Apa Jadinya Piala Dunia 2018 tanpa Imigran?

Oleh: Husein Abdulsalam - 22 Juli 2018
Dibaca Normal 6 menit
Berapakah jumlah pemain berlatar belakang imigran yang bertanding untuk 32 timnas yang berlaga di Piala Dunia 2018?
tirto.id - Jimmy Durmaz, gelandang tim nasional (timnas) Swedia, berdiri sembari menggenggam ponsel pintar di tangan kanannya. Pakaian yang dia kenakan hari itu ialah seragam yang bagian dada kiri tersemat lambang timnas Swedia. Tepat di atas jantung yang menyangga hidupnya. Perlahan namun pasti, sepatah dua patah kata diucapkan Durmaz.

“Ketika Anda mengancam saya, ketika Anda memanggil saya 'iblis Arab', 'teroris', 'Taliban', maka Anda telah melampaui batas. Dan, lebih buruk lagi, ketika Anda mengutuk keluarga saya, anak-anak saya, mengancam mereka. Siapa yang melakukan itu? Itu benar-benar tidak bisa diterima,” ujar Durmaz.

Kata-kata itu disampaikan melalui sebuah video. Adapun "Anda" yang dirujuk Durmaz ialah orang-orang yang memakinya lewat media sosial tak lama setelah pertandingan Swedia melawan Jerman pada babak penyisihan grup F Piala Dunia 2018 di Stadion Fihst, Sabtu (23/6).

Jelang akhir babak kedua, Swedia masih imbang 1-1 dari Jerman. Gol pertama Jerman kala itu dicetak Marco Reus yang mendapat operan bola dari Mario Gómez, pemain penyerang yang berayah seorang Spanyol. Namun, pada waktu tambahan (injury time), Durmaz menjegal gelandang serang Jerman Timo Werner. Jerman mendapat tendangan bebas. Toni Kross, ujung tombak Jerman, berhasil mengeksekusi tendangan bebas yang berbuah gol. Swedia kalah 1-2 dari Jerman yang bermain dengan 10 orang pemain.

Kekalahan dari Jerman itu membuat pendukung Swedia geram. Alih-alih mengevaluasi taktik dan strategi timnasnya, sebagian pendukung Swedia menyerang latar belakang keluarga Durmaz yang imigran itu. Durmaz dibilang "Iblis Arab" hingga "Taliban" – kata-kata yang pedas dan rasialis.

Swedia, Rasialisme, dan Sepak Bola

Durmaz lahir di Örebro, Swedia pada 22 Maret 1989. Ayahnya merupakan seorang Assyria yang pindah dari Turki ke Swedia.

Secara umum, Swedia sebenarnya negara yang bisa dibilang ramah terhadap imigran. Ia menempati urutan ke-8 dalam perolehan skor indeks kebahagiaan imigran 2005-2017 yang termaktub dalam World Happines Report 2018. Urutan pertama hingga keempat juga ditempati negara tetangga, yaitu Finlandia, Denmark, Norwegia, dan Islandia.

Namun, yang menimpa Durmaz hanya satu dari kejadian yang menunjukkan bahwa rasialisme terhadap keturunan imigran eksis di Swedia.

Pada awal Juli 2018, Nordiska motståndsrörelsen melancarkan long march di pekan Almedalen, Swedia. Partai politik yang menyerukan pembentukan negara republik Nordik lintas batas Swedia, Finlandia, Denmark, Norwegia, dan Islandia tersebut berhaluan neo-Nazi. Mereka ingin mengeluarkan seluruh warga negara yang bukan keturunan etnis Eropa utara.

Sebelumnya, pada Januari 2018, pemain Swedia Zlatan Ibrahimovic mengatakan kepada French Canal Plus bahwa dirinya kerap diliput secara tidak berimbang oleh sejumlah media Swedia. Ayah Zlatan adalah seorang Bosnia, sementara ibundanya adalah seorang Kroasia.

"Mereka masih menyerang saya. Karena mereka tidak terima bahwa saya seorang Ibrahimovic. Jika pemain Swedia lain melakukan kesalahan seperti saya, mereka akan membelanya. Tetapi, ketika hal itu dilakukan oleh saya, mereka tidak membela saya," ujar Zlatan, yang merupakan pencetak gol terbanyak dalam sejarah timnas Swedia.

