Menuju konten utama

Antisipasi Disabotase, Polisi Mendata Ambulans saat Demo Omnibus

Polda Metro Jaya dan Dinas Kesehatan DKI Jakarta melakukan pendataan ambulans saat demonstrasi UU Cipta Kerja, hari ini di kawasan Istana Negara.

Antisipasi Disabotase, Polisi Mendata Ambulans saat Demo Omnibus
Dua mobil ambulans baru tiba di RS Pusat Infeksi Sulianti Saroso pada Senin (2/3/2020) sore. tirto.id/M Bernie Kurniawan.

tirto.id - Polda Metro Jaya bekerja sama dengan Dinas Kesehatan DKI Jakarta perihal pendataan ambulans dalam unjuk rasa tolak Undang-undang Cipta Kerja hari ini di kawasan Istana Negara. Tujuannya agar ambulans tak digunakan oleh perusuh.

"Kami sudah koordinasi dari Dinas Kesehatan DKI untuk bisa mendata ambulans-ambulans yang ada, mengontrol [serta] membantu kami," ucap Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Yusri Yunus di Polda Metro Jaya, Selasa (20/10/2020).

Polisi akan menindak ambulans yang diduga membantu para demonstran tetapi bukan untuk keperluan medis, hal ini agar kejadian ambulans berisi batu tak terulang.

Unjuk rasa kali ini bertepatan dengan satu tahun pemerintahan Jokowi-Ma'ruf Amin. 10.587 aparat gabungan dikerahkan dalam aksi hari ini.

"Kami cadangkan juga 10 ribu personel TNI dan Polri di dua titik yaitu di Monas dan gedung DPR. Ini cadangan," imbuh Yusri.

Petugas juga akan mengamankan area sentra perekonomian agar tak menjadi sasaran demonstran. Elemen buruh akan kembali turun ke jalan, Konfederasi Persatuan Buruh Indonesia (KPBI) bersama Gerakan Buruh Bersama Rakyat (GEBRAK) pada 20-22 Oktober menyerukan seruan mobilisasi umum untuk unjuk rasa. Mereka meminta pemerintah mencabut pengesahan Omnibus Law.

"Perlawanan di jalanan ini akan dilakukan secara bersama-sama oleh Jejaring Gerakan Rakyat di berbagai daerah, mulai dari Medan, Lampung, Jambi, Palembang, Serang, Semarang, Solo, Bandung, Yogyakarta, Jember, Malang, Surabaya, Banjarmasin, Palangkaraya, Ternate, Bima, Makassar, Manado hingga Ibu Kota," ucap Wakil Ketua KPBI Jumisih, dalam siaran pers tertulis.

Sebelumnya, beredar video di media sosial ambulans yang ditembaki polisi dengan dugaan membantu demonstran mengirim logistik dan indikasi mengangkut batu. Tuduhan ini masih diselidiki oleh pihak kepolisian.

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Yusri Yunus menjelaskan perihal pengejaran ambulans oleh kepolisian di kawasan Cikini, Jakarta Pusat. Peristiwa bermula ketika aparat menghentikan ambulans dan motor, Selasa (13/10/2020)

"Karena ada indikasi, pada saat demonstrasi, berkeliaran relawan-relawan. Kami mendukung adanya bantuan relawan. Kemudian ada kecurigaan, informasi yang kami dapat bahwa ada yang mencoba memanfaatkan situasi saat itu. Sehingga dilakukan razia," kata Yusri di Polda Metro Jaya, Rabu (14/10/2020).

Rangkaian pertama ialah dua motor, kendaraan itu diberhentikan. Kedua, ada ambulans berisi tiga orang yang berjalan di belakang motor. Mobil itu berhenti dan turut diperiksa. Di bagian akhir, ada lagi ambulans yang ketika hendak dicek malah tancap gas lantas kabur. Salah satu penumpang di ambulans tersebut bahkan melompat dari dalam ambulans saat akan diperiksa petugas.

Kata Yusri, penumpang tersebut kemudian ditangkap. "[Ambulans] nyaris menabrak petugas saat mundur, terus diberhentikan lagi. Diadang di depannya malah maju dengan kecepatan tinggi dan nyaris menabrak petugas pada saat itu. Bahkan satu penumpang di dalamnya loncat, ini yang berhasil kami amankan. Inisialnya N," jelas Yusri.

Aparat kepolisian lalu menyisir daerah setempat, ambulans yang kabur itu ditemukan di Taman Ismail Marzuki, tiga orang lainnya diringkus. Polisi menduga ambulans tersebut untuk mengakomodasi tindakan kericuhan yang dilakukan pedemo penolak UU Cipta Kerja. "Dari hasil keterangan awal ada dugaan bahwa ambulans tersebut bukan untuk kesehatan, tapi mengirimkan logistik dan indikasi batu untuk para pendemo. Ini keterangan dari salah satu [penumpang] yang loncat," jelas Yusri.

Baca juga artikel terkait DEMO UU CIPTA KERJA atau tulisan lainnya dari Adi Briantika

tirto.id - Sosial budaya
Reporter: Adi Briantika
Penulis: Adi Briantika
Editor: Maya Saputri