tirto.id - Pada pertengahan 1930-an, sebuah gubuk terpencil berdiri di atas lidah karang Pulau Aiburanbondi, Teluk Cenderawasih. Di gubuk itu, seorang janda bernama Angganeta Menufandu terbaring lemah akibat penyakit beri-beri dan kerusakan kulit parah. Ia diasingkan oleh komunitasnya karena dianggap ajalnya hampir tiba.
Di kondisi keterasingan, ia bertahan hidup sebisanya: sambil melata di tanah karang untuk memetik akar tumbuhan dan mengumpulkan kerang di bawah hempasan ombak.
Namun, dari gubuk pengasingan itu pula di kemudian hari lahir gerakan sosial besar yang mengguncang tatanan kolonial Hindia Belanda di Tanah Papua.
Angganeta mengaku menerima penglihatan gaib. Ada sosok spiritual yang menyembuhkan penyakit kulitnya secara ajaib, lalu memberinya mandat memimpin rakyat menuju Koreri—tatanan adat yang menjanjikan kedamaian, keadilan, serta kelimpahan abadi.
Berita kesembuhan Angganeta pun menyebar cepat dari pulau ke pulau. Ribuan warga dari berbagai keret (marga/klan) menerabas pulau pengasingannya. Seiring bertambahnya jumlah peziarah, pusat kegiatan gerakan pun bergeser dari Aiburanbondi ke Pulau Insumbabi, wilayah yang diresmikan dengan nama sakral Judaea.
Kosmologi Koreri dan Mitos Manarmakeri
Ribuan peziarah yang berkumpul di Pulau Insumbabi digerakkan oleh keyakinan terhadap kosmologi lama yang mengakar dalam kebudayaan Biak-Numfor. Sosok gaib yang mendatangi Angganeta diyakini sebagai Manarmakeri (Manseren Koreri), pahlawan mitologis warga lokal.
Freerk Ch. Kamma merekonstruksi alur mitos tersebut secara utuh dalam “Koreri: Messianic Movements in the Biak-Numfor Culture Area” (1972: 26-95). Pahlawan mitologis itu semula bernama Yawi Nushado, petani di Gunung Yamnaibori. Ia meratapi ketidakbisaannya tinggal di dunia roh (Koreri). Tubuhnya telantar hingga digerogoti penyakit kulit parah. Warga menjulukinya Manarmakeri (berasal dari kata mansar 'kakek' dan armaker 'kudis'). Beberapa menamainya Sekfamneri (Yang Terbuang).
Saat warga Desa Sopen di pesisir selatan Pulau Biak mengucilkannya, Manarmakeri memilih berlayar pergi. Ia mengembara ke Pulau Meokwundi. Di sana, Manarmakeri menangkap Bintang Kejora (Sampari) yang mencuri nira kelapanya, lalu memeras rahasia keabadian dari entitas tersebut. Sampari memberinya petunjuk untuk melompat ke dalam kobaran api kayu besi. Berkat itulah ia bangkit kembali sebagai pemuda tampan berkekuatan gaib dan menghilangkan penyakit kulitnya (rer).
Seusai mendapatkan keabadian, Manarmakeri merubah namanya menjadi Manggundi, lalu melaut hingga Pulau Numfor. Ia juga mengajarkan ilmu tentang keabadian kepada khalayak, tetapi warga setempat meragukannya. Ia kemudian melempar batu penanda di Inaryori dan mengucapkan sumpah bahwa ia akan berlayar ke arah barat dan baru kembali saat waktunya tiba.

Bagi masyarakat Biak, alur mitos ini adalah archetype atau pola acuan hidup. Saat Angganeta diasingkan karena penyakit kulit, lalu mendadak sembuh di Aiburanbondi, warga membaca penanda spiritual itu, pulihnya kulit Angganeta dipandang sebagai bukti otentik mewujudnya kembali simbolisme pembaruan (rer), sebuah penanda bahwa masa kepulangan sang pembebas (Manarmakeri) dari Barat telah dekat.