Pemain yang lahir di Malmö, Swedia pada 3 Oktober 1981 itu menyebut perlakuan terhadapnya sebagai rasisme terselubung. Zlatan pun geram. Padahal, dia telah menyumbang 11 gol untuk Swedia pada laga kualifikasi Piala Eropa 2016.

Perlakuan seperti itu pun tidak dimonopoli pendukung Swedia semata. Dalam The Players Tribune, pemain Belgia, Romelu Lukaku, menuliskan kesannya terhadap rasialisme sebagian pendukung Belgia.

Kata Lukaku, "Ketika keadaan baik, saya baca artikel koran dan mereka memanggil saya Romelu Lukaku, ujung tombak Belgia. Ketika keadaan buruk, mereka memanggil saya Romelu Lukaku, ujung tombak Belgia keturunan Kongo."

Bertanding di antara bayang-bayang rasialisme, timnas Swedia tidak tinggal diam atau membiarkan Durmaz (pun Zlatan) berjuang sendiri. Saat Durmaz memberikan pernyataannya, skuat dan pelatih timnas Swedia berdiri di sekitar satu meter di belakang Durmaz.

Bersama Durmaz, mereka memungkasi pernyataan sikap dengan mengatakan, "Fuck Racism!"

Hasil yang diperoleh Swedia pada pertandingan setelahnya pun menggembirakan. Ia berhasil melibas Mexico dengan skor 3-0, sementara Jerman kalah 0-2 dari Korea Selatan. Hasilnya, Swedia lolos ke fase 16 besar Piala Dunia 2018, sedangkan Jerman si juara Piala Dunia 2014 itu tidak lolos.

Sehari setelah Die Mannschaft dinyatakan tidak lolos fase grup, media Jerman, Der Spiegel, menerbitkan sebuah karikatur yang menggambarkan wajah sedih nan lesu pemain dan pendukung Jerman. Dari bangku tribun pendukung Jerman, kalimat ini muncul, "We need more migrants in this German team!"

Pernyataan Der Spiegel itu membuktikan bahwa tidak melulu pendukung menyalahkan pemain imigran ketika timnasnya kalah. Konteks pernyataan tersebut juga dapat dipahami bahwa Jerman kini dipimpin Kanselir Angela Merkel. Pada 2015, Merkel menerapkan kebijakan Willkommenskultur, upaya institusi Jerman bersikap terbuka terhadap pencari suaka, pengungsi, dan imigran.

Berapa Banyak Imigran Bertanding di Piala Dunia 2018?

Pada babak 16 besar Swedia mampu mengalahkan Swiss dengan skor tipis 1-0. Namun, pada babak 8 besar, Swedia ditumbangkan Inggris dengan skor 2-0. Inggris pun melaju ke babak semifinal.

Pada pertandingan melawan Swedia tersebut, gol pertama Inggris dicetak Harry Maguire lewat sundulan hasil sepak pojok Ashley Young. Ayah Ashley, Luther Young, adalah orang Jamaika yang sempat merumput untuk Tottenham Hotspur. Sedangkan gol kedua Inggris pada pertandingan tersebut dicetak Dele Alli yang ayahnya seorang Nigeria. Selain Inggris, tiga negara lain berlaga pada babak semifinal Piala Dunia 2018: Belgia, Kroasia, dan Perancis.

Sebelum kick-off Piala Dunia 2018 dimulai, The International Centre for Sports Studies (CIES) menelaah data 1.032 pemain yang berlaga untuk 31 timnas peserta Piala Dunia 2018 saat fase kualifikasi, plus 40 pemain tuan rumah Rusia. Hasil telaah menyebutkan sebanyak 98 pemain lahir di luar negara yang dibelanya pada Piala Dunia 2018 (selanjutnya disebut pemain kelahiran luar negeri).

Di semifinal, Belgia berhadapan dengan Perancis, sementara Inggris melawan Kroasia. Menurut CIES, 10 persen pemain Perancis, 3,8 persen pemain Belgia, 15,4 persen pemain Kroasia, dan 3,2 pemain Inggris adalah pemain kelahiran luar negeri.

Namun, persentase itu tidak ada apa-apanya dibandingkan Maroko yang menurut CIES berisi 61,5 persen pemain kelahiran luar negeri. Sebanyak 2 pemain Maroko lahir di Jerman, 2 lahir di Spanyol, dan 13 lainnya lahir di Perancis. Dengan kata lain, Maroko adalah timnas yang memasukkan paling banyak pemain kelahiran luar negeri dalam skuatnya.

