American Horror Story Lebih dari Sekadar Jerit dan Darah

Reporter: Aulia Adam, tirto.id - 24 Jul 2017 12:00 WIB
Dibaca Normal 5 menit
American Horror Story jadi salah satu referensi tontonan horor era ini. Ada balutan isu sosial yang menerjemahkan ketakutan-ketakutan terdalam manusia.
tirto.id - Kamis malam, 20 Juli 2017 waktu setempat, orang-orang di San Diego Comic Con dikumpulkan di pinggir sebuah teluk untuk menonton sebuah teaser sinetron. Video itu cuma berdurasi 52 detik, tapi orang-orang berbondong ingin menyaksikannya. Pihak pemasaran memakai cara tak biasa untuk memutar teaser itu: mereka memproyeksikan videonya di atas air teluk.

Pada dua detik pertama, video itu dibuka dengan lambang heksagonal yang digambar di sebuah kain—semacam bendera—berwarna hitam merah. Lalu kepala seorang wanita berbedak tebal disorot dari atas. Tangan-tangan badut tiba-tiba muncul dari segala sudut, seolah-olah akan menggerayangi wanita itu. Lalu, muka-muka badut botak dengan riasan wajah seram muncul, berjalan kompak dengan pola tertentu. Sebagian lain membawa palu, dan salah satunya—yang berjenggot—tiba-tiba berbalik badan berteriak kencang.

Sesosok berwig biru bersujud di tengah-tengah lingkaran badut, memakai tanktop hitam. Seorang perempuan serupa Katy Perry tampak bingung di kerumunan badut. Dan semua adegan itu dilatarbelakangi suara rendah seorang pria yang berbisik:


“Kau pernah merasa sendiri? Pernah merasa tak seorang pun mengerti dirimu? Apa sebagian orang malah membuatmu muak? Kau takut? Kami bisa membuatmu merdeka. Kami akan membuatmu kuat. Kami mau kamu!” badut-badut itu menunjuk penonton saat sampai di kalimat terakhir.

Video itu memang berpotensi membuat bulu kuduk berdiri. Ia jadi video teaser kedua dari sinetron American Horror Story (AHS) yang musim tujuhnya akan tayang 5 September mendatang. Video itu pun menjadi trending topic. Di Amerika Serikat, Google bahkan mencatatnya sebagai topik ketiga yang paling sering dibicarakan internet pada 20-21 Juli lalu. Twitter diramaikan tanda pagar #AHSCult, yang resmi jadi judul musim terbaru AHS tahun ini. Para badut itu rupanya sedang melakukan pengultusan (kultus/cult) alias pemujaan.

Sejak itu, internet masih ramai membahas AHS. Kebanyakan penggemar sinetron ini berusaha menerka kaitan pemilihan presiden Amerika Serikat tahun lalu, dan badut serta kultus yang jadi tema musim ini.

Sejak kemunculannya pada 2011 silam, serial AHS yang ditayangkan FX, memang selalu jadi salah satu sinetron yang ditunggu-tunggu. Kesuksesannya meraup jumlah penonton yang tinggi melalui musim pertama menjadi salah satu alasan mengapa antologi cerita horor ini terus berlanjut hingga kini memasuki musim ketujuhnya.

Ryan Murphy, produser sinetron terkenal di Hollywood adalah dalang di balik kesuksesan AHS. Ide Murphy tergolong segar. Salah satu yang membedakan AHS dengan sinetron lainnya adalah pangkal ceritanya yang selalu berbeda di setiap musim. Jika sinetron pada umumnya diisi oleh cerita sejumlah tokoh yang sama dari musim satu hingga bermusim-musim berikutnya, pada AHS setiap musimnya diisi cerita yang berbeda.

Di musim pertama, "AHS: Murder House", Murphy menyuguhkan kisah rumah berhantu yang selalu memakan korban. Di musim kedua, ia mempertontonkan kegilaan di rumah sakit jiwa tahun 1960-an yang sangat seram dan sadis dengan judul "AHS: Asylum". Di musim ketiga, cerita berganti fokus ke arah dunia sihir hitam alias perdukunan di Amerika Serikat dengan judul "AHS: Coven".

