Menuju konten utama

Andi Arief Ditangkap: Kenapa Politikus Ikut Terjerat Narkoba?

Andi Arief bukan satu-satunya politikus yang berurusan dengan polisi gara-gara narkoba.

Andi Arief Ditangkap: Kenapa Politikus Ikut Terjerat Narkoba?
ANDI ARIEF. ANTARA FOTO/MUHAMMAD ADIMAJA

tirto.id - Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat Andi Arief ditangkap tim Direktorat Tindak Pidana Narkoba Bareskrim atas dugaan kepemilikan narkoba. Hasil tes urine menyatakan Andi positif menggunakan methamphetamine atau narkoba jenis sabu.

Andi tentu bukan satu-satunya politikus yang harus berurusan dengan aparat penegak hukum gara-gara narkoba. Sederet politikus yang berkiprah di tingkat daerah sampai nasional pernah terjerat kasus serupa.

Sebut saja politikus Golkar Indra J. Piliang, politikus Gerindra Rama Diansyah, anggota DPRD Kabupaten Gorontalo Amin Mootalu, bekas Wakil Ketua DPRD Bali Jro Gede Komang Swastika, Ketua DPD PAN Jambi berinisial HZ dan anggota DPRD Tabanan I Nyoman Wirama Putra. Mereka adalah politikus yang terjerat kasus narkoba pada periode 2017 hingga saat ini.

Lantas apa penyebab politikus tersebut terjerat kasus narkoba?

Menurut peneliti sekaligus dokter adiksi dari Institute of Mental Health Addiction and Neuroscience (IMAN), Hari Nugroho, setiap orang yang menggunakan narkoba punya faktor pendorong yang berbeda-beda. Rata-rata, kata Hari, mereka menggunakan narkoba untuk meningkatkan performa tubuh.

"Untuk penguat supaya performanya lebih bagus," ujar Hari kepada reporter Tirto, Senin (4/3/2019).

Perasaan seperti ini juga tampaknya berlaku untuk politikus yang menggunakan sabu. Hari menduga, intensitas kegiatan politikus yang padat saat musim kampanye jadi salah satu pemicunya. Meski begitu, kecenderungan itu tidak bisa dipukul rata sebagai penyebab politikus menggunakan narkoba.

"Karena harus kampanye, harus berpergian ke daerah-daerah yang jauh. Mungkin pada akhirnya ia membutuhkan itu [narkoba], supaya ada stimulan agar kuat dan tidak mudah lelah," jelasnya.

Sabu, kata Hari, memang mampu menstimulasi kerja jantung dan otak lebih dari biasanya. Umumnya, orang yang mengonsumsi sabu akan merasa lebih pintar.

"Sifatnya menstimulasi tubuh. Membuat kerja jantung menjadi lebih tinggi. Menstimulasi otak menjadi bisa lebih mikir," paparnya.

Bahaya yang bakal muncul dari penggunaan sabu ini, kata Hari, antara lain stroke, serangan jantung, hingga gangguan kejiwaan. Buat berhenti dari kecanduannya pun, sebut Hari, bukan hal mudah. Butuh dorongan yang kuat dari dalam diri pemakai dan lingkungannya.

"Kalau ia mengalami ketergantungan, butuh waktu yang panjang. Bahkan bisa seumur hidup, karena proses kambuh itu bisa sering terjadi," tandasnya.

Karena Tak Cerdas

Ketua Umum Gerakan Nasional Anti Narkotika (Granat) Henry Yosodiningrat menilai politikus yang menggunakan narkotika adalah pribadi yang sangat bodoh.

"Seorang politisi yang menggunakan narkotika disebabkan ketololan saja. Kalau ia cerdas tidak akan pakai," ujar Henry saat dihubungi reporter Tirto, Senin (4/3/2019).

Menurut politikus PDI Perjuangan ini, seseorang yang memutuskan menjadi politikus seharusnya siap menjadi panutan masyarakat dan memiliki wawasan yang luas. Salah satunya dengan tidak menggunakan narkotika.

Ia pun menduga, politikus yang tertangkap menggunakan narkoba bukan pengguna baru melainkan sudah lama menjadi pencandu.

"Baru ketahuan setelah menjadi politisi," ujarnya.

Lantaran itu, Henry menyebut surat keterangan bebas narkoba yang dimiliki calon legislatif bukan jaminan caleg tersebut bersih dari narkoba. Surat tersebut, kata dia, bisa direkayasa.

"Bisa saja orang yang memakai itu menjadwalkan juga, sekian lama tidak pakai [narkotika] supaya waktu tes hasilnya negatif. Jadi tidak ada jaminan surat bebas narkotika dari rumah sakit itu," ujarnya.

Terkait penangkapan Andi Arief, Henry mengaku mengapresiasi kinerja polisi. Ia pun meminta penangkapan ini tidak dipolitisasi, lantaran polisi dianggapnya sudah bekerja sesuai prosedur dalam penangkapan Andi Arief.

"Polisi tidak akan gegabah kalau tidak ada barang bukti," pungkasnya.

Baca juga artikel terkait KASUS NARKOBA atau tulisan lainnya dari Alfian Putra Abdi

tirto.id - Hukum
Reporter: Alfian Putra Abdi
Penulis: Alfian Putra Abdi
Editor: Gilang Ramadhan & Mufti Sholih