Apa Itu Herd Immunity dan Kaitannya dengan Virus Corona COVID-19

Oleh: Dipna Videlia Putsanra - 3 April 2020
Dibaca Normal 2 menit
Apakah herd immunity bisa menjadi solusi untuk menghentikan virus corona COVID-19?
tirto.id - Herd immunity adalah konsep epidemiologis yang menggambarkan keadaan di mana suatu populasi cukup kebal terhadap penyakit sehingga infeksi tidak akan menyebar dalam kelompok itu. Dengan kata lain, cukup banyak orang tidak bisa kena penyakit - baik melalui vaksinasi atau kekebalan alami - sehingga orang-orang yang rentan terlindungi.

Karena semakin banyak orang terinfeksi virus corona COVID-19, maka akan ada lebih banyak orang yang sembuh dan yang kemudian kebal terhadap infeksi di masa depan. Lebih dari 210.000 orang telah pulih dari virus pada Jumat pagi, menurut data dari Johns Hopkins University.

"Ketika sekitar 70 persen populasi telah terinfeksi dan pulih, kemungkinan wabah penyakit menjadi jauh lebih sedikit karena kebanyakan orang resisten terhadap infeksi," kata Martin Hibberd, seorang profesor penyakit menular di London School of Hygiene & Tropical Medicine.

"Ini disebut kekebalan kelompok [herd immunity]," tambahnya, seperti dikutip Aljazeera.

Bisakah Herd Immunity Mencegah Penyebaran Virus Corona?


Bukti saat ini menunjukkan, satu orang yang terinfeksi corona rata-rata menginfeksi antara dua dan tiga orang lainnya. Ini berarti, jika tidak ada tindakan lain yang diambil, herd immunity akan meningkat ketika antara 50 hingga 70 persen populasi kebal.

"Tetapi tidak harus - dan tidak akan - dengan cara ini," kata Matthew Baylis, seorang profesor di Institute of Infection, Veterinary and Ecological Sciences di Liverpool University.

Science Alert mencontohkan herd immunity pada kasus penyakit gondong. Gondong adalah penyakit sangat menular yang, meskipun relatif jinak, sangat tidak nyaman dan kadang-kadang menyebabkan komplikasi seumur hidup. Gondong dapat dicegah dengan vaksin yang sangat efektif dan membuat penyakit ini sangat langka di zaman modern.

Gondong memiliki tingkat reproduksi (R0) 10-12, yang berarti bahwa dalam populasi yang sepenuhnya rentan atau tidak ada yang kebal terhadap virus - setiap orang yang terinfeksi akan menularkan penyakit kepada 10-12 orang lainnya.

Tanpa vaksinasi, kira-kira 95 persen populasi terinfeksi dari waktu ke waktu. Bahkan dengan sesuatu yang sangat menular ini, masih ada beberapa orang - 5 persen dari populasi - yang tidak jatuh sakit, karena begitu semua orang kebal, tidak ada orang yang dapat terkena penyakit itu.

Jumlah orang kebal dapat ditingkatkan dengan vaksinasi, karena vaksinasi membuat orang kebal terhadap infeksi dan menghentikan orang yang terinfeksi menularkan penyakit kepada semua orang. Jika kita bisa mendapatkan cukup banyak orang yang kebal terhadap penyakit ini, maka penyakit akan berhenti menyebar dalam populasi.

Itulah arti herd immunity, secara singkat.

Untuk penyakit gondong, dibutuhkan 92 persen populasi agar kebal terhadap penyakit dan virus tidak menyebar sepenuhnya. Inilah yang dikenal sebagai ambang herd immunity. COVID-19, untungnya, jauh lebih tidak menular daripada gondong, dengan perkiraan R0 sekitar 3.

Dengan jumlah ini, proporsi orang yang perlu terinfeksi agar kita mendapat herd immunity adalah sekitar 70 persen dari seluruh populasi. Hal ini membawa pada alasan mengapa herd immunity tidak pernah bisa dianggap sebagai tindakan pencegahan.

Jika 70 persen populasi terinfeksi penyakit, itu berarti tidak ada tindakan pencegahan. Dan tidak mungkin 70 persen orang yang terinfeksi itu hanya anak muda.

Jika hanya anak muda yang kebal, maka kelompok orang yang lebih tua tidak memiliki kekebalan sama sekali, sehingga sangat berisiko bagi siapa pun orang tua untuk meninggalkan rumah mereka.

Perkiraan terbaik menyebutkan tingkat kematian infeksi COVID-19 sekitar 0,5-1 persen. Jika 70 persen dari seluruh populasi jatuh sakit, itu berarti bahwa antara 0,35-0,7 persen dari setiap orang di suatu negara bisa mati.

Dengan sekitar 10 persen dari semua infeksi perlu dirawat di rumah sakit, Anda juga akan melihat sejumlah besar orang sakit, yang memiliki implikasi besar bagi sebuah negara.

Fakta yang menyedihkan adalah bahwa herd immunity bukanlah solusi untuk pandemi virus corona COVID-19. Herd immunity mungkin bisa terjadi, tetapi berharap itu akan menyelamatkan semua orang tidak realistis.

Membahas herd immunity lebih tepat ketika suatu penyakit sudah memiliki vaksin, sehingga pada saat itu kita dapat benar-benar menghentikan epidemi.

Sampai kita memiliki vaksin, siapa pun yang berbicara tentang herd immunity sebagai strategi pencegahan COVID-19 adalah salah, demikian menurut Gideon Meyerowitz-Katz, seorang ahli epidemiologi yang bekerja pada penyakit kronis di Sydney, Australia kepada Science Alert.

Untungnya, ada cara lain untuk mencegah penyebaran infeksi, yang semuanya bermula untuk menghindari orang yang sakit. Tetap tinggal di rumah, tetap aman, dan berlatih menjaga jarak fisik serta cuci tangan sesering mungkin.


Baca juga artikel terkait VIRUS CORONA atau tulisan menarik lainnya Dipna Videlia Putsanra
(tirto.id - Kesehatan)

Penulis: Dipna Videlia Putsanra
Editor: Agung DH
DarkLight