Lebaran 2021

Amalan Sunah di Hari Idul Fitri: Sebelum & Sesudah Sholat Ied

Oleh: Abdul Hadi - 11 Mei 2021
Dibaca Normal 3 menit
Amalan sunah saat Hari Raya Idul Fitri dan hal-hal apa boleh dilakukan sebelum & sesudah Salat Ied.
tirto.id - Di Indonesia, perayaan Hari Raya Idulfitri disambut dengan semarak dan gagap gempita.

Di hari-hari normal, para perantau biasanya mudik ke kampung halaman, berkumpul bersama sanak-kerabat dan keluarga besarnya. Pada malam Lebaran, diselenggarakan juga takbir keliling dan acara-acara meriah lainnya.

Kendati menyemarakkan Lebaran merupakan bagian dari sunah, namun Islam menganjurkan agar momen Idulfitri juga diisi dengan amalan yang bernilai ibadah.

Artinya, kegembiraan Lebaran bukanlah kesenangan sia-sia, tetapi juga bagian dari syiar Islam di lingkungan masyarakat sekitar.

Secara umum, amalan sunah pada Lebaran dapat dibagi menjadi dua, yaitu amalan sunah sebelum dan sesudah salat Id.

Berikut ini amalan sunah yang dianjurkan pada Hari Raya Idulfitri, sebagaimana dilansir NU Online:

Amalan Sunah Sebelum Salat Id


Sebelum salat Id, terdapat sejumlah amalan yang dapat dipraktikkan seorang muslim agar memperoleh berkah di Hari Raya Idulfitri.

Salah satu hikmah amalan sunah tersebut agar memberikan kenyamanan dan ketentraman dalam melangsungkan ibadah.

1. Mandi pagi

Menyambut Hari Raya Idulfitri, setiap muslim dianjurkan untuk berbenah diri, mandi, membersihkan tubuhnya agar tidak mengganggu jemaah salat Idulfitri yang lain.

Kesunahan mandi pagi pada subuh atau pagi Lebaran berdasarkan teladan dari Nabi Muhammad bahwasanya:

"Beliau SAW mandi pagi pada Hari Raya Iduladha dan Idulfitri," (H.R. Ibnu Majah).

2. Mencukur rambut, merapikan kuku, dan memakai parfum

Pada pagi hari Lebaran, seorang muslim dianjurkan untuk mencukur rambut, merapikan kuku, mengenakan wangi-wangian, dan berpenampilan rapi, serta tidak awut-awutan menyambut Hari Raya Idulfitri.

Diceritakan bahwasanya Rasulullah SAW suatu waktu menyuruh Ali bin Abi Thalib untuk mengenakan parfum yang paling bagus pada Hari Raya Idulfitri.

3. Makan sejenak sebelum salat Id

Sebagai penanda bahwa pada Hari Raya Idulfitri tidak lagi berpuasa, seseorang disunahkan untuk makan pagi sebelum berangkat salat Id, walau hanya sedikit.

Anjuran makan tersebut tertera dalam hadis yang diriwayatkan Abdullah bin Buraidah RA, ia berkata:

“Rasulullah SAW biasa berangkat salat Id pada hari Idulfitri dan sebelumnya beliau makan terlebih dahulu. Sedangkan pada hari Iduladha, beliau tidak makan lebih dulu kecuali setelah pulang dari salat Id, baru beliau menyantap hasil kurbannya,” (H.R. Ahmad).

4. Berjalan kaki ke tempat salat

Jika tempat salatnya tidak terlalu jauh, maka disunahkan untuk berjalan kaki menuju musala, masjid, atau tanah lapang tempat diselenggarakannya salat Idulfitri.

Hal ini sejalan dengan pernyataan Ali bin Abi Thalib, ia berkata:

"Termasuk sunah Nabi Muhammad adalah keluar menuju tempat salat Id dengan berjalan kaki,” (H.R. Tirmidzi).

Amalan Sunah Setelah Salat Id


Setelah salat Id, terdapat amalan sunah lainnya untuk mengisi Lebaran hingga matahari terbenam. Kegembiraan seorang muslim jika diniatkan untuk meneladani Rasulullah SAW bernilai ibadah di sisi Allah SWT.

1. Pulang dengan rute jalan yang berbeda

Ketika pulang usai salat Id, seorang muslim dianjurkan untuk mengambil rute berbeda. Hikmahnya, setiap langkah kaki menuju tempat ibadah bernilai pahala di sisi Allah.