Di samping 13 orang kelahiran Perancis yang bermain untuk timnas Maroko itu, 19 pemain kelahiran Perancis juga bertanding untuk dua timnas benua Afrika: Senegal dan Tunisia. Data CIES menyebutkan 12 pemain kelahiran Perancis bertanding untuk Senegal, sementara 7 lainnya bertanding untuk Tunisia. Sebanyak 2 pemain Portugal (Raphaël Guerreiro dan Adrien Silva) dan 1 pemain Argentina (Gonzalo Higuaín) juga lahir di Perancis.

Maroko boleh jadi timnas "pengimpor" terbanyak pemain kelahiran luar negeri. Tetapi, Perancis adalah timnas "pengekspor" terbanyak pemain kelahiran luar negeri.

Data CIES melansir hanya ada 8 timnas - yakni Brasil, Arab Saudi, Iran, Jerman, Kolombia, Mexico, dan Korea Selatan - yang tidak memainkan pemain kelahiran luar negeri. Artinya, setidaknya ada 1 pemain kelahiran luar negeri yang pasti bertanding untuk setiap 24 timnas Piala Dunia 2018 pada babak kualifikasi.

Berapa Sesungguhnya Pemain Berlatar Belakang Imigran di Piala Dunia 2018?

Meski demikian, data yang dihimpun CIES memiliki sejumlah kelemahan untuk menggambarkan kontribusi pemain berlatar belakang imigran pada Piala Dunia 2018.

Dengan menghimpun pemain kelahiran luar negeri, CIES tidak memasukkan para pemain yang lahir di negara yang dibelanya tetapi dilahirkan dari keluarga imigran. Dengan begitu CIES tidak menghimpun pemain seperti Lukaku, Durmaz, Ashley Young, Mario Gómez, Filipe Luis Kasmirski, atau Mesut Ozil dalam perhitungannya.

Selain itu, CIES juga tidak menghitung pemain yang tidak bertanding saat kualifikasi skuat cadangan atau baru dipanggil setelah kualifikasi selesai padahal masuk sebagai skuat yang didaftarkan pada putaran final Piala Dunia 2018. Anthony Lopes, kiper cadangan Portugal yang lahir di Perancis, adalah salah satu contoh kasus ini.

Untuk menelaah secara lebih mendalam mengenai peran pemain imigran di Piala Dunia 2018, The Multicultural Cup 2018 yang diluncurkan Netbet, situs judi bola di Inggris, bisa jadi rujukan.

The Multicultural Cup 2018 menelaah asal-usul setiap 23 pemain dalam daftar skuat 32 timnas Piala Dunia 2018. Setelah ditelaah, pemain berlatar belakang imigran dapat dibagi dalam tiga kategori.

Pertama, pemain migrasi. Pemain kategori ini pindah ke negara yang dia bela sekarang, lalu mendapatkan kewarganenegaraan di sana. Contoh pemain migrasi, yakni pemain bertahan Jepang Gotoku Sakai yang lahir di Amerika Serikat; Raheem Sterling, pemain Inggris kelahiran Jamaika; atau gelandang Mesir Sam Morsy yang lahir di Inggris.

Kedua, pemain putra generasi pertama imigran. Orang tua pemain ini lahir di luar negara yang dibela si pemain sekarang. Contoh pemain kategori ini ialah Lukaku beserta 4 pemain Belgia yang orang tuanya lahir di Kongo; Kylian Mbappé, pemain penyerang Perancis, yang orang tuanya berasal dari Kamerun; begitu pula Durmaz, Ashley Young, Mario Gómez, atau Mesut Ozil.

Ketiga, pemain bermoyang imigran. Pemain ini merupakan keturunan kedua, ketiga, keempat, dan seterusnya para imigran. Boleh jadi orang tua pemain ini lahir di negara yang dia bela, tetapi ada satu dari kakek-nenek, moyang, yang kelahiran luar negeri. Contoh pemain kategori ini ialah Filipe Luis Kasmirski, pemain Brasil yang moyangnya dari Polandia; Cristiano Ronaldo, ujung tombak Portugal yang moyangnya dari Cape Verde, Afrika; atau David Silva, pemain Spanyol yang punya darah Jepang.

