Menuju konten utama

Proses Terjadinya Kabut dan Perbedaannya dengan Asap

Kabut dan asap berbeda, baik dari segi wujud maupun proses pembentukannya. Untuk memahami lebih dalam, simak penjelasan di bawah ini.

Proses Terjadinya Kabut dan Perbedaannya dengan Asap
Pengendara melintas di Jalan Pendidkan yang tertutup kabut asap di Jakabaring, Palembang, Sumatera Selatam, Sabtu (7/10/2023). Berdasarkan data dari satelit NASA-NOAA20 jumlah titik api di wilayah Indonesia sebanyak 3.661 titik, sedangkan di Provinsi Sumatera Selatan terdapat 901 titik pada Sabtu (7/10). ANTARA FOTO/Nova Wahyudi/YU

tirto.id - Kabut adalah uap air yang terkondensasi dekat permukaan tanah, mirip dengan awan. Maka itu, kebut sering disebut sebagai awan yang menyentuh tanah.

Ketebalan kabut dapat berbeda-beda, tergantung kondisinya. Kabut tebal sering kali menyulitkan pengendara yang melintas. Tempat yang paling berkabut di dunia adalah Grand Banks, wilayah lepas pantai pulau Newfoundland, Kanada.

Lantas, bagaimana proses terjadinya kabut?

Singkatnya, penyebab kabut adalah terjadinya kondensasi hawa dingin dengan kadar kelembaban mendekati 100 persen. Penjelasan selengkapnya terkait proses terjadinya kabut dapat disimak di bawah ini.

Proses Terjadinya Kabut

Proses terjadinya kabut tidak lepas dari beberapa aspek, yakni cuaca yang sangat lembab, uap air, dan debu atau semacam polutan. Berikut penjelasan terkait proses terjadinya kabut.

1. Penurunan suhu udara

Kabut terbentuk ketika cuaca di suatu daerah sangat lembab. Dengan begitu, tahap pembentukan kabut berikutnya akan terjadi.

2. Munculnya uap air

Ketika suhu turun, biasanya terjadi pada dini hari, akan muncul uap air di udara. Dalam kondisi inilah kabut bisa terbentuk.

3. Kondensasi terjadi

Kabut muncul ketika uap air mengalami pengembunan. Selama kondensasi, uap air akan bergabung membentuk tetesan air yang amat kecil. Mereka menggantung di udara.

Dalam proses ini, tidak hanya uap air yang berperan, melainkan juga partikel kecil seperti debu dan polutan lainnya. Sebagai misal, di laut, kabut terbentuk karena uap air mengembun di sekitar bongkahan garam.

4. Kabut terbentuk

Ketika proses terjadinya kabut selesai, Anda bisa melihat kabut. Di sisi lain, pandangan Anda pada lingkungan sekitar menjadi terbatas, terutama bagi pengendara. Anda bisa melihat kabut karena tetesan air kecil yang menggantung di udara, bukan uap airnya.

Perbedaan Kabut dengan Asap

Kabut berbeda dengan asap. Kabut adalah embun yang mengganggu penglihatan hingga kurang dari 1 kilometer. Sementara itu, asap merupakan partikel-partikel padat atau gas yang terbawa oleh udara. Berikut beberapa perbedaan kabut dan asap.

  1. Kabut dihasilkan dari proses kondensasi sedangkan asap berasal dari proses pembakaran.

  2. Kabut berasal dari uap air yang menggantung di udara sedangkan asap berasal dari partikel padat, cair, dan gas.

  3. Kabut tidak mengandung partikel kimia. Sementara itu, dikutip dari Science Learn, asap bersumber dari ratusan bahan kimia, biasanya berupa karbon, nitrogen, dan sulfur

  4. Kabut bukanlah bentuk polusi udara sedangkan asap tergolong sebagai polusi udara.

  5. Saat dihirup, kabut tidak berbahaya bagi tubuh. Sebaliknya, menghirup asap dalam waktu lama dapat membahayakan kesehatan paru-paru.

  6. Asap meninggalkan bau dan noda sedangkan kabut tidak membekas, melainkan berubah menjadi air yang disebut embun.

  7. Suhu kabut cenderung rendah karena dihasilkan pada cuaca dingin. Sementara itu, asap cenderung panas, bahkan bisa terbakar kembali karena mengandung senyawa tertentu.

  8. Kabut biasanya konsisten berwarna putih. Akan tetapi, asap cenderung berwarna lebih gelap cenderung hitam, tergantung di aspek bahan pembakarannya.

Macam-Macam kabut

Ada beberapa macam kabut. Berikut penjelasan masing-masing jenis kabut.

1. Kabut Radiasi

Kabut radiasi terjadi pada malam hari saat panas yang diserap oleh bumi pada siang harinya dilepaskan ke udara. Perpindahan panas dari tanah ke udara menyebabkan terbentuknya uap air yang berkumpul menjadi kabut.

Kabut radiasi, juga dikenal sebagai kabut dangkal atau kabut tanah, terjadi di dekat permukaan tanah. Biasanya, kabut ini terletak di bawah rata-rata ketinggian mata di darat, sekitar 2 meter, atau di bawah 10 meter jika berada di laut.

2. Kabut Adveksi

Kabut adveksi terbentuk saat udara hangat dan lembab melewati permukaan yang lebih sejuk. Kabut adveksi sering terjadi di laut, ketika udara tropis yang hangat bergerak di atas air yang lebih dingin. Fenomena ini dapat menyelimuti area yang luas.

Salah satu contoh kabut adveksi biasanya terjadi di Jembatan Golden Gate di Teluk San Francisco.

3. Kabut Lembah

Kabut lembah biasanya ditemui di kaki gunung pada musim dingin. Kabut ini terjadi ketika udara yang padat tidak bisa melewati gunung sehingga kabut mengumpul di lembah.

Kabut Lembah dibatasi oleh topografi lokal, seperti perbukitan atau pegunungan, dan dapat bertahan selama beberapa hari.

4. Kabut Beku

Kabut beku terjadi apabila tetesan kabut cair membeku pada permukaan padat. Puncak gunung yang tertutup awan sering kali diselimuti kabut beku.

Saat kabut beku terangkat, tanah, pepohonan, bahkan benda-benda, seperti sarang laba-laba, diselimuti oleh lapisan embun beku. Lanskap putih kabut beku yang membeku biasa terjadi di tempat yang beriklim dingin dan lembap, seperti di Skandinavia atau Antartika.

Baca juga artikel terkait EDUKASI DAN AGAMA atau tulisan lainnya dari Ruhma Syifwatul Jinan

tirto.id - Pendidikan
Kontributor: Ruhma Syifwatul Jinan
Penulis: Ruhma Syifwatul Jinan
Editor: Fadli Nasrudin