8 Oktober 1979

Bambang Irawan: Mantan Kiper Berani Beradegan "Panas" demi Keluarga

Bambang Irawan. tirto.id/Deadnauval
Oleh: Indira Ardanareswari - 8 Oktober 2019
Dibaca Normal 4 menit
Bambang Irawan lebih memilih menjadi aktor pajangan yang penting menghasilkan uang, ketimbang berusaha menjadi aktor terbaik.
tirto.id - Pada 4 Oktober 1979, TVRI menyiarkan sandiwara televisi berjudul Lampu-Lampu. Acara ini disponsori oleh Perusahaan Listrik Negara (PLN) dengan menampilkan aktor film Bambang Irawan. Nama aktor ini melejit berkat perannya dalam film-film aksi yang dipadukan dengan unsur seks di awal tahun 1970-an.

Sebagai aktor kawakan yang sudah mengecap asam garam dunia perfilman sejak tahun 1950-an, bukan kebiasaan Bambang muncul di televisi. Menurut sang istri, Arziadahar alias Ade Irawan, Lampu-Lampu merupakan program televisi pertama sang suami sepanjang kariernya di dunia film.

“Saya heran sama dia, tawaran main film yang mahal-mahal tak diterimanya, tetapi justru menerima tawaran tivi yang honornya cuma sepuluh ribu itu,” kata Ade seperti dikutip surat kabar Merdeka (9/10/1979).

Di pengujung 1970-an keluarga Bambang sedang apes. Rumah mewah keluarganya yang ia bangun dengan susah payah dilelang oleh Departemen Keuangan. Selain itu, perusahaan film Bambang pun menjadi salah satu dari 11 perusahaan film yang dinyatakan pailit karena tidak mampu melunasi utang produksi perfilman.

Meski penampilannya di televisi tidak menghasilkan banyak uang, tapi Bambang begitu antusias menyaksikan permainannya dari layar cembung. Saking gembiranya, Bambang memastikan bahwa istri dan kelima anaknya dapat menonton siaran itu bersama-sama di sebuah pondokan sederhana di daerah Grogol.

Kemunculan pertama Bambang di televisi sekaligus menjadi penampilannya yang terakhir. Keesokan harinya, Bambang harus dilarikan ke rumah sakit Pelni Jati Petamburan karena penyakit lever yang ia diderita sejak tiga tahun terakhir kembali kambuh.

Tiga hari berselang, kondisi Bambang semakin gawat. Setelah lebih dari 50 jam tidak sadarkan diri, Bambang akhirnya menyerah. Pada 8 Oktober 1979, tepat hari ini 40 tahun lalu, Bambang Irawan mengembuskan napas terakhir di usianya yang masih sangat produktif, yakni 47 tahun.


Penjaga Gawang yang Bercita-cita Jadi Sutradara

Bambang Irawan lahir di Kendal, Jawa Tengah, pada 5 Februari 1932. Keluarganya tidak berlatarbelakang seni, sehingga Bambang sangat jauh dari perfilman yang kemudian justru membesarkan namanya.

Saat masih tinggal di Semarang, ia sangat suka bermain bola. Bambang dikenal sebagai penjaga gawang paling andal di daerahnya. Namanya sebagai kiper terkenal di seantero kota, hingga ia sering dipanggil ke mana-mana untuk turut dalam perbagai pertandingan dengan sejumlah upah.

Meski demikian, ia tidak melanjutkan kariernya sebagai kiper. Menurut Bambang dalam sebuah wawancara dengan Sinar Harapan (15/7/1972), penghasilan pemain sepak bola di zaman itu tidak bisa memenuhi kebutuhan keluarga.

“Mungkin kalau diteruskan saya bisa seperti Judo Hadianto (salah satu kiper legendaris Indonesia tahun 1960-an),” ucapnya.

Keinginan untuk mencukupi kebutuhan keluarga membuat ia mencoba peruntungan dengan melamar menjadi kru film. Sekitar tahun 1954, Bambang bertugas membantu bagian penata suara.

