Aplikasi Pesan Instan Google Babak Belur, Banyak yang Disuntik Mati

Oleh: Ahmad Zaenudin - 16 September 2021
Dibaca Normal 3 menit
Bagi Google, sukses diartikan dengan jumlah pengguna yang besar. Bukan jutaan, tetapi miliaran pengguna.
tirto.id - Pada 2004, Google membeli startup bernama Keyhole senilai $35 juta untuk memulai proyek penciptaan peta digital. Bill Kilday, Direktur Pemasaran Keyhole yang kemudian menjadi karyawan Google, kebingungan dengan aksi korporasi Google ini.

Google memang membutuhkan layanan peta digital karena penggunanya rutin mengetik nama jalan di kolom pencarian. Namun di sisi lain, MapQuest--layanan peta digital pesaing Keyhole--mendulang pendapatan cemerlang atas posisinya sebagai pelopor. Kilday bingung apakah pembelian Keyhole dimaksudkan untuk memuaskan dahaga pengguna Google atau dijadikan alat menggerogoti kekuatan MapQuest.

"Apa, sih, arti sukses ala Google," tanya Kilday kepada Jonathan Rosenberg, Vice President of Product Strategy Google dalam memoarnya berjudul Never Lost Again: The Google Mapping Revolution that Sparked New Industries and Augmented Our Reality (2018). Rosenberg sempat bekerja bersama John Hanke, pendiri Keyhole, pada pertengahan 1990-an di sebuah startup gurem bernama Excite@Home.

"Setahun dari sekarang," lanjut Kilday, "apakah Google mengartikan sukses bagi kami (Keyhole) berupa sumbangsih senilai 10 juta dolar atau 10 juta pengguna?"

"Kalau kamu ingin jawaban pastinya, tanya saja langsung ke Larry Page dan Sergey Brin (duo pendiri Google). Tapi tebakanku, sih, Google lebih meminta kalian memberikan 10 juta pengguna," jawab Rosenberg.

Beberapa hari kemudian, Kilday berkesempatan bertemu dengan Larry Page dan Sergey Brin. Ia mengulangi pertanyaannya dengan meminta Page dan Brin menerangkan maksud pembelian Keyhole.

"Kalian (Keyhole) harusnya mulai berpikir lebih besar dari itu ($10 juta atau 10 juta pengguna) deh," jawab Page dengan raut muka kebingungan mendengar pertanyaan tersebut.

Kilday kemudian menyadari bahwa Page dan Brin tak meminta Keyhole--yang bertransformasi menjadi Google Earth dan Google Maps--memberikan 10 juta pengguna apalagi pendapatan senilai $10, tetapi jauh lebih besar dari itu. Google mengharapkan miliaran pengguna, bukan uang. Itulah arti sukses sesungguhnya bagi Google. Itu pula alasan mengapa pelbagai aplikasi pesan instan buatan Google tak pernah berumur panjang.


Google Messenger

Semua hal yang berhubungan dengan Google, secara kasatmata, terlihat fantastis. Tengoklah beberapa produk atau layanan yang mereka miliki. Google Search, misalnya, layanan paling utama milik Google ini memproses 3,5 miliar kali pencarian saban hari. Gmail, e-mail berbasis web yang dirilis pada 1 April 2004--yang memberikan ruang penyimpanan sebesar 1 GB hingga diyakini warganet sebagai hoaks April Mop--kini digunakan lebih dari 1,5 miliar orang di seluruh dunia. Lalu, melalui Youtube, Google berhasil menggiring 1,8 miliar warganet menghabiskan waktu dengan menonton pelbagai video yang tersedia. Dan melalui Google Maps serta Google Earth, Google berhasil memudahkan manusia bergerak dari titik A ke titik B tanpa perlu bertanya arah.

Ditambah dengan keperkasaan Android sebagai sistem operasi mobile paling berjaya, Google layak dicap sebagai penguasa teknologi. Tentu, bersama dengan Apple, Microsoft, serta Amazon.

Namun, yang terlihat fantastis secara kasatmata tak berarti indah secara keseluruhan. Killed by Google, sebuah website yang mengabadikan catatan buruk performa pelbagai layanan Google, mencatat bahwa Google acap kali melahirkan produk atau layanan yang tidak dilirik masyarakat hingga akhirnya disuntik mati. Google+ adalah salah satu contoh layanan yang dibunuh Google. Dirilis pada 2011 untuk menantang Facebook dan Twitter, Google+ sama sekali tak dilirik masyarakat hingga ditutup pada 2019 lalu. Menyusul Google URL Shortener, Google Fusion Tables, Fabric, Inbox by Gmail, beserta 235 produk/layanan lain yang dianggap gagal oleh Google.

