Bahaya Silent Carrier Corona, Pasien dengan COVID-19 Tanpa Gejala

Oleh: Dinda Silviana Dewi - 29 Maret 2020
Dibaca Normal 2 menit
Jumlah silent carrier virus corona di Cina mencapai 30 persen.
tirto.id - Silent carrier atau penderita COVID-19 tanpa gejala mungkin menjadi salah satu penyebab virus sulit dikendalikan. Dengan tidak adanya gejala, seseorang dapat merasa sehat dan masih beraktivitas seperti biasa. Namun, ia dapat menularkan penyaki t pada orang lain dan virus menyebar tanpa dapat dikendalikan.

Dilansir South China Morning Post, informasi yang dikeluarkan oleh pemerintah Cina menunjukkan, jumlah silent carrier virus corona mencapai 30 persen. Data ini telah dikonfirmasi para peneliti Jepang, yang dipimpin oleh Hiroshi Nishiura, seorang ahli epidemiologi di Universitas Hokkaido.

Di antara pasien Jepang yang dievakuasi dari Wuhan di mana wabah bermula, sebanyak 30,8 persen penderita COVID-19 tidak menunjukkan gejala.

Namun, dalam sebuah surat kepada International Journal of Infectious Diseases, para ahli Jepang mengatakan terdapat celah antara laporan data Cina dan perkiraan. Hal ini didasarkan pada kasus yang didiagnosis di luar wilayah Cina yang menunjukkan sejumlah besar kasus kurang terdiagnosis.

Di sisi lain, DW melaporkan jumlah penderita coronavirus tanpa gejala sangat kontras dengan perkiraan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang menunjukkan penularan virus melalui pasien tanpa gejala jarang terjadi. Data WHO menunjukkan infeksi tanpa gejala di Uni Eropa adalah satu hingga tiga persen.

Lebih lanjut, penelitian yang menggunakan data dari Provinsi Hubei, Cina memperkirakan ada 37.400 kasus tanpa gejala selain 26.000 kasus yang telah dikonfirmasi pada awal Maret.

“Menurut perkiraan kami yang paling konservatif, setidaknya 59 persen dari orang yang terinfeksi keluar dan masuk tanpa diuji dan berpotensi menulari orang lain,” kata Wu Tangchun, pakar kesehatan masyarakat di Universitas Sains dan Teknologi Huazhong di Wuhan, yang memimpin penelitian dilansir dari World Economic Forum.

"Ini mungkin menjelaskan mengapa virus menyebar begitu cepat di Hubei dan sekarang beredar di seluruh dunia," lanjutnya. Studi lain dari 700 anak sekolah yang terinfeksi di Cina menemukan bahwa 58 persen memiliki gejala ringan bahkan tidak ada.

Sementara, penelitian dalam New England Journal of Medicine menelusuri infeksi COVID-19 yang dihasilkan dari pertemuan bisnis di Jerman yang dihadiri oleh seseorang yang terinfeksi tetapi tidak menunjukkan gejala pada saat itu. Empat orang akhirnya terinfeksi dari kontak tunggal itu.

Karantina Diri di Rumah dan Social Distancing


Dengan adanya data-data dari hasil penelitian tersebut, direkomendasikan untuk melakukan karantina diri dengan tetap di rumah dan social distancing. Dengan melakukan hal tersebut, diharapkan dapat memperlampat tingkat infeksi virus COVID-19, pandemi global saat ini.

"Menerapkan langkah-langkah sosial yang menjauhkan adalah satu-satunya cara untuk menghentikan penyebaran virus," Profesor Gerardo Chowell, seorang ahli epidemiologi matematika di Georgia State University di Atlanta, mengatakan kepada Nature.

Dengan social distancing, masyarakat diminta untuk menghindari hadir di pertemuan besar atau kerumunan orang. Namun, jika Anda harus berada di sekitar orang, jaga jarak dengan orang lain sekitar 1-2 meter.

Sementara itu, karantina diri dapat dilakukan selama 14 hari. Dua minggu dikatakan cukup untuk mengetahui apakah mereka akan menjadi sakit dan menular ke orang lain. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), karantina dapat direkomendasikan untuk individu yang diyakini telah terpapar penyakit menular seperti COVID-19, tetapi tidak bergejala.

Selama melakukan social distancing dan karantina diri, ada baiknya Anda tetap bekerja sama dengan pihak berwenang. Anda tetap harus mengikuti arahan dari kementerian kesehatan atau lembaga berwenang lainnya untuk menghentikan penyebaran penyakit menular.

Selama virus corona COVID-19 ini menyebar, Anda mungkin takut dan panik. Ketakutan itu normal dan mendidik diri sendiri adalah cara yang bagus untuk mengimbangi kecemasan tersebut. Usahakan untuk tetap mendapat informasi dari sumber yang terpercaya soal virus corona di sekitar wilayah Anda.


Baca juga artikel terkait WABAH VIRUS CORONA atau tulisan menarik lainnya Dinda Silviana Dewi
(tirto.id - Kesehatan)

Kontributor: Dinda Silviana Dewi
Penulis: Dinda Silviana Dewi
Editor: Dipna Videlia Putsanra
DarkLight