Periksa Data

Banjir Datang Lebih Cepat di Jakarta

Penulis: Irma Garnesia, tirto.id - 14 Okt 2022 15:00 WIB
Dibaca Normal 4 menit
Banjir di Oktober 2022 terjadi lebih cepat dan luas di Jakarta jika dibandingkan dengan Oktober 2021 dan Oktober 2020.
tirto.id - Dengan sisa energi pada jam pulang kerja, Naufal, 26 tahun, mengendarai motor untuk pulang ke kos-kosannya. Namun, pada 6 Oktober, perjalanan pulang dari kantornya yang berlokasi di Ciledug ke kos-kosannya di Mampang Prapatan sedikit berbeda.

Hujan deras dengan durasi panjang membuat genangan banjir muncul di sejumlah wilayah di DKI Jakarta, termasuk jalur pulang yang biasa ditempuh Naufal. Waktu perjalanan yang semestinya hanya satu jam molor menjadi tiga jam karena ia mesti menghindari banjir dan macet di sejumlah titik.

“Iya nih macet banget dari Ciledug ke Mampang, kalau lancar biasanya cuma sejam. Tapi tadi sampai tiga jam lebih. Gila deh, parah banget!” tutur Naufal kepada Tirto melalui pesan suara (13/10/2022).

Awal Oktober ini Jakarta terus diguyur hujan. Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) sebelumnya menyatakan potensi curah hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang dapat disertai kilat atau petir dan angin kencang pada periode 2 hingga 8 Oktober 2022 di wilayah DKI Jakarta. Himbauan potensi cuaca ekstrem ini pun masih berlanjut pada 9 hingga 15 Oktober 2022 di Jakarta dan hampir seluruh provinsi di Indonesia.

Banjir akibat hujan lebat tentulah bukan hal baru di Jakarta. Menurut laporan Tirto, setidaknya ada lima banjir besar dalam sejarah DKI Jakarta, yakni pada 2002, 2007, 2013 dan 2014. Jika melihat dari dampak yang ditimbulkan seperti korban meninggal dunia, sebaran titik banjir hingga jumlah pengungsi, maka dapat disebut tahun 2007 menjadi banjir terparah.

Hal ini juga dikonfirmasi oleh data dari pemerintah Provinsi DKI Jakarta sendiri.


Waktu itu, korban meninggal di DKI Jakarta berjumlah 48 orang dan kelurahan terdampak pada banjir berjumlah 199 kelurahan. Bencana banjir tersebut terhitung dari 2 hingga 12 Februari 2007.

Namun, banjir pada bulan Oktober ini tidak bisa dianggap sepele. Situs Pantau Banjir Jakarta telah merekam kejadian banjir sejak 3 Oktober hingga 7 Oktober, meski titik banjir yang terekam bisa berbeda-beda tergantung intensitas curah hujan pada suatu wilayah.

Misalnya pada 3 Oktober pukul 9 malam, situs Pantau Banjir Jakarta mencatat 14 RT terdampak banjir dari 30.385 RT di Jakarta. Pada hari yang sama, banjir terjadi di Kelurahan Pela Mampang dan Petogogan dengan tinggi genangan sekitar 30 hingga 60 cm.

Kemudian banjir semakin meluas hingga puncaknya pada 6 Oktober pukul 9 malam. Situs Pantau Banjir Jakarta mencatat 243 RT atau sebanyak 14 kelurahan terdampak. Menurut pemantauan itu pula, luas RT terdampak banjir hingga 5,06 km persegi dari 661,5 km persegi luas DKI Jakarta.

Banjir pada 6 Oktober juga memakan korban jiwa. Sebanyak tiga orang siswa tewas akibat tertimpa tembok sekolah mereka di Madrasah Tsanawiyah Negeri (MTsN) 19 di Pondok Labu, Jakarta Selatan. Seperti dilaporkan Kompas, kali terakhir banjir Jakarta memakan korban jiwa adalah pada Februari 2021, tercatat lima korban jiwa.

Adapun tembok yang roboh ialah tembok pembatas bangunan MTsN 19 dengan Jalan Pinang Kalijati, di Pondok Labu, Cilandak, Jakarta Selatan. Robohnya tembok sekolah terjadi pada pukul 14.30 WIB, bersamaan dengan hujan deras.

Musim Hujan Datang Lebih Cepat

Musim hujan pada tahun ini memang datang lebih cepat. Seperti dipaparkan BMKG pada siaran pers pada 22 Agustus, dari total 699 zona musim (zom) di Indonesia, sebanyak 114 zom diperkirakan mengawali musim hujan pada September 2022. Memang lebih cepat dari musim hujan yang biasanya dimulai pada bulan Oktober.

BMKG juga menyatakan bahwa jika dibandingkan dengan awal musim hujan periode 1991 hingga 2020, maka musim hujan pada tahun ini diperkirakan maju pada 325 zom. Pada Agustus misalnya, terdapat 60 zom yang sudah mengalami musim hujan seperti Riau bagian selatan, sebagian Sumatera Selatan, Bengkulu bagian selatan, Jawa Barat bagian selatan, Kalimantan Barat bagian selatan, dan beberapa daerah lainnya.

Banjir Jakarta yang terjadi di bulan Oktober ini terbilang lebih cepat dan berdampak ke cakupan daerah yang lebih luas jika dibandingkan dengan kejadian banjir dalam dua tahun ke belakang. Tim Riset Tirto berusaha membandingkan dampak banjir pada Oktober 2022 dengan banjir pada Oktober 2021 dan 2020.

