28 Agustus 1981

Bela Guttmann: Penyintas Holocaust dan Kutukan 100 Tahun Benfica

Ilustrasi Mozaik Bela Guttmann. tirto.id/Nauval
Oleh: Alfian Putra Abdi - 28 Agustus 2020
Dibaca Normal 3 menit
Dalam 40 tahun karier kepelatihan, Bela Guttmann berpindah klub sebanyak 25 kali dan tinggal di 14 negara.
Bela Guttmann sangat percaya diri. Ia meyakini kesuksesan klub sepakbola salah satunya pada regenerasi dan talenta muda. Ketika AC Milan melibas Triestina dengan skor telak 6-0 pada 21 Februari 1954, ia "menemukan" Cesare Maldini.

Saat itu Cesare muda masih menjadi pemain tim akademi Triestina. “Anak ini (Cesare) harus bermain untuk AC Milan dan aku yakin ia akan mau,” ujarnya dikutip dari acmilan.com.

Cesare bergabung dengan Milan di usia 22 tahun. Ia menjelma legenda dengan meraih 4 gelar liga Serie A dan 1 Piala Champions Eropa. Sementara Guttmann hanya bertahan dua musim (1953-1954), usai perseteruan berujung pemecatan dengan pemilik klub. Padahal Milan sedang berada di puncak klasemen.

Sejak saat itu, Guttmann berseru pada setiap klub yang dipimpinnya, tidak boleh ada pemecatan saat klub berada di puncak klasemen.

Guttmann juga berpengaruh dalam karier pemain kelahiran Mozambik, Eusebio da Silva Ferreira. Momentum ini menunjukkan sikap Guttmann yang tak hanya percaya diri, tetapi juga ambisius.

Pada 1960, Guttmann tak sengaja bertemu Jose Carlos Bauer di sebuah tempat cukur rambut di Lisbon. Ketika itu Guttmann sedang memimpin Benfica dan berencana merombak total skuadnya. Sementara Bauer bersama klub asuhannya, Ferroviaria, sedang menjalani tur dan berencana menuju Afrika.

“Saya bilang ke Bauer, ‘dengarkan saya, pak tua, jika kamu melihat pemain berbakat, seseorang yang lahir di Portugal, ingatlah namanya’,” kenang Guttmann dilansir dari The Guardian.

Sebulan kemudian, mereka bertemu kembali di tempat yang sama. Bauer menyebut nama penyerang muda berbakat klub Sporting de Lourenco Marques, Eusebio namanya. Guttmann tertarik dengan sosok penyerang berusia 18 tahun tersebut. Namun rival Benfica, Sporting Lisbon, sudah membidik Eusebio lebih dulu.

Guttmann tak mau kalah. Mengandalkan jejaring, ia bermanuver menikung Sporting hingga berhasil membawa Eusebio ke Benfica. Bahkan Guttmann harus menyembunyikan Eusebio dari radar Sporting selama 12 hari di Lagos dan Algarve. Guttmann “mengirim tiga pengawal,” karena “Eusebio tidak bisa dibiarkan sendiri, bahkan untuk satu menit, ia hanya bisa menetap di Benfica.”

“Dengan mengontrak Eusebio. Saya bisa menempatkan Mario Coluna sebagai wing-half ketimbang inside-forward. Awalnya ia tidak suka karena tidak bisa mencetak banyak angka. Tapi kemudian ia menjadi pemain terbaik saya,” ujar Guttmann sebagaimana dituturkan Jonathan Wilson.

Ketika Guttmann membawa Benfica menjuarai Piala Champions 1961 usai menaklukkan Barcelona, Eusebio belum dilibatkan. Sehari kemudian, Eusebio memulai debutnya dalam pertandingan Taca de Portugal melawan Victoria de Setubai.

Pada 1962, Guttmann dan Eusebio berjibaku meraih kembali Piala Champions setelah menaklukkan Real Madrid dengan skor 5-2. Benfica tidak hanya menang, tapi menghentikan dominasi lima tahun Real Madrid dalam kompetisi itu. Eusebio menyumbang dua gol dalam waktu berdekatan, menit 65’ dan 68’. Eusebio mengamini ucapan o menino é ouro (anak itu emas) yang sempat diucapkan Guttmann kepada asisten Fernando Caiado dalam sebuah sesi latihan.

Usai menjadi juara Eropa untuk kedua kalinya, Guttmann menemui presiden Benfica, Antonio Carlos Cabral Fezas Vital. Ia meminta kenaikan gaji dengan alasan telah mempersembahkan banyak trofi: dua Piala Liga Utama Portugal, satu Piala Portugal, dan dua Piala Champions untuk Benfica. Namun Fezas Vital menolak permintaan tersebut.

Guttmann yang kecewa memilih mengundurkan diri. Ia sesumbar bahwa “Benfica tidak akan pernah menjuarai Eropa dalam seratus tahun ke depan dari sekarang.” Ucapan yang kemudian menjadi mitos sebagai “Kutukan Guttmann”.

