ataupun meteoroid.

“Untuk saat ini, belum ada yang bisa memastikan jawabannya,” kata Rene.

Soal ia datang dari luar angkasa atau bukan memang belum ada jawabannya. Tapi dengan mengetahui rahasia ketahanan beruang di luar angkasa, tampaknya mimpi Elon Musk, CEO sekaligus CTO SpaceX untuk membikin permukiman di Mars tinggal berjarak beberapa tahun saja.

Baca juga artikel terkait TARDIGRADA atau tulisan menarik lainnya Aulia Adam
(tirto.id - Kesehatan)

Reporter: Aulia Adam
Penulis: Aulia Adam
Editor: Maulida Sri Handayani
DarkLight