Apa Perbedaan Hampers dan Parsel & dari Mana Asal Mulanya?

Oleh: Ilham Choirul Anwar - 2 Mei 2021
Dibaca Normal 2 menit
Perbedaan hampers dan parsel, sejarah hampers, asal mula hampers dan parsel.
tirto.id - Hampers dan parsel adalah dua kata dengan makna serupa yang memiliki sejarah panjang dalam perjalanannya.

Satu cara untuk berbagi kebahagiaan di masa sekarang adalah dengan saling memberi hadiah.

Di setiap jelang hari raya keagamaan, seperti Idulfitri, banyak pihak yang menawarkan paket hadiah dalam bentuk hampers maupun parsel. Sebenarnya adakah perbedaan antara hampers dan parsel?

Merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) daring, parsel memiliki arti "bingkisan yang berisi berbagai hadiah, seperti aneka kue, makanan dan minuman dalam kaleng, barang pecah belah, yang ditata apik dalam keranjang dan dikirimkan kepada orang-orang tertentu pada hari raya".

Sementara jika kata "hampers" dicari dalam KBBI, maka arti dari hampers adalah "parsel". Dengan demikian, menurut KBBI antara hampers dan parsel bermakna sama.

Namun, hasilnya agak berbeda jika merujuk pada kamus Cambridge. Dalam laman Cambridge Dictionary, hampers berarti sebuah boks atau kotak yang di dalamnya berisi makanan dan minuman, biasanya diberikan sebagai hadiah seperti saat Natal.

Lalu, kata parcel (parsel) dalam kamus ini bermakna suatu benda atau kumpulan benda yang dibungkus kertas, terutama agar bisa dikirim lewat pos.

Dari makna yang disebut dalam Kamus Cambridge, maka makna bingkisan hadiah lebih terarah pada kata "hampers" ketimbang parsel.

Parsel menunjukkan pada benda apa pun yang dikemas terlebih dahulu untuk kemudian dikirimkan melalui jasa pos.

Kendati demikian, penggunaan kata hampers dan parsel khususnya di Indonesia, keduanya memiliki makna yang sama.

Hanya saja, kata parsel lebih tenar terlebih dahulu ketimbang hampers yang muncul kekinian. Jadi
keduanya bukan hal yang saling bertentangan maknanya.


Sejarah hampers atau parsel


Ilustrasi Hampers
Ilustrasi Hampers. foto/IStockphoto


Menelusur ke belakang, justru budaya mengirimkan hampers sudah muncul di Prancis pada abad 11.

Mengutip laman Virginia Hayward, kala itu hamper yang disebut "hanapier" dibuat dari keranjang anyaman yang umumnya dari kayu willow. Isinya adalah makanan dan minuman untuk dibawa berburu atau saat melakukan perjalanan lama.

Nama hanapier lalu diserap ke bahasa Inggris dengan nama hamper di Inggris pada zaman Victoria.

Hamper atau parsel mulai menunjukkan ketenaran sebagai bingkisan hadiah seiring dengan menggeliatnya transportasi di era revolusi industri. Pengangkutan barang dan makanan segar makin mudah dilakukan saat itu ke seluruh penjuru Inggris.

Kebiasaan mengirim hampers makin membudaya terutama saat perayaan Natal. Isi parsel makin beragam tapi masih terbatas pada makanan, seperti produk musiman, daging, hingga buah-buahan awetan.

Saat proses impor dari seluruh dunia mulai mudah, isi hampers lebih beragam lagi dan tidak hanya saat Natal.

Sementara itu, hampers atau parsel yang berkaitan dengan perayaan Ramadan dan Idulfitri ada kisahnya tersendiri di beberapa negara.

Kala itu, di India mulai banyak orang yang mengirim parsel hadiah dan permen sebagai parsel Idulfitri. Mereka saling bertukar parsel dan juga menyelipkan uang secukupnya yang disebut Eidi dari orang tua untuk anak-anak.

Lain lagi di China, kebiasaan mengirim parsel terlihat pada kaum muslim di daerah Lhasa. Xiaochun Yang (2011) dalam penelitiannya menemukan, jika warga muslim Lhasa kerap bertukar bingkisan dengan tetangga mereka dari etnis Han dan Tibet.

Selain dilakukan ketika Ramadan, agenda berbagi parsel dilakukan pula pada waktu Festival Musim Semi China.

Menengok ke negeri sendiri, Indonesia, berkirim parsel telah dilakukan semenjak zaman perjuangan melawan penjajah.

Kala itu wanita Indonesia yang tidak boleh ikut berperang mengirim parsel makanan untuk pasukan di garda depan. Kebiasaan ini terus berlangsung sampai hari ini, baik dilakukan saat Lebaran, Natal, hingga momen spesial lainnya.


Baca juga artikel terkait PERBEDAAN HAMPERS DAN PARSEL atau tulisan menarik lainnya Ilham Choirul Anwar
(tirto.id - Sosial Budaya)

Kontributor: Ilham Choirul Anwar
Penulis: Ilham Choirul Anwar
Editor: Dhita Koesno
DarkLight