Di saat yang sama, kerabat kerja pembuatan film yang diikutinya akan mengadakan perjalanan ke Bali untuk syuting film Manusia Sutji, yang berkisah tentang kehidupan gerilyawan selama perang revolusi. Perawakan Bambang yang tegap mendapat sorotan dari sutradara Alam Surawidjaja. Ia kemudian diajak mengisi peran figuran sebagai gerilyawan.

Setelah itu, sutradara Usmar Ismail yang dikenal kerap mengorbitkan pemain-pemain baru tertarik pada sosok Bambang. Ia pun teken kontrak dengan Perfini (Persatuan Film Nasional Indonesia) untuk periode lima tahun (1955-1960). Ia tercatat pernah menjadi lawan main Chitra Dewi, Aminah Cendrakasih, dan Indriati Iskak dalam film Tiga Dara (1956).

Dalam wawancara dengan Tempo (10/6/1978), ia mengaku banyak belajar dari Usmar Ismail. Setelah kontrak dengan Perfini usai, ia memutuskan tidak ingin hanya berhenti sebagai pemain film, tetapi juga harus bisa berproduksi sebagai produser dan sutradara.

“Saya belajar tentang film di Perfini dan saya selalu berangan-angan: kapan ya saya bisa bikin film kayak Usmar Ismail?” ujarnya.


Untung dari Film Seks

Periode 1960-an merupakan tahun-tahun yang sulit bagi perfilman tanah air. Sikap permusuhan orang-orang Kiri terhadap produk perfilman asing justru membuat produksi film Indonesia ikut kembang kempis.

Namun, kondisi itu seolah tidak berpengaruh terhadap Bambang. Ia dengan percaya diri mendirikan perusahaan film dengan nama Arena Gotong Royong Artis Film atau disingkat Agora Film.

Perusahaan film ini ia rintis pada 1963 bersama aktor Hardjo Muljo dan Pitrajaya Burnama. Agora Film menjadi motor produksi film-film Bambang sampai tahun 1975. Menurut laporan Pikiran Rakyat (9/10/1979), dari 100 film lebih yang ia ikuti sebagai pemain, 20 di antaranya merupakan produksi Agora.

Setelah lepas dari masa sulit, pemerintah memberlakukan kebijakan kredit film bagi produser Indonesia melalui dana SK 71. Program yang berlaku sejak tahun 1967 ini berhasil meningkatkan kuantitas film Indonesia. Pemerintah membiayai bidang produksi film menggunakan uang yang dihimpun dari pajak film impor. Bambang menjadi satu dari sekian produser film yang kecipratan dana pinjaman.

Uang pinjaman itu ia gunakan untuk memproduksi film yang berhasil membuat namanya kembali meledak di pasaran. Pada tahun 1970, untuk pertama kalinya ia menjajal produksi sekaligus bermain dalam film dengan unsur seks berjudul Hidup, Tjinta dan Air Mata.

Menurut data yang dihimpun Salim Said dalam Profil Dunia Film Indonesia (1982: hlm. 84), selang beberapa bulan setelah diedarkan, film pertama buatan Bambang itu ditonton tidak kurang dari 83 ribu orang di Jakarta.

“Tiga puluh hari setelah film ini beredar, kredit SK 71 sudah bisa lunas. Apa ini tidak hebat. Modal 15 juta bisa kembali 60 juta,” kata Bambang girang.

Keberhasilan itu membuat nyalinya untuk membuat film serupa semakin besar. Pada tahun berikutnya, secara berturut-turut ia memproduksi dua film yang banyak adegan seks berjudul Di Balik Pintu Dosa dan Insan Kesepian.

Kendati sukses di pasaran, kedua film tersebut--begitu juga dengan film sebelumnya--mendapat sorotan pers karena dianggap memperparah gejala seks dalam film Indonesia. Akibatnya, pada pertengahan 1971 Bambang terkena teguran Departemen Penerangan dan harus menghadap Badan Sensor Film.