Dengan mengambil rute berbeda, ia juga bertemu dengan orang-orang yang lain, serta saling memberi salam dan selamat hari raya.

Kesunahan pulang dengan rute berbeda ini tertera dalam riwayat dari Imam Bukhari:

"Jika hari raya Id tiba, Nabi Muhammad biasa menempuh jalan lain [ketika berangkat dan pulang],” (H.R. Bukhari).

2. Mendatangi keramaian

Salah satu cara menyemarakkan Idulfitri adalah dengan mendatangi keramaian dan bergembira bersama sesama muslim.

Diceritakan bahwa suatu waktu Rasulullah SAW menemani Aisyah mendatangi sebuah pertunjukan atraksi tombak dan perisai.

Saking senangnya, Aisyah sampai menjengukkan kepalanya di atas bahu Rasulullah hingga ia selesai menyaksikan pertunjukan tersebut dengan puas.

3. Bersilaturahmi ke kerabat dan tetangga

Usai salat Idulfitri, seseorang dianjurkan untuk mengunjungi rumah sanak-kerabat, kolega kerja, tetangga sekitar, dan sebagainya.

Dengan mengunjungi rumah saudara sesama muslim, diharapkan hubungan akan kian erat dan mendatangkan berkah di sisi Allah SWT, sesuai sabda Rasulullah:

“Barangsiapa ingin dilapangkan pintu rezeki untuknya dan dipanjangkan umurnya hendaknya ia menyambung tali silaturahmi,” (H.R. Bukhari)

Pada Hari Raya Idulfitri, sesama muslim juga dianjurkan untuk saling memberi ucapan selamat hari raya. Dalam Islam, tidak ada redaksi baku dalam ucapan selamat tersebut.

Di tiap daerah, pernyataan selamat hari rayanya beragam, sebagai misal, "taqabbala allâhu minnâ wa minkum”, “kullu ‘âmin wa antum bi khair”, “selamat hari raya Idulfitri”, “minal aidin wa al-faizin”, “mohon maaf lahir batin”, dan lain sebagainya.


Salat Idulfitri di Masa Pandemi dan Perayaan Lebaran 1442 H/2021


Karena pandemi Covid-19 yang belum mereda di Indonesia, maka Kementerian Agama (Kemenag) RI mengeluarkan aturan melalui Surat Edaran (SE) Nomor 7 Tahun 2021 (PDF).

Aturan Itu mengatur penyelenggaraan salat Id secara berjemaah yang melibatkan banyak orang, seperti di lapangan atau masjid, tak diperkenankan di wilayah zona oranye dan merah yang status penularan Covid-19 masih tinggi.

Pelaksanaan salat Idulfitri 2021 secara berjemaah, yang melibatkan banyak orang, hanya diperkenankan di wilayah berstatus zona hijau dan kuning yang tingkat penularannya rendah.

Meskipun demikian, salat Id berjemaah di kawasan dengan tingkat penularan Covid-19 rendah tetap harus dilaksanakan dengan protokol kesehatan yang ketat.

Misalnya, jumlah jemaah dibatasi cuma 50 persen dari kapasitas tempat salat Id, harus ada batasan jarak antarsaf, serta wajib mengenakan masker.

Selain itu, perayaan Lebaran juga dibatasi dengan ketat. Sejak 6-17 Mei 2021, para perantau dan pekerja migran dilarang mudik untuk meminimalisasi penyebaran Covid-19.

Pada malam Lebaran, Kemenag juga melarang kegiatan yang mengundang keramaian saat menyambut Idul Fitri, seperti takbir keliling.

Acara takbiran sebaiknya hanya dilakukan di masjid atau musala dengan mematuhi protokol kesehatan dengan ketat.

Tidak hanya itu, bagi wilayah yang tinggi angka penyebaran Covid-19, maka kegiatan silaturahmi pun diimbau di keluarga inti saja, tidak mengunjungi tetangga, kolega kerja, ataupun sanak kerabat yang lainnya.

Sebagai gantinya, silaturahmi, acara halalbihalal, dan bermaaf-maafan dapat dilakukan melalui media virtual.


Baca juga artikel terkait SALAT IED atau tulisan menarik lainnya Abdul Hadi
(tirto.id - Sosial Budaya)

Kontributor: Abdul Hadi
Penulis: Abdul Hadi
Editor: Dhita Koesno
DarkLight