Penyintas Holocaust

Guttmann lahir pada 27 Januari 1899 di Budapest, Hungaria, sebagai seorang Yahudi. Kariernya sebagai pemain terbilang biasa saja. Ia tak pernah bermain untuk klub ternama Eropa. Namun karier kepelatihannya justru gemilang. Ia memberikan piala tidak hanya untuk Benfica, tetapi juga untuk Ujipest FC, Sao Paulo, Porto, dan Penarol. Ia tak pernah melatih klub lebih dari dua musim. “Musim ketiga itu fatal,” ucapnya.

Kunci kesuksesan Guttmann terletak pada filosofi permainan menyerang. Dengan formasi 4-2-4, ia menuntut setiap pemain untuk tidak asik sendiri dan cekatan dalam mengoper bola. Slogan yang kemudian ia sebut ‘pingpang-pong’ and ‘ta-ta-ta’.

Sebagai pelatih, ia juga menyumbang metode tata kelola pemain. Guttmann tidak akan membiarkan tim inti sebuah klub bertahan selama tiga tahun. Harus ada talenta baru bermunculan demi penyegaran.

David Bolchover, penulis buku biografi Guttmann The Greatest Comeback: From Genocide To Football Glory (2017), mengatakan tidak ada pelatih Yahudi yang mendekati prestasi Guttmann, baik sebelum maupun sesudahnya.

“Hal yang sulit dibantah, tidak ada pelatih Yahudi lainnya yang memenangkan Piala Eropa (sekarang Piala Champions). Guttmann memenangkannya dua kali,” ujar Bolchover dikutip dari The Times of Israel.

Guttmann merupakan penyintas holocaust di Budapest. Ketika Nazi membunuh sekitar 20.000 orang Yahudi Hungaria pada Desember 1944 hingga Januari 1945, Guttmann selamat setelah bersembunyi di sebuah loteng, tak jauh dari ghetto ribuan orang Yahudi.

Namun menurut Bolchover, Guttmann sempat ditahan di kamp kerja paksa Jerman pada akhir 1944, sebelum kemudian “melarikan diri dengan melompat dari jendela” karena tak sudi dikirim ke kamp genosida Auschwitz.

Tak mudah tumbuh sebagai seorang Yahudi di tengah masyarakat Eropa yang anti-semitisme ketika itu. Perjalanan Guttmann lekat dengan diskriminasi dan rasisme, namun hal itu tidak menghentikan karier sepakbolanya.

Jauh sebelum Perang Dunia II, pemerintah Hungaria yang anti-semitisme membuat Guttmann meninggalkan klub MTK Hungaria untuk kabur ke Wina, Austria, pada 1922. Ia bergabung dengan Hakoah Wien, klub dengan mayoritas orang Yahudi. Gelombang anti-semit membuat klub-klub tidak menerima orang Yahudi, sehingga pilihannya membuat klub untuk komunitas sendiri.




Beberapa tahun kemudian, Guttmann kembali melarikan diri ke Amerika Serikat akibat buntut tensi politik Eropa yang memanas. Selama di sana ia bermain untuk Brooklyn Wanderers, New York Giants, New York Hakoah, dan New York Soccer Club.

Guttmann juga mendapatkan perlakuan rasisme ketika menangani tim nasional Austria pada 1964. Sentimen anti-semit pasca perang di sana membuat asosiasi, pers, bahkan timnya sendiri menuduh Guttmann sebagai “Rabi Ajaib”.

Hebatnya, Guttmann tak henti oleh gerakan anti-semit. Ia terus bergerak, berpindah-pindah klub sebanyak 25 kali dalam 40 tahun karier kepelatihan. Langkahnya melintasi banyak negara dan benua. Bolchover menyebut hidup Guttmann sebagai “cerminan kisah Yahudi abad ke-20.”

“Tidak ada [orang Yahudi dalam sepakbola] yang bergerak seperti Guttmann. Ia pindah lebih dari 21 kali, tinggal di 14 negara. Ia orang pertama yang membuat karier pelatih sepakbola bernilai di masyarakat,” tambah Bolchover.

Meskipun karier kepelatihan Guttmann gemilang, namun Hungaria tidak mengakui namanya hanya karena ia seorang Yahudi. Menurut Bolchover, gerakan “anti-semitisme masih sangat kuat di Hungaria saat ini. Itu sebabnya Guttmann tidak dianggap penting di seluruh Hungaria. Termasuk di dunia.”

Sementara di Benfica, patung Guttmann diresmikan dalam rangka merayakan hari jadi klub yang ke-110 tahun pada 2014. Karya pematung Hungaria, Laszlo Szatmari Juhos menampilkan sosok Guttmann membopong dua Piala Champions. Patung itu terpajang di Pintu 18 Estadio da Luz.

Ketika usianya 75 tahun, selepas mengakhiri kepemimpinan di klub terakhir Porto, Guttmann membeli sebuah apartemen tak jauh dari gedung opera di Walfichgasse, Wina, Austria. Ia menghabiskan masa tua dengan menikmati wiener melange di sebuah kafe. Pada 28 Agustus 1981, tepat hari ini 39 tahun lalu, Guttmann meninggal dunia.

Baca juga artikel terkait SEPAKBOLA atau tulisan menarik lainnya Alfian Putra Abdi
(tirto.id - Olahraga)

Penulis: Alfian Putra Abdi
Editor: Irfan Teguh
DarkLight