Seniman film sohor seperti Asrul Sani merasa jengkel terhadap permainan unsur seks dalam film-film Bambang. Menurut Asrul, dari sekian produser dan sutradara film, Bambang paling suka mencari-cari alasan agar bisa menjejalkan unsur seks dalam filmnya.

“Unsur-unsur erotic memang sudah ada dalam kehidupan masyarakat, tetapi yang penting adegan-adegan erotic jangan ditempelkan dalam film, atau jangan dicari-cari seperti yang sering ada dalam film produksinya Bambang Irawan,” kata Asrul seperti dilansir majalah Ekspres (13/12/1971).

Bambang akhirnya tunduk pada gunting sensor. Sejak 1972, warna film produksi Agora menjadi lebih jinak. Agora mulai menjauhi unsur-unsur seks dan lebih banyak menjual kisah aksi dan adegan perkelahian. Salah satunya adalah aksi para jagoan di tengah kehidupan keras Kota Jakarta seperti dalam film Hanya Satu Djalan.

Menurut penuturan Bambang dalam surat tertanggal 13 April 1971 kepada Direktur Direktorat Film Departemen Penerangan, langkah ini diambil agar Agora dapat memenuhi tri-fungsi perfilman, yakni sebagai hiburan, pendidikan, dan penerangan.

“Kami tetap akan mengolah film ini tidak semata-mata mengeksploitir segi-segi sex dan sadisme, dan kami akan berusaha mendidik masyarakat dengan jalan film tersebut,” tulisnya.



Memilih Jadi Pemain Pajangan

Keberanian Bambang dalam meramu adegan seks boleh jadi terobosan di zaman itu. Sebagaimana pesannya kepada ketiga anaknya: “Apa kata sutradara harus dituruti, sekalipun harus melakukan adegan cium.” Baginya, perkara membuka busana hanya sebagian proses yang harus dilalui demi kesuksesan komersial sebuah film.

Di antara aktor Indonesia periode 1960-an dan 1970-an, Bambang tergolong unik. Ia berulang kali menolak disejajarkan dengan aktor-aktor terbaik dalam penobatan aktor-aktris terbaik yang diselenggarakan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) sejak tahun 1970.

“Andaikata yang keluar sebagai The Best Actor adalah saya, maka mau tak mau saya harus menuduh wartawan-wartawan film yang menjadi juri adalah wartawan goblok atau wartawan yang kena sogok,” ujarnya seperti dilansir Purnama (9/5/1971).

Bambang merasa dirinya hanya aktor pajangan. Menurutnya, ia lebih baik mencari uang ketimbang berusaha menjadi aktor terbaik. Pernyataannya itu membuat ia sering dijuluki aktor yang suka berbisnis.

“Meski harapan [menjadi aktor terbaik] ada, tapi rasanya tak mungkin. Sebab saya lebih memikirkan bagaimana film produksi saya bisa menjadi duit […] Saya adalah pemain film yang cuma jadi pajangan saja,” ungkapnya sebagaimana dilansir Purnama (13/6/1971).

Kegigihannya memperjuangkan kesejahteraan keluarga tidak berakhir seperti yang ia idamkan. Bisnis film keluarga Irawan kian merosot begitu memasuki pertengahan periode 1970-an. Penyakit lever yang diidapnya selalu menjadi penghalang dalam setiap langkah bisnis Agora. Selain itu, persaingan perfilman Indonesia yang kian keras membuat Agora Film tidak kuat bersaing.

Sejak 1976, Agora secara resmi berhenti berproduksi. Film terakhirnya merupakan film anak-anak berjudul Seribu Kenangan dan Fadjar Menjingsing yang dimainkan oleh istri dan tiga anaknya: Dewi Irawan, Adi Irawan, dan Ria Irawan. Dan pada 1978, Agora Film dinyatakan gulung tikar.

“Barangkali saya kualat dengan Hidup, Tjinta dan Air Mata,” katanya berseloroh.

Baca juga artikel terkait FILM INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Indira Ardanareswari
(tirto.id - Film)

Penulis: Indira Ardanareswari
Editor: Irfan Teguh
DarkLight