Tiap musim, AHS memang tampil dengan tema yang beda. Masing-masingnya punya awal, tengah, dan pengujung masing-masing. Namun, selalu ada satu dua belokan plot yang membuat tiap musim punya kaitan dengan musim lainnya. Perbedaan tema di tiap musim ini yang kemudian jadi salah satu hal yang paling ditunggu-tunggu penggemar setia AHS. Terbukti dari jumlah penontonnya yang selalu membeludak di episode pilot setiap musim.


AHS: Murder House misalnya, mendapat 3,22 juta penonton untuk episode pertamanya. Ia bahkan tak hanya dirayakan oleh penonton Amerika Serikat saja. Menurut data TV By The Numbers, jumlah menonton itu diraup AHS dari 59 negara. Musim pertama tersebut jadi premier paling banyak ditonton dalam sejarah FX. Jumlah penonton tersebut juga berhasil dipertahankan sampai episode terakhir, yang juga mendapat 3,22 juta penonton.

“Angkanya sangat kuat, ini menakutkan. American Horror Story telah membawa berbondong-bondong penonton baru dan membuatnya masuk ke daftar sinetron andalan,” kata Hernan Lopez, Presiden Fox International Channels.

Jumlah penonton juga meledak di musim kedua, "AHS: Asylum." Jumlah penontonnya menembus musim sebelumnya, hingga mencapai 3,85 juta penonton. Angka ini terus naik. Bahkan untuk episode pilot musim kelima, "AHS: Hotel", jumlah penonton mereka menembus angka 5,81 juta. Hal ini erat kaitannya dengan kehadiran Lady Gaga sebagai tokoh utama musim tersebut. Tapi, rating paling tinggi masih dipegang episode pertama musim keempat, "AHS: Freak Show", yang punya 6,13 juta penonton.

Barang dagangan lain AHS adalah fakta bahwa aktor-aktor dalam miniseri ini juga memerankan karakter berbeda-beda dalam tiap musim. Misalnya Jessica Lange, aktris kedua yang memerankan si gadis cantik penakluk King Kong dalam film King Kong (1976), selama empat musim pertama dipilih sebagai tokoh utama yang punya karakter berbeda-beda.

Di "Murder House", Lange berperan sebagai Constance Langdon, tetangga usil yang menyimpan rahasia rumah berhantu. Di Asylum, ia memerankan Sister Jude Martin, suster kepala yang menjalankan asilum mengerikan tersebut. Sementara di musim ketiga dan keempat ia memerankan, Fiona Goode, seorang pemimpin penyihir berkekuatan sihir hitam, dan Elsa Mars, seorang pemimpin sirkus berisi orang-orang dengan cacat fisik.

Di dek pemain, Murphy juga sering menyelipkan nama-nama besar sebagai cameo. Misalnya Neil Harris Pattrick, Adam Levine, Patti LuPone, Stevie Nicks. Selain jadi karakter utama di musim kelima, Lady Gaga juga tampil jadi cameo di musim keenam, AHS: Roanoke. Tentu saja, dek pemain tak hanya kuat karena cameo. Kebanyakan penghargaan yang diraih AHS di sejumlah ajang bahkan dimenangkan karena kualitas lakon para aktor.

Jessica Lange memenangi Outstanding Supporting Actress in Miniseries or Movie dan Outstanding LeadActress in a Miniseries or a Movie. Ia juga mendapat Golden Globe sebagai Best Supporting Actress in a Series, Miniseries, or a Television Movie. Lady Gaga juga meraih piala Golden Globe pertamanya sebagai Best Actress in Miniseries or Television Film. Total penghargaan yang diraih AHS selama ini adalah 59 kemenangan dari total 230 nominasi yang diterima.

infografik american horror story


Bukan Horor Biasa

Hari ini, tak banyak tontonan horor di televisi yang bisa bertahan begitu lama dengan jumlah penonton yang tak sedikit. Musim ketujuh memang belum tayang, tapi FX sudah berani mengkonfirmasi bahwa AHS akan berumur panjang sampai musim kesembilan. Tak banyak studio televisi yang berani mengambil risiko mengumumkan penambahan musim sebanyak itu, bahkan ketika rating musim sebelumnya tak diketahui karena belum tayang. Ini sebuah kepercayaan diri sekaligus risiko besar.

