Benarkah Terjadi Resesi Ekonomi Sepanjang 2019?

Oleh: Nurul Qomariyah Pramisti - 27 Desember 2019
Dibaca Normal 2 menit
Ada yang secara teknikal mengalami resesi, ada yang bisa selamat. Namun, sebagian besar negara mengalami pelambatan ekonomi.
tirto.id - “Sudah banyak negara yang masuk pada posisi resesi. kami patut syukuri, masih berada di pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen. Jangan kufur nikmat.”

Pernyataan itu disampaikan Presiden Joko Widodo saat sambutan HUT ke-8 Partai Nasdem pada 11 November 2019.

Jokowi seolah menanggapi kritik pertumbuhan ekonomi Indonesia yang dinilai melenceng dari janji-janjinya saat kampanye. Jokowi saat kampanye pemilihan presiden enargetkan pertumbuhan ekonomi. Nyatanya, selama masa pemerintahannya, pertumbuhan ekonomi tak pernah beranjak pada angka 5 persen.

Terbaru, Badan Pusat Statistik mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III tahun 2019 pada kisaran 5,02 persen. Angka itu berarti melambat dibandingkan periode yang sama tahun lalu pada kisaran 5,17 persen.

“Ada pelambatan. Perekonomian global masih diliputi ketidakpastian. Tapi, [angka] 5,02 persen tidak terlalu curam ketimbang negara lain yang juga melambat,” kata Kepala BPS Suhariyanto dalam konferensi pers, 5 November 2019.

Sementara Bank Dunia pada medio Desember 2019 memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya berkisar pada angka 5 persen, lebih rendah dari proyeksi APBN 2019 pada angka 5,3 persen.

Dalam publikasi “Indonesia Economic Quarterly”, Bank Dunia menyebut ketidakpastian ekonomi global sebagai penyebab pelambatan ekonomi Indonesia. Menurut Bank Dunia, pertumbuhan investasi dalam tren pelemahan karena harga-harga komoditas turun.

Ancaman Resesi Global

Pertumbuhan ekonomi dunia memang tidak sehat. World Economic Outlook (WEO) yang dirilis IMF pada Oktober 2019 memperkirakan pertumbuhan ekonom global hanya akan tumbuh 3 persen. Ini merupakan pertumbuhan paling lambat setelah ekonomi global mengalami ekspansi usai terpapar krisis 2008.

IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi global sedikit membaik pada 2020 pada kisaran 3,4 persen. Namun, angka ini direvisi 0,2 persen poin dibandingkan proyeksi yang dirilis pada April 2019.

Unctad, Badan PBB yang mengurus perdagangan dan pembangunan, menyatakan tahun 2019 akan menjadi ekspansi terlemah dalam satu dekade.

Unctad memperkirakan pertumbuhan ekonomi global hanya 2,3 persen pada 2019; turun dari angka 3 persen pada 2018. Angka ini merupakan terendah sejak ekonomi global hanya tumbuh 1,7 persen pada 2009.

Unctad menyebut tekanan ekonomi global berasal dari perang dagang, gejolak mata uang, kemungkinan tidak tercapainya kesepakatan Brexit, hingga kebijakan suku bunga jangka panjang.

“Menteri keuangan dan Bank Sentral harus mengakhiri obsesi mereka pada harga-harga saham, laporan keuangan kuartalan dan keyakinan investor. Mereka harus fokus pada penciptaan lapangan kerja, meningkatkan upah dan mendorong investasi publik,” ujar Unctad, seperti dilansir The Guardian.


Mereka yang Terkena Resesi

Sebuah negara disebut mengalami resesi jika aktivitas ekonominya terus-menerus menurun, terutama dari lima indikator utama: PDB, pendapatan, tingkat pengangguran, pertumbuhan manufaktur, dan penjualan retail.

Umumnya, resesi ditandai pertumbuhan PDB yang negatif selama dua kuartal berturut-turut. Jika hal itu terjadi, negara ini secara teknis disebut mengalami resesi.

Pada 2019, negara-negara yang menghadapi pelambatan ekonomi hingga terjungkal atau nyaris masuk resesi, sebagian besar memiliki ketergantungan tinggi pada ekspor untuk menopang pertumbuhannya.

Misalnya, Singapura. Pada kuartal I, perekonomiannya hanya tumbuh 1,1 persen. Memasuki kuartal II, PDB-nya hanya tumbuh 0,1 persen. Namun, Singapura berhasil mempertahankan angka pertumbuhan 0,1 persen pada kuartal III. Secara teknis, Singapura berhasil lolos dari resesi.

Ekonom menyatakan Singapura memang tidak sampai mengalami resesi secara teknikal sehingga cukup melegakan dan memunculkan harapan perekonomian akan membaik pada kuartal III. Namun, kewaspadaan masih perlu diterapkan.

“Pasar sedikit lega sekarang karena perang dagang AS-Cina menggelinding mundur dan tidak mengalami eskalasi lebih lanjut, meski kami tidak yakin berapa lama situasi reda ini bakal bertahan,” ujar ekonom CIMB Private Banking, Song Seng Wun, seperti dilansir dari Strait Times.

Hal serupa terjadi pada Jerman. Pada kuartal II/2019, ekonomi Jerman minus 0,1 persen. Kuartal sebelumnya, Jerman mencatat pertumbuhan ekonomi 0,4 persen. Namun, Jerman berhasil lolos dari jerat resesi secara teknikal pada kuartal III, saat ekonominya berhasil tumbuh meski hanya 0,1 persen.

Ekonomi Jerman membaik berkat belanja rumah tangga dan pemerintah, yang menutupi pelemahan ekspor manufaktur yang menjadi andalannya selama ini.

Jika Singapura dan Jerman nyaris masuk ke jurang resesi, Meksiko kurang beruntung karena secara teknis sudah masuk ke resesi pada semester I-2019. Pada kuartal I dan II tahun 2019, ekonomi Meksiko minus 0,1 persen. Baru setelah kuartal III, ekonomi Meksiko bisa tumbuh tipis 0,1 persen.

Ekonomi Meksiko diperkirakan tidak akan tumbuh alias 0 persen pada 2019 setelah tumbuh 2 persen pada 2018. Kombinasi antara perubahan pemerintahan, pelemahan ekonomi global, dan perang dagang dengan AS berkontribusi pada pelemahan ekonomi Meksiko.

Sementara Jepang, meski secara teknikal tidak masuk resesi, pertumbuhan ekonominya melambat cukup signifikan dari 1,8 persen pada kuartal II menjadi hanya 0,2 persen pada kuartal III. Negara dengan perekonomian terbesar ketiga di dunia itu terpukul akibat perang dagang AS dan Cina serta melemahnya ekonomi global. Ekspor anjlok, ditambah melemahnya dolar telah memukul kinerja para eksportir Jepang.


Baca juga artikel terkait PERTUMBUHAN EKONOMI atau tulisan menarik lainnya Nurul Qomariyah Pramisti
(tirto.id - Ekonomi)

Penulis: Nurul Qomariyah Pramisti
Editor: Gilang Ramadhan
DarkLight