Apa itu Hujan Meteor Delta Aquariids yang Hiasi Langit 28-29 Juli?

Kontributor: Ahmad Efendi - 27 Jul 2020 14:08 WIB
Dibaca Normal 2 menit
Hujan meteor Delta Aquariids bisa disaksikan pada tanggal 28-29 Juli 2020.
tirto.id - Puncak hujan meteor Delta Aquariids akan terjadi pada tanggal 28-29 Juli 2020 nanti, meskipun sudah mulai aktif mulai 12 Juli hingga 23 Agustus. Pengamatan terbaik untuk menikmati hujan meteor adalah sebelum fajar astronomis atau sekitar pukul 03.00-04.00 waktu setempat, demikian dilansir dari laman Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN).

Dilansir dari laman solarsystem.nasa.gov, Delta Aquariids akan aktif mulai pertengahan Juli dan terlihat hingga akhir Agustus. Meteor redup ini sulit dikenali, dan jika pada saat bersamaan terlihat bulan, maka masyarakat tidak akan bisa melihatnya. Sebaliknya, jika bulan tidak ada, peluang terbaik untuk melihat Delta Aquariids adalah ketika laju meteor naik selama puncak hujan di akhir Juli.

Meteor-meteor yang menghujani langit tersebut, berdasarkan penjelasan NASA, berasal dari sisa partikel komet dan bit dari asteroid yang rusak. Ketika komet datang mengelilingi matahari, debu yang mereka keluarkan secara bertahap menyebar ke jejak berdebu di sekitar orbitnya.

Setiap tahun bumi melewati jejak puing-puing ini, yang memungkinkan serpihan-serpihan itu bertabrakan dengan atmosfir. Kemudian, serpihan-serpihan itu hancur untuk menciptakan garis-garis berapi-api dan beraneka warna di langit.

Waktu terbaik melihat hujan meteor

EarthSky menulis, saat ini kita sedang berada dalam “masa hujan meteor” yang dinamai dengan Delta Aquariids. Sebenarnya, hujan meteor ini hanya bisa dinikmati di bumi bagian selatan. Namun, menurut EartSky, “orang-orang tak perlu khawatir,” karena diperkirakan sebagian besar masyarakat yang berada di garis khatulistiwa tetap bisa menyaksikan. Artinya, masyarakat Indonesia juga bisa menyaksikan fenomena langka tersebut.

Pada puncaknya, akan ada 20 meteor yang jatuh di setiap jamnya. Lalu, di tanggal 23 Agustus mendatang akan ada hujan meteor Delta Aquariids susulan.

Masih menurut EartSky, untuk menyaksikan hujan meteor Delta Aquariids, orang-orang dianjurkan berada di tempat yang bebas dari benda-benda bercahaya agar bisa melihat dengan jelas. Sementara waktu terbaik, menurut LAPAN, adalah pukul 03.00 atau 04.00 dini hari.

Selain itu, karena bulan Juli hingga Agustus merupakan masanya Perseid, maka masyarakat akan dapat menyaksikan hujan meteor Perseid pula. Jika Anda tidak dapat melihat Delta Aquariids selama masa puncaknya, kata NASA, maka “cari lagi selama Perseids pada bulan Agustus”.

“Anda akan tahu bahwa Anda telah melihat Delta Aquariids jika meteor tersebut datang dari arah rasi bintang Aquarius—pancarannya akan menjadi di bagian selatan langit. Radiasi Perseid ada di bagian utara langit.”

Untuk membedakan kedatangan Delta Aquarids dan Perseid, kita hanya perlu melihat asal jatuhnya. Jika kita berada di bumi bagian selatan, maka akan melihat Delta Aquarids akan muncul dari selatan, sedangkan Perseids akan datang dari konstelasi Perseus yang tampak dari timur laut atau utara.

Sedangkan yang berada di belahan bumi utara, akan melihat meteor Delta Aquarids muncul di atas, sedangkan meteor Perseids akan muncul dari langit utara.

Fenomena alam

Pada bulan Juli 2020 ini, memang muncul sejumlah fenomena astronomi, mulai dari gerhana hingga hujan meteor. Setidaknya, menurut LAPAN, ada 16 fenomena alam yang akan menghiasi langit di awal pertengahan 2020.

Beberapa di antaranya adalah Konjungsi Inferior Merkurius pada 1 Juli; menyusul kemudian Gerhana Bulan Penumbra, Konjungsi Bulan dan Jupiter, serta Konjungsi Bulan dan Saturnus pada rentang 5-7 Juli 2020.

Selain empat fenomena astronomi pada tanggal-tanggal awal bulan Juli tersebut, mulai pertengahan Juli, masih ada 12 fenomena lagi yang siap mewarnai langit, termasuk Oposisi Saturnus pada 21 Juli lalu, dan yang akan datang pada akhir Juli nanti adalah fenomena puncak hujan meteor Delta Aquariids.


Baca juga artikel terkait HUJAN METEOR DELTA AQUARIIDS atau tulisan menarik lainnya Ahmad Efendi
(tirto.id - Sosial Budaya)

Kontributor: Ahmad Efendi
Penulis: Ahmad Efendi
Editor: Alexander Haryanto

DarkLight