Saat Ulayat Dihantam Jerat Pajak
Maciej J. Bartkowski, dalam Recovering Nonviolent History (2013: 218), mencatat bahwa pergeseran kekuasaan di Papua terus-menerus diiringi oleh gelombang perlawanan. Sepanjang 1850–1939, tercatat sedikitnya 42 gelombang pemberontakan warga meletus menentang kehadiran penguasa asing.
Bahkan menurut catatan Freerk Ch. Kamma (1972: 105), di wilayah Biak-Numfor, dari 1855 hingga 1967, sebanyak 45 gelombang perlawanan meletus.
Perlawanan yang berulang selama hampir seabad berakar pada penderitaan dan ketertindasan sehari-hari.
Kondisi alam Kepulauan Biak berbatu kapur tandus. Minimnya lahan subur memicu ketidakpastian pangan. Situasi itu melahirkan kerinduan kolektif terhadap k’an do mob oser, keinginan sederhana untuk dapat makan berkecukupan di satu tempat (hlm. 46).
Kesengsaraan rakyat Biak diperparah lagi oleh kebijakan baru pemerintah kolonial Belanda, terutama setelah mereka memperkokoh kekuasaannya di awal abad ke-20. Melalui penerapan sistem pajak uang dan kerja paksa pada 1912, beban hidup masyarakat kian tak tertahankan.
Warga biak dipaksa mendayung perahu berhari-hari menuju pusat administrasi distrik di Bosnik dan Korido untuk membangun infrastruktur kolonial—parit dan dermaga—di bawah ancaman polisi distrik. Bahkan, demi melunasi tuntutan pajak mereka terpaksa menjual benda-benda pusaka adat yang sakral (hlm. 219).
Kombinasi tekanan fisik dan kehancuran ekonomi pada akhirnya memicu gerakan pembebasan Koreri yang digaungkan oleh Angganeta. Perlawanan nirkekerasan paling terstruktur dalam sejarah kolonialisme Teluk Cendrawasih pun meletus.
Perlawanan Senyap dari Gelanggang Kidung Sakral
Ledakan perlawanan itu tidak lahir dari moncong senjata atau selebaran politik formal yang kaku. Ketika ruang bergerak disumbat rapat oleh Belanda, seperti pelarangan tradisi dan pembongkaran rum sram (rumah adat pemuda) pada 1924-1925, masyarakat Biak justru memahat panggung perlawanan mereka lewat denyut tradisi lisan: wor, lagu-lagu daerah yang diiringi bunyi tifa dan tari-tarian.
Julian Smythe dalam “The Living Symbol of Song in West Papua” (2013: 75) menjelaskan bahwa wor semula merupakan seni nyanyian dan tarian sakral pengiring siklus hidup—dari kelahiran, inisiasi di rumah adat pemuda, hingga kematian—guna merekatkan solidaritas antar-keret. Ketika memimpin gerakan, Angganeta mengambil alih tradisi wor, lalu meniupkan pesan pembebasan antikolonial ke dalamnya.

Kegelapan total menyelimuti Pulau Insumbabi saat malam-malam penyambutan zaman baru digelar tanpa nyala api. Alih-alih sunyi, gelanggang bubes justru bergetar oleh gemuruh tabuhan tifa jam pasir. Warga berkumpul dan menari memutar, membiarkan suara mereka menguar ke angkasa lewat lagu gubahan Angganeta seperti “Neno, Neno”. Kidung tersebut merupakan sebuah seruan bersama untuk memohon keselamatan bagi Tanah Papua.
Melalui untaian bait wor, kemerdekaan mereka dihidupi secara nyata saat setiap nyanyian mulai dikumandangkan. Sekat-sekat runtuh. Keret-keret yang masa lalunya dirundung perselisihan, kini berdiri tegak dalam posisi sejajar.
Solidaritas yang kian pekat itu sontak memicu kepanikan di kalangan pejabat kolonial Belanda dan para misionaris. Pada kurun waktu 1939 hingga 1941, mereka melancarkan pembunuhan karakter terhadap gerakan Koreri dengan melabelinya secara sepihak sebagai histeria massal yang irasional.
