Bersenang-senang dengan Uang Hadiah Nobel

Oleh: Dea Anugrah - 9 Oktober 2016
Dibaca Normal 2 menit
Tanggal 13 nanti, Akademi Swedia akan mengumumkan peraih hadiah Nobel Sastra tahun ini dengan hadiah medali elektrum dan 8 juta kronor Swedia (setara Rp 12 miliar rupiah). Jika pemenang nanti kelak kebingungan membelanjakan uang Hadiah Nobel, ia bisa meniru para pendahulunya.
tirto.id - Dalam beberapa tahun terakhir, setiap awal Oktober, pelbagai media di seluruh dunia kerap menampilkan foto seorang pria yang mengenakan jas abu-abu bermotif garis-garis, dalaman kaus putih, dan potongan rambut karyawan. Pria itu menopangkan pipinya pada tangan kanan dan terlihat seperti seorang paman yang bosan kerja.

Di atas foto tersebut ada judul "Haruki Murakami lagi-lagi jadi calon favorit peraih Hadiah Nobel Sastra" atau yang semacamnya, dan bagian terakhir dari paket itu ialah kabar dari rumah-rumah judi.

Tahun ini, menurut situs judi Ladbrokes, peluang Murakami ialah 5/1, sedikit di atas penulis Kenya Ngugi Wa Thiong'o (7/1) dan penulis Amerika Serikat Philip Roth (8/1), untuk mendapatkan hadiah Nobel Sastra. Alih-alih mewakili kesempatan menang yang sebenarnya, angka itu tentu hanya cerminan popularitas penulis-penulis tersebut di mata para petaruh.

“Mungkin karena lebih banyak orang yang membaca buku ketimbang mengikuti perkembangan ilmu kimia. Mungkin karena manusia gemar berjudi, dan berjudi soal sastra terasa lebih mencerahkan daripada pergi ke pacuan,” tulis Daniel D'Addario di Time pada 08 Oktober 2014 tentang “tradisi” itu.

Tanggal 13 nanti, Akademi Swedia akan mengumumkan peraih hadiah Nobel Sastra tahun ini. Pemenangnya akan mendapatkan medali elektrum (campuran emas dan perak) 18 karat bersalut emas 24 karat, sertifikat, dan 8 juta kronor Swedia (setara Rp12 miliar).

Phillip Sharp, pemenang Hadiah Nobel Kedokteran 1993, pernah berkata: “Mungkin yang utama dari hadiah ini adalah kehormatan, tapi uangnya jelas bagian yang menyenangkan.”

Sesaat setelah menerima kabar kemenangannya pada pagi 28 Oktober 1954, penulis Amerika Serikat Ernest Hemingway berkata kepada istrinya, Mary Welsh, yang setengah tidur: "Aku terpikir untuk meminta mereka menyingkirkannya." Tapi, setelah diam sejenak, ia melanjutkan, "Anjing, hadiahnya 35 ribu dolar (setara Rp3,9 miliar hari ini). Orang bisa bersenang-senang sampai puas dengan 35 ribu dolar."

Sebaliknya, pada 1901, tahun pertama penganugerahan hadiah itu, Leo Tolstoy menulis kepada 42 orang penulis dan seniman Swedia yang kecewa (dan menyuratinya) karena Nobel Sastra diberikan kepada Sully Prudhomme.

Alih-alih mengiyakan ekspektasi para seniman itu, ia malah berkata: "Aku sangat senang mengetahui Hadiah Nobel tidak diberikan kepadaku. Dengan demikian hilanglah satu masalah besar, yakni cara menggunakan uangnya. Aku yakin uang itu ... hanya akan mengundang keburukan."

Yang jelas, andai Tolstoy memenangkan hadiah tersebut, ia takkan memakai uangnya untuk membeli tanah. Selain sudah memiliki Yasnaya Polyana, estat seluas 1600 hektar warisan kakeknya dari pihak ibu, ia adalah manusia zuhud yang pernah menulis cerita pendek tentang bahaya hasrat menumpuk harta.