Produk atau layanan yang gagal lalu disuntik mati pembuatnya merupakan hal biasa. Apple, misalnya, perusahaan yang sukses mendefinisikan ulang ponsel itu pernah melahirkan Newton. Sementara Microsoft yang sejak didirikan oleh Bill Gates hingga hari ini tetap berkuasa di dunia komputer gara-gara Windows, sempat merilis produk paling mengesalkan di dunia, Internet Explorer.

Menyadari telah menghasilkan produk busuk, Apple meminta maaf dengan merilis iPhone dan iPad sebagai pengganti Newton, dan Edge diberikan Microsoft sebagai pengganti Internet Explorer. Namun, khusus di bidang aplikasi pesan instan, Google sangat keterlaluan, terus-terusan memproduksi aplikasi busuk yang gagal di pasaran untuk hanya dijadikan cercaan.

Pada 24 Agustus 2005 Google dengan merilis Google Talk. Karena akhirnya gagal, mereka lalu merilis Google Voice pada 2009 yang juga gagal. Lalu berturut-turut merilis Google Wave (2009 akhir), Google Buzz (2010), Slide's Disco (2011), Google+ Hangouts Chat dan Google+ Huddle/Messenger (2011), Google Doc Editor Chat (2013), Google Hangouts (2013), Google Spaces (2016), Google Allo (2016), Google Duo (2016), Google Hangouts Meet (2017), Youtube Messages (2017), Google Hangouts Chat (2018), Google Chat Messages (2018), Google RCS (2019), Google Photos Messages (2019), Google Stadia Messages (2020), Google Pay Messages (2021), Google Assistant Messages (2021), Google Phone Messaging (2021), dan Google Chat versi reborn.


Infografik Google Messenger
Infografik Produk Pesan Instan Buatan Google. tirto.id/Fuad


Kegagalan pelbagai aplikasi pesan instan buatan Google ini, khususnya Google Talk, sebagaimana dituturkan Ken Fisher untuk Ars Technica, karena Google gagal memenuhi kebutuhan pengguna. Diliris sebelum iPhone dan Android lahir, Google Talk hanya dapat digunakan untuk mengirim pesan dari individu ke individu, tanpa fitur untuk mengirimkan file, bercakap-cakap dalam lingkup kelompok (grup), dan yang paling ironis hanya mendukung Windows semata, tanpa memedulikan MacOS (dulu bernama Macintosh). Akibatnya, karena kala itu Yahoo Messenger serta mIRC memiliki segala fitur yang dibutuhkan, Google Talk gagal. Kegagalan yang sialnya diteruskan Google tatkala merilis Google Voice hingga Google Chat.

Ketika Google+ Huddle/Messenger diluncurkan pada 2011 untuk menghentikan laju WhatsApp, Google memilih mengintegrasikan aplikasi pesan instan ini dengan Google+, bukan kontak pengguna. Dan, ketika iMessage begitu apik menggabungkan kekuatan SMS konvensional memanfaatkan jaringan provider telekomunikasi dengan layanan pesan berbasis internet, Google RCS telah jauh tertinggal.

Serangkaian kegagalan aplikasi pesan instan terjadi karena Google abai terhadap integrasi. Hal ini memaksa pengguna untuk menggunakan aplikasi pesan instan buatan Google yang berbeda di tiap-tiap produk utama mereka. Misalnya Google Doc Editor Chat tak terintegrasi dengan Google+ Hangouts Chat, juga Google Photos Messages dengan Google Stadia Messages. Akibatnya, sukar bagi pengguna menindaklanjuti segala percakapan yang telah dilakukannya.

Akibat gagal memberikan fitur yang diinginkan pengguna serta abai terhadap integrasi, pelbagai aplikasi pesan instan buatan Google akhirnya gagal di pasaran. Sementara Google tetap memegang teguh prinsip sukses yang diartikan dalam bentuk jumlah pengguna. Merujuk tulisan Steven Levy dalam In the Plex: How Google Thinks, Works, and Shapes Our Lives (2011), konsep ini dihayati yang dihayati betul karena Google menghasilkan uang dengan cara "menjual pengguna," bukan "menjual produk." Ketika sebuah produk digunakan banyak pengguna, miliaran pengguna, Google mengonversinya sebagai basis pengiklan. Sebaliknya, tatkala sebuah produk gagal memperoleh banyak pengguna, seperti yang dicatat Killed by Google, suntik mati adalah jawabannya.

Baca juga artikel terkait GOOGLE MESSAGES atau tulisan menarik lainnya Ahmad Zaenudin
(tirto.id - Teknologi)

Penulis: Ahmad Zaenudin
Editor: Irfan Teguh
DarkLight