Berapa Persen Pajak THR 2021 dan Bagaimana Cara Menghitungnya?

Oleh: Yonada Nancy - 4 Mei 2021
Dibaca Normal 1 menit
Pajak THR akan dikenakan pada pegawai dengan penghasilan di atas Rp4.500.000 atau sekitar Rp54.000.000 per tahun.
tirto.id - Tunjangan Hari Raya (THR) merupakan salah satu pendapatan non upah yang didapatkan oleh pekerja atau buruh sebelum hari raya keagamaan. Tahun ini Menteri Tenaga Kerja (Menaker) Ida Fauziyah mewajibkan seluruh pelaku usaha untuk membayarkan THR secara penuh dan tepat waktu.

"THR wajib diberikan oleh pengusaha kepada pekerja/buruh, tujuh hari sebelum Hari Raya Keagamaan," tegas Ida seperti dalam rilis Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker).

Namun pembayaran THR pada dasarnya akan tetap dikenai pajak. Hal ini diatur dalam Peraturan Direktorat Jendral Pajak Nomor PER-16/PJ/2016 terkait pengenaan pajak penghasilan tidak teratur.

Disebutkan dalam pasal 1 poin 15 bahwa THR merupakan penghasilan
bagi pegawai tetap yang bersifat tidak teratur. Hal ini kemudian menjadikan THR masuk dalam kriteria pengenaan pajak pada pasal 5.

Pasal tersebut menyebutkan bahwa penghasilan yang dipotong PPh Pasal 21 dan/atau PPh Pasal 26 adalah penghasilan yang bersifat teratur maupun tidak teratur.

Apakah THR dipotong insentif pajak penghasilan COVID-19?

Pada Februari lalu pemerintah melalui Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mengeluarkan kebijakan insentif pajak penghasilan bagi pekerja yang terdampak COVID-19.

Kebijakan ini tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan (Menkeu) Nomor 9/PMK.03/2021. Disebutkan dalam Peraturan Menkeu bahwa penghasilan yang diterima oleh pegawai dengan kriteria tertentu pajaknya ditanggung oleh pemerintah.

Sayangnya, penghasilan yang dimaksud dalam Peraturan Menkeu tersebut tidak memuat soal THR. Hal ini menyebabkan wajib pajak tetap akan dikenakan pajak atas THR.

Berapa persen potongan pajak THR?



Pajak THR akan dikenakan pada pegawai dengan penghasilan di atas Rp4.500.000 atau sekitar Rp54.000.000 per tahun. Di bawah penghasilan tersebut THR tidak akan dikenai pajak. Pengenaan pajak THR menurut Ditjen Pajak diatur dalam Pajak Penghasilan (PPh) Pasal 21.

Perhitungannya adalah dengan terlebih dahulu menghitung PPh 21 terutang setahun. Kemudian dilanjutkan dengan menghitung PPH 21 terhadap THR. Perhitungannya melibatkan perhitungan penghasilan bruto, penghasilan netto, dan Penghasilan Kena Pajak (PKP).

Sebagai contoh, Tuan Tirto belum menikah dan bekerja di PT Adi. Ia mendapat upah Rp7.500.000 per bulan dengan THR sebesar gajinya. Lalu, berapa persen potongan pajak THR PPh 21 yang harus dibayarkan Pak Tirto?

1. Menghitung PPh 21 per bulan atas gaji:

Gaji : Rp7.500.000

Biaya Jabatan (Gaji x 5%) : Rp7.500.000 x 5% = Rp375.000

Penghasilan netto sebulan : Rp7.500.000 - Rp375.000 = Rp7.125.000

Penghasilan netto setahun : Rp7.125.000 x 12 = 85.500.000

2. Menghitung Penghasilan Kena Pajak (PKP)

PKP dihitung dengan mengurangi penghasilan netto per tahun dengan PTKP. Berdasarkan Peraturan Menkeu Nomor 101/PMK.010/2016 tarif PTKP untuk wajib pajak orang pribadi, sesuai dengan kriteria Tuan Tirto adalah Rp54.000.000, sehingga:

PKP: Rp85.500.000 - Rp54.000.000 = 31.500.000

3. Menghitung besaran pajak PPh 21 terutang:

PPh 21 terutang : 31.500.000 x 5% = Rp1.575.000/tahun

4. Menghitung THR:

THR dihitung dengan mengurangi PPh 21 terhadap THR dengan PPh 21
terutang sebelum kena pajak THR.

Penghasilan Bruto (Gaji setahun) : Rp7.500.000 x 12 =
Rp90.000.000

THR: Rp7.500.000

Penghasilan bruto: Rp90.000.000 + Rp7.500.000 = Rp97.500.000

Biaya jabatan (penghasilan bruto x 5%) : Rp97.500.000 x 5% = Rp4.875.000

Penghasilan netto setahun: Rp97.500.000 - Rp4.875.000 = Rp92.625.000

Penghasilan kena pajak (PKP): Rp92.625.000 - Rp54.000.000 (PTKP) = Rp38.625.000

PPh 21 terhadap THR: Rp38.625.000 x 5% = Rp1.931.250

Sehingga potongan THR yang harus dibayarkan oleh Tuan Tirto adalah sebagai berikut:

Rp1.931.250 - Rp1.575.000 = Rp356.250.


Baca juga artikel terkait THR 2021 atau tulisan menarik lainnya Yonada Nancy
(tirto.id - Sosial Budaya)

Kontributor: Yonada Nancy
Penulis: Yonada Nancy
Editor: Nur Hidayah Perwitasari
DarkLight