Seperti diketahui sebelumnya, melalui situs Pantau Banjir Jakarta, banjir pada 6 Oktober 2022 berdampak pada 243 RT yang tersebar di 14 kelurahan, yakni Cilandak Timur, Cipete Utara, Duren Tiga, Jatipadang, Kalibata, Kuningan Barat, Pancoran, Pejaten Barat, Pela Mampang, Petogogan, Pondok Labu, Pondok Pinang, Ragunan, Tebet Barat, dan Tegal Parang.

Dari data, bisa dibilang daerah Jakarta Selatan paling terdampak pada Oktober tahun ini.

Kemudian, pada Oktober 2021, banjir dengan dampak paling parah terjadi pada 29 Oktober pada pukul 6 pagi. Kejadian ini berdampak pada 32 RT di 5 kelurahan, yakni Bidara Cina, Cawang, Kampung Melayu, dan Kebon Baru. Pada 2021 sendiri, banjir baru terjadi di akhir Oktober, yakni pada 29 hingga 31 Oktober menurut situs Pantau Banjir Jakarta.

Lalu pada 2020, situs Pantau Banjir Jakarta tidak memuat informasi banjir pada tahun tersebut. Kami pun menelusuri banjir dengan dampak terparah pada Oktober 2020 dan menemukan bahwa banjir menggenangi sejumlah kawasan di Jakarta pada 25 Oktober 2020. Saat itu, ada 72 RT di 11 kelurahan yang terletak di Jakarta Selatan dan Jakarta Timur yang terdampak.

Dalam tiga tahun, memang ada beberapa wilayah yang langganan banjir. Misalnya Kelurahan Bidara Cina, Cawang, Kampung Melayu, dan Kebon Baru yang terkena banjir pada 2020 dan 2021 dan juga Kelurahan Pondok Pinang yang terdampak banjir pada 2020 dan 2022.

Namun, terlepas dari musim hujan yang datang lebih cepat dan cuaca ekstrem, permasalahan banjir di Jakarta adalah urusan kompleks. Laporan Tirto terkait banjir Jabodetabek 2020 misalnya berusaha mengurai beberapa faktor penyebab bencana ini. Dari laporan yang sama, diketahui bahwa tidak ada faktor tunggal penyebab banjir.

Masalah pertama adalah minimnya resapan air di selatan Jakarta atau bagian hulu. Daerah hulu merupakan tempat efektif untuk menyerap air permukaan (surface run off) yang diakibatkan curah hujan yang tinggi. Hal ini lantaran muka air tanah masih sekitar ratusan meter dari permukaan sehingga penyerapan bisa maksimal.

Faktor kedua adalah drainase yang buruk di hilir. Secara geografis, Jakarta berada di bidang datar. Akan sulit jika hanya bergantung pada sistem kanal yang mengandalkan gravitasi. Di sisi lain, Jakarta hampir tidak ada ruang terbuka biru (RTB) atau tempat parkir air sebelum dialirkan ke laut.

Ada pula fenomena penurunan tanah atau land subsidence yang tersebar di hampir semua wilayah DKI Jakarta yang tentu memperburuk banjir.

Eks Gubernur Jakarta Anies Baswedan sempat menyebut bahwa banjir di Jakarta adalah kiriman dari daerah lain dan menyebut bahwa dampak banjir ke Jakarta bukan masalah utama kota.

Namun, perlu diingat bahwa banjir terjadi nyaris setiap tahun di Jakarta dan ini adalah masalah yang belum bisa dipecahkan hingga saat ini.

Potensi Banjir di Bulan Oktober

BMKG juga memperkirakan potensi banjir di berbagai daerah seluruh Indonesia, termasuk Jakarta. Melalui peta, kami coba memvisualisasikan daerah-daerah dengan potensi banjir rendah dan menengah. Rata-rata daerah Jakarta Barat, Jakarta Pusat, dan Jakarta Utara memiliki potensi banjir yang rendah di bulan Oktober. Namun, Jakarta Timur dan Jakarta Selatan memiliki potensi banjir rendah dan menengah, kecuali Kelurahan Jatipadang yang potensi banjirnya rendah.

Hal ini tentunya perlu diwaspadai sebab Jakarta Timur merupakan kawasan padat penduduk menurut Badan Pusat Statistik (BPS).

Selanjutnya, untuk menghadapi musim hujan dan potensi banjir, BMKG merekomendasikan persiapan yang dilakukan berbagai pihak, termasuk memastikan kapasitas infrastruktur dan sistem tata kelola sumber daya air siap untuk mengantisipasi peningkatan curah hujan.

Kemudian, BMKG juga merekomendasikan bagi masyarakat untuk melakukan penataan lingkungan dengan tidak membuang sampah sembarangan dan tidak melakukan pemotongan lereng atau penebangan pohon yang tidak terkontrol serta melakukan program penghijauan secara lebih masif. Selain itu, perlu pula dilakukan pemangkasan dahan dan ranting pohon yang rapuh serta menguatkan tegakan/tiang agar tidak roboh tertiup angin kencang.

Masyarakat juga bisa terus memonitor informasi perkembangan cuaca dan peringatan dini cuaca ekstrem dari BMKG, secara lebih rinci dan detail untuk tiap kecamatan di seluruh wilayah Indonesia.

Baca juga artikel terkait PERIKSA DATA atau tulisan menarik lainnya Irma Garnesia
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Irma Garnesia
Editor: Farida Susanty

DarkLight