Dalam cerita “Seberapa Banyak Tanah yang Diperlukan Manusia?” yang termahsyur itu, seorang petani bernama Pahom mendapat tawaran aneh dari suku berkuda. Hanya dengan seribu rubel, Pahom berhak membeli lahan sebanyak apa pun yang ia bisa kelilingi sejak pagi hingga petang. Hasilnya, meski berhasil kembali ke titik awal, Pahom akhirnya mati kelelahan dan dikuburkan di lahan sepanjang enam kaki saja.

Dan Hemingway tampaknya tak pernah bersenang-senang sampai puas dengan 35 ribu dolarnya. Ia pernah berkata kepada Carlos Baker, salah seorang penulis biografinya, bahwa ia bertekad membeli pesawat Cessna 180 jika memenangkan Hadiah Nobel. Tapi hidup membawanya ke arah lain. Sejak akhir 1955 hingga awal 1956, cidera liver memaksanya menghabiskan banyak waktu di tempat tidur.

Menjelang akhir 1956, dalam kunjungan ke Eropa, ia kembali dirawat karena tekanan darah tinggi, penyakit liver, dan aterosklerosis. Meski sanggup menulis sejumlah buku dan menyempurnakan memoarnya, A Moveable Feast, kesehatan Hemingway terus memburuk hingga ia menembak kepalanya sendiri pada 1961.

Tapi, tentu tidak semua demikian. Albert Camus (1957) membeli sebuah rumah yang nyaman di selatan Perancis—sayang, tiga tahun kemudian ia meninggal dunia dalam kecelakaan mobil. Penulis lakon Eugene O'Neill (1936) menggunakan uang Hadiah Nobel untuk membangun rumah bergaya Asia di California, dan novelis Austria Elfriede Jelinek (2004), kepada seorang wartawan televisi yang menanyakan apa makna Hadiah Nobel baginya, lempang saja menjawab: kemerdekaan finansial.



Samuel Beckett, peraih Nobel Sastra 1969, membagi-bagikan uang hadiah itu kepada sejumlah teman dekatnya, sedangkan Wole Soyinka (1986) dan Nadine Gordimer (1991), yang masing-masing berasal dari Nigeria dan Afrika Selatan, menghibahkan sebagian hadiah yang mereka terima buat kepentingan masyarakat.

Seandainya Roth atau Murakami memenangkan Nobel Sastra tahun ini, mungkin mereka bakal mengikuti jejak Soyinka dan Gordimer.

Roth telah menulis 31 novel dan sebagian besarnya laris. The Plot Against America (2004), misalnya, terjual sebanyak 412 ribu eksemplar. Sejak mengumumkan diri pensiun pada 2012, ia menjalani hidupnya yang berkecukupan dengan santai. Pada 2013, kepada The Guardian, ia mengaku kini saban pagi ia hanya “bangun tidur, minum segelas besar jus jeruk, dan membaca selama satu-setengah jam.”

Haruki Murakami jelas kaya-raya. Menurut Japan Times, seluruh buku Murakami telah terjual lebih dari satu juta eksemplar. Dan ia, berdasarkan sejumlah wawancara dan tulisannya tentang diri sendiri, adalah pria yang sederhana. Berbeda dari Hemingway yang senang bersafari ke Afrika atau memancing di laut dalam dengan kapal miliknya sendiri, kegemaran Murakami, maraton dan mendengarkan musik, sungguh hemat.

Tapi, jika mereka memutuskan untuk bersenang-senang dengan uang hadiah tersebut, beberapa pemenang Nobel dari bidang lain telah memberikan contoh-contoh yang ciamik.

Ahli biokimia dan biologi molekuler Richard Roberts mendirikan lapangan kroket (croquet) seluas 740 meter persegi di rumahnya. Pemenang Nobel Ekonomi 1985 Franco Modigliani mempercanggih laser-class yacht-nya. Dan Sir Paul Nurse, peraih nobel kedokteran 2001, menghadiahi dirinya sendiri sepeda motor Kawasaki GPZ. Ya, seperti yang dikendarai Tom Cruise dalam Top Gun.

Baca juga artikel terkait HADIAH NOBEL atau tulisan menarik lainnya Dea Anugrah
(tirto.id - Humaniora)

Reporter: Dea Anugrah
Penulis: Dea Anugrah
Editor: Maulida Sri Handayani