Apa Itu Lembaga Eijkman: Sejarah, Tugas, Fungsi & Mengapa Bubar?

Kontributor: Syamsul Dwi Maarif - 4 Jan 2022 15:53 WIB
Dibaca Normal 1 menit
Berikut sejarah, tugas dan fungsi Lembaga Biologi Molekuler Eijkman yang dibubarkan.
tirto.id - Lembaga Biologi Molekuler Eijkman merupakan lembaga penelitian milik pemerintah yang bernaung di bawah Kementerian Pendidikan Tinggi, Riset dan Teknologi serta mempunyai tujuan utama, yakni melakukan penelitian dasar dan terapan mengenai biologi molekuler di Indonesia.

Dikutip dari situs resmi eijkman.go.id, beberapa fokus penelitian biologi dari lembaga ini meliputi bidang biomedis, keanekaragaman hayati, bioteknologi, biosekuriti dan menerjemahkan hasil penelitian demi kepentingan masyarakat.


Sejarah Lembaga Biologi Molekuler Eijkman

Nama Lembaga Biologi Molekuler, diambil dari nama Christiaan Eijkman, yakni seseorang yang pernah melakukan penelitian terkait penyakit beri-beri pada masa Hindia Belanda. Eijkman adalah keturunan Belanda yang lahir di kota Nijkern pada tahun 11 Agustus 1858.

Ia lahir dari keluarga terpelajar, di mana ayahnya bekerja sebagai guru dan kakaknya, Johann Frederik Eijkman ketika dewasa dikenal sebagai seorang ahli kimia. Setelah lulus dari sekolah dasar di kota Zaandam pada tahun 1875, Eijkman melanjutkan studinya dan berhasil diterima di Sekolah Kedokteran Militer Universitas Amsterdam.

Eijkman lulus sarjana pada 1879 dan menghabiskan dua tahun lagi untuk menyelesaikan tesis tentang polarisasi saraf sambil bekerja sebagai asisten ahli fisiologi Universitas Amsterdam Profesor T. Place. Eijkman baru mendapatkan penugasan ke Hindia Belanda setelah menyelesaikan doktoral pada tahun 1883.

Semarang merupakan tempat penempatan pertama bagi Eijkman di Hindia Belanda. Ia juga pernah ditempatkan di Cilacap dan terakhir di Padang Sedempuan. Eijkman terpapar Malaria di Cilacap dan kesehatannya semakin memburuk setelah dipindahkan ke Padang Sidempuan. Hal tersebut membuatnya harus kembali ke Belanda untuk melakukan pemulihan pada tahun 1885.

Selama proses pemulihan dari penyakit Malaria, Eijkman bekerja di Laboratorium Bakteriologi Robert Koch di Berlin. Ia dapat kembali bertugas ke Hindia Belanda, setelah ahli patologi C.A. Pekelharing dan ahli neurologi C. Winkler menemuinya di Berlin. Kedua ahli tersebut, mengajak Eijkman bergabung ke dalam suatu misi, yakni melakukan investigasi terhadap merebaknya penyakit beri-beri di Hindia Belanda

Misi Investigas Pekelharing-Winkler selesai pada tahun 1887 dan menghasilkan kesimpulan bahwa beri-beri merupakan polineuritis (peradangan saraf di beberapa bagian tubuh, terutama anggota gerak) yang disebabkan oleh infeksi bakteri.

Sebelum kembali ke Belanda, mereka bertiga mengajukan proposal pembentukan laboratorium medis di Batavia. Pemerintah Hindia Belanda menyetujui hal tersebut dan dibangunlah Laboratorium voor Pathologische Anatomie en Bacteriologie (laboratorium penelitian patologi dan bakteriologi) yang mulanya terletak di kompleks rumah sakit militer Weltevreden—sekarang RSPAD Gotot Subroto

Pada tahun 1888, Eijkman ditunjuk sebagai kepala laboratorium tersebut dan direktur Sekolah Dokter Jawa. Kemudian, 50 tahun setelah pendirian laboratorium, nama Eijkman diabadikan sebagai nama resmi lembaga pada tahun 1983. Waktu itu, Kepala Laboratotium Medis Pusat dipimpin oleh Prof. Dr. Achmad Mochtar.


Pembubaran Lembaga Biologi Molekuler Eijkman

Lembaga Laboratorium Eijkman pernah ditutup pada tahun 1960 karena terjadinya gejolak politik dan ekonomi di Indonesia. Namun, muncul gagasan untuk dibuka kembali pada masa BJ Habibie menjabat sebagai Menteri Riset dan Teknologi tahun 1990. Akhirnya, Lembaga Laboratorium Eijkman dibuka kembali dan diresmikan oleh Presiden Soeharto pada tanggal 19 September 1995.

Dikutip dari laman Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), sejak September 2021, pengelolahan Lembaga Biologi Molekuler Eijkman diambil alih oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Peresmian perubahan status dari LBM Eijkman menjadi Pusat Riset Biologi Molekuler (PRBM) Eijkman diresmikan pada tanggal 28 Desember 2021.


Baca juga artikel terkait LEMBAGA BIOLOGI MOLEKULER EIJKMAN atau tulisan menarik lainnya Syamsul Dwi Maarif
(tirto.id - Sosial Budaya)

Kontributor: Syamsul Dwi Maarif
Penulis: Syamsul Dwi Maarif
Editor: Alexander Haryanto

DarkLight