Saat Pembangkangan Sipil Menjelma Gerilya Semesta
Alih-alih meredam amarah, tindakan represif Belanda justru membakar habis sisa rasa takut warga. Angganeta dengan jeli mengubah energi spiritual dari gelanggang wor menjadi pembangkangan sipil terstruktur: dirancang khusus untuk melumpuhkan roda administrasi kolonial.
Menurut catatan Bartkowski (2013: 218), Angganeta dalam gerakannya memegang teguh prinsip nirkekerasan yang sakral: sepercik saja pertumpahan darah terjadi, jalan menuju tanah idaman Koreri akan batal.
Pada 1940-1941 warga serentak melakukan mogok massal dari kerja paksa dan menolak keras menyetor pajak. Atribut-atribut Barat ditanggalkan. Mereka kembali mengenakan cawat tradisional, menenggak saguer (tuak lokal yang dilarang keras oleh misionaris) di ruang publik, serta mematuhi saseno (pantangan adat) berupa larangan mengonsumsi daging babi dan buah labu.

Puncak pembangkangan simbolis mereka terjadi pada pertengahan 1941, melalui pengibaran bendera triwarna Belanda secara terbalik. Di tengahnya, mereka menyematkan gambar Bintang Kejora (Sampari) dan Salib—sebuah manifesto visual tentang pembalikan kekuasaan kolonial. Aksi boikot total ini sukses membekukan birokrasi Belanda di kawasan Teluk Cenderawasih.
Panik dengan situasi yang melebar, polisi kolonial bergerak cepat untuk menangkap Angganeta dan menjebloskannya ke jeruji besi Manokwari, pada Mei 1941.
Kehilangan figur sentral di tengah situasi yang kian genting memaksa gerakan Koreri beradaptasi dengan cepat, terlebih saat pengaruh Perang Dunia II mulai merangsek ke Tanah Papua. Sebagaimana disadur dari laporan Kamma (1972: 175), peta perlawanan mendadak bergeser drastis begitu pasukan Jepang menginjakkan kaki di Tanah Papua pada pertengahan 1942.
Penangkapan Angganeta memicu krisis kepemimpinan. Di luar dinding penjara, Stephanus Simopyaref—mantan tahanan politik dari Pulau Rani—muncul mengambil alih kendali gerakan Koreri. Meski tetap menempatkan Angganeta sebagai ratu spiritual, Stephanus mengubah haluan: menggeser strategi nirkekerasan menjadi taktik paramiliter agresif dengan membentuk milisi bernama A.B. (America-Babo).
Nama America-Babo lahir dari pemaknaan masyarakat Biak terhadap pergerakan tentara Amerika Serikat yang sedang merangsek naik dari arah Barat. Kehadiran pasukan Sekutu tersebut disambut riuh oleh warga sebagai penggenapan nubuat kedatangan kembali Manarmakeri untuk mengusir pendudukan fasis Jepang.
Kendati demikian, ekspektasi kosmis itu seketika berbenturan dengan realitas perang yang brutal di lapangan. Sebelum bala bantuan dari ufuk Barat tiba, kekejaman fasisme Jepang telah lebih dulu memotong urat nadi gerakan. Stephanu, yang nekat berlayar mencegat kapal Jepang pada pertengahan Juli 1942 guna menuntut pembebasan Angganeta, harus menerima kenyataan pahit. Misinya gagal total dan ia langsung diringkus.
Pada Agustus 1942, Angganeta Menufandu dan Stephanus Simopyaref dieksekusi mati di Manokwari.
Alih-alih meredam gerakan, hal itu justru meradikalisasi perlawanan di akar rumput. Aliansi militer Jepang keliru mengira pergerakan akan mati bersama para pemimpinnya, sebab kematian mereka justru memicu perlawanan bersenjata yang lebih berdarah di bawah komando Ronsumbre bersaudara. Taktik pun berganti menjadi perang gerilya semesta, yang kelak memuncak lewatv Pertempuran Manswam pada Oktober 1943.
Penulis: Rizqy M. Farhan
Editor: Fadli Nasrudin
Masuk tirto.id


