Berdasarkan kategorisasi tersebut, The Multicultural World Cup 2018 menyingkap 34 pemain migrasi, 130 pemain putra generasi pertama imigran, dan 30 pemain bermoyang imigran. Apabila banyaknya pemain di setiap kategori tersebut dijumlahkan, didapat jumlah pemain berlatar belakang imigran sebanyak 194 orang atau sekitar 26,32 persen dari total 737 pemain dalam daftar skuat 32 timnas pada Piala Dunia 2018.

Infografik Piala Dunia dan Imigran


Dari 32 negara itu, The Multicultural World Cup 2018 menyatakan hanya Peru dan Arab Saudi yang tidak memiliki satu pun pemain migrasi, pemain putra generasi pertama imigran, atau pemain bermoyang imigran. Sedangkan Brasil, Kolombia, Mesir, Panama, Serbia, Korea Selatan, dan Jepang memiliki setidaknya satu pemain berlatar belakang imigran.

Di luar negara tersebut, setiap negara peserta Piala Dunia 2018 memasukkan setidaknya 2 sampai 21 pemain berlatar belakang imigran dalam skuatnya. Bahkan, lebih dari 50 persen skuat 5 timnas ini terdiri atas pemain berlatar belakang imigran: Perancis (91 persen), Maroko (87 persen), Swiss (65 persen), Australia (57 persen), dan Portugal (52 persen).

Perancis memiliki 2 pemain migrasi (T. Lemar dan R. Varane), 14 pemain putra generasi pertama imigran semisal dari Aljazair (Nabil Fekir), Senegal (Benjamin Mendy), Mali (Ousmane Dembele), Guinea (Paul Pogba), atau Kamerun (Kylian Mbappé) dan 3 pemain bermoyang imigran. Di semifinal, Perancis melawan Belgia yang memiliki 11 pemain putra generasi pertama imigran, mulai dari Lukaku (Kongo), V. Kompany (Kongo), De Bruyne (Burundi), serta N. Chadli dan M. Fellaini (Maroko).

Di bawah Perancis, ada Maroko yang diperkuat 20 pemain generasi putra pertama imigran, disusul Swiss yang memiliki 8 pemain migrasi dan 7 pemain generasi putra pertama imigran. Dua pemain migrasi Swiss berasal dari Kosovo, Xherdan Shaqiri dan Valon Behrami.

Perancis menang atas Belgia dengan skor tipis 1-0. Di final, Perancis berhadapan dengan Kroasia yang diperkuat 1 pemain migrasi asal Bosnia, Vedran Ćorluka; 3 pemain putra generasi pertama negara imigran asal pecahan Yugoslavia seperti Danijel Subašić (Serbia), serta Tin Jedvaj dan Dejan Lovren (Bosnia); dan 2 pemain putra generasi pertama imigran Swiss (Ivan Rakitić) dan Austria (Mateo Kovačić).

Apabila relasi antara timnas dan negara asal pemain berlatar belakang imigran ditelaah, setidaknya ada beberapa hal yang bisa disingkap.

Pertama, relasi itu terbentuk lantaran proses imperialisme yang membuka jalan migrasi penduduk dari pusat imperium (metropolis) ke koloni, dan sebaliknya. Jamaika merupakan koloni Inggris. Begitu pula Kongo yang merupakan koloni Belgia; Brazil, Cape Verde, dan Angola yang adalah koloni Portugal; atau Aljazair, Mali, Maroko, Guinea yang merupakan koloni Perancis.

Kedua, relasi terbentuk lantaran penduduk mesti mengungsi dari negara mereka yang tengah berperang. Orang tua gelandang Kroasia, Ivan Rakitić, berasal dari Kroasia. Tetapi, mereka mengungsi ke Swiss setelah Perang Bosnia dimulai. Rakitić yang lahir di Swiss itu, kemudian, memilih pindah ke Kroasia lagi dan membela timnas Kroasia. Perang di wilayah di Balkan lainnya menyebabkan orang tua Xherdan Shaqiri dan Valon Behrami pergi ke Swiss, meninggalkan Kosovo. Keduanya lahir di Swiss dan kini membela Swiss.

Apa jadinya Piala Dunia 2018 tanpa pemain berlatar belakang imigran? Ya tentu saja tidak ada Piala Dunia 2018, tapi persaingan antar warna kulit dan ego-nasionalistik masing-masing.

Baca juga artikel terkait PIALA DUNIA 2018 atau tulisan menarik lainnya Husein Abdulsalam
(tirto.id - Olahraga)


Penulis: Husein Abdulsalam
Editor: Ivan Aulia Ahsan