Modalnya cuma “angka-angka yang bagus dan keyakinan,” kata CEO FX Networks John Landgraf. “Setiap bab baru AHS adalah peristiwa kebudayaan, dicintai karena setiap pelintiran tamsil, gaya, pemain, dan plotnya."

Para kritikus memang mengakui kreativitas tinggi Murphy dalam menyajikan AHS tiap musimnya. Di Rotten Tomatoes, sebuah situs agregator review, tiap musim AHS selalu didominasi ulasan-ulasan positif. Ini disebabkan narasi AHS tak melulu tentang adegan jumpscare (dadakan yang mengejutkan), tayangan gelap, setan-setan seram, dan darah kental. Ada balutan isu sosial yang menerjemahkan ketakutan-ketakutan terdalam manusia dalam tiap kisahnya.

Murphy selalu menggabungkan teror-teror klasik dalam membuat film horor dengan kedalaman naskah yang menggali ketakutan-ketakutan itu. Misalnya karakter-karakter yang diperankan Lange selalu punya benang merah sebagai wanita tua yang takut kehilangan masa jayanya dimakan usia. Ada perasaan insecure yang berubah jadi ketakutan terbesarnya dalam menghadapi fakta bahwa ia menua. Tua, bagi sebagian manusia jadi momok karena identik dengan kesendirian, ketidakberdayaan, dan kematian.

Ken Tucker dari Entertainment Weekly setuju kalau AHS “cukup menakutkan, hampir di sekujur musim.” Menurutnya, tak ada yang bisa lolos dari “kebuntuan moral dan emosional yang buruk” yang jadi dagangan utama sinetron ini sebagai komoditi horornya. Semua itu digambarkan lewat teknik dasar film horor dengan parade “teriakan, seks, goncangan-goncangan, muka bonyok, perilaku psikotik, dan bayi-bayi yang mati.”

Baca juga:

Murphy juga sering kali memasukan isu-isu sosial seperti seksualitas, feminisme, diskriminasi pada disabilitas dan orang-orang dengan kesehatan mental. Ia menggali stigma-stigma yang ada di masyarakat, kemudian menampilkannya sebagai horor yang menggerogoti hidup tokoh-tokoh AHS. Semua itu ia bercampur dengan beberapa adaptasi dari kisah nyata. Maka, ketakutan yang muncul dari menonton AHS bisa sungguh nyata. Setidaknya ini adalah sebagian kecil perkara yang membuat AHS jadi acara televisi paling mengerikan saat ini, menurut Jordan Basset dari NME.

Di musim terbarunya, "AHS: Cult" akan bercerita tentang sisi horor yang terinspirasi dari pemilu presiden AS tahun lalu. Dari dua teaser yang disebar, sejumlah nama aktor besar yang didapuk, dan pemilihan tema kultus, AHS kali ini tampaknya memang tak akan jauh-jauh dari cerita fanatisme yang begitu terasa dalam pemilu tersebut. Badut-badut dan bendera hexagonal dalam teaser agaknya akan bercerita tentang sekte-sekte fanatik yang kelak memakan korban. Sisanya masih susah ditebak, persis sesuai keinginan FX yang sengaja memainkan rasa penasaran penggemar.

“Ketika Ryan [Murphy] dan Brad [Falchuck] datang pada kami tujuh tahun lalu, dengan gagasan untuk sebuah antologi serial horor, yang para aktornya muncul setiap tahun dengan karakter, latar, dan periode waktu berbeda, kami kagum belaka dengan orisinalitas dan ambisi visi mereka,” kata dua CEO dan Dewan Grup Fox TV Dana Walden dan Gary Newman. “Sejak itu, mereka telah membuat enam instalasi [serial] fantastis, yang telah menarik jutaan pemirsa, kritik baik, dan lusinan penghargaan.”

Baca juga artikel terkait SERIAL TELEVISI atau tulisan menarik lainnya Aulia Adam
(tirto.id - Film)

Reporter: Aulia Adam
Penulis: Aulia Adam
Editor: Maulida Sri Handayani

DarkLight