Ajudan-Ajudan daripada Soeharto yang Jadi Pembesar Republik

Try Sutrisno, bekas ajudan daripada Soeharto yang jadi wakil presiden. FOTO/wikipedia
Oleh: Petrik Matanasi - 2 Juli 2019
Dibaca Normal 3 menit
Soeharto mengambil perwira unggul untuk dijadikan ajudan. Beberapa di antaranya kemudian jadi petinggi ABRI, bahkan wapres.
tirto.id - Wismoyo Arismunandar barangkali punya riwayat pendidikan yang tidak secemerlang saudari-saudaranya. Tapi urusan pencapaian di bidang pekerjaan yang digeluti, Wismoyo terbilang sukses. Setidaknya dia mencapai pangkat jenderal bintang empat, dengan jabatan tinggi yang pernah diraihnya adalah Komandan Jenderal Komando Pasukan Khusus (Danjen Kopassus) dan Kepala Staf Angkatan Darat (Kasad).

Terence Lee dalam Defect Or Defend: Military Responses to Popular Protests in Authoritarian Asia (2015: 130) menyebut Wismoyo Arismunandar, di awal kariernya, sempat menjadi pengawal Presiden Soeharto selama tiga tahun. Masa-masa menjadi pengawal itu tampaknya sangat penting dalam hidup Wismoyo. Dia berhasil ketemu jodohnya. Lelaki kelahiran 10 Februari 1940 itu meminang Datit Siti Hardjanti pada 1968. Datit adalah adik ibu negara Siti Hartinah Soeharto.

Wismoyo hanya salah satu contoh pengawal yang belum dianggap ajudan. Beberapa mantan ajudan pun punya karier yang cemerlang seperti Wismoyo.

Istilah 'ajudan' berasal dari kata bahasa Belanda 'adjudant', yaitu pangkat setara pembantu letnan di tentara kerajaan di Hindia Belanda (KNIL). Pangkat ini tak ada lagi di TNI. Di bawah letnan dua saat ini hanya ada pembantu letnan satu (peltu) dan pembantu letnan dua (pelda). Pengisi kepangkatan ini adalah bintara tinggi yang sudah lama jadi sersan.

Ajudan tidak hanya jabatan di ketentaraan. Di zaman kolonial, raja-raja lokal di Hindia Belanda biasanya diangkat sebagai Ajudan Istimewa Ratu Belanda. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, 'ajudan' diartikan perwira yang diperbantukan kepada raja, presiden, atau perwira tinggi dan biasanya diberi tugas mengurus segala keperluan yang berhubungan dengan pekerjaan atasannya.

Di luar itu, ajudan kerap dipahami sebagai pengawal oleh masyarakat awam. Ini karena masyarakat melihat seorang ajudan selalu ikut ke mana saja layaknya pengawal yang menjaga dan mengamankan bosnya.

Try Sutrisno dan Lainnya

Dari sekian banyak jenis ajudan, posisi ajudan presiden, apalagi ajudan presiden Soeharto, dianggap sebagai batu lompatan karier terhebat bagi beberapa perwira Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI). Setidaknya, beberapa mantan ajudan Soeharto tidak hanya menjadi jenderal, tapi juga orang penting di jajaran tinggi ABRI. Sebutlah Try Sutrisno, Wiranto, dan Subagyo Hadi Siswoyo.

Sebelum era Try Sutrisno, Eddie Marzuki Nalapraya, yang pernah jadi Ajudan Panglima Kodam Siliwangi, pernah ditunjuk menjadi komandan pengawal pribadi daripada Soeharto sejak 1967. Belakangan Eddie meraih pangkat mayor jenderal dan pernah menjabat Kepala Staf Kodam Jakarta Raya (Jaya) dan Wakil Gubernur Jakarta.

Beberapa orang yang pernah mengawal Soeharto memang pernah menjadi orang penting di Provinsi DKI Jakarta. Try Sutrisno mengalaminya juga. Seperti dicatat Harsya Bachtiar dalam Siapa Dia Perwira Tinggi TNI AD (1989: 418), Try menjadi ajudan presiden dari 1974 hingga 1978.

Try Sutrisno, seperti tercatat dalam Pak Harto: The Untold Stories (2012: 130-130), mengaku dirinya pernah mengawal Soeharto dalam sebuah perjalanan rahasia—semacam blusukan—ke daerah yang tidak diketahui oleh pejabat daerah tersebut.

Setelah 1978, karier Try naik menjadi Kepala Staf Kodam Udayana (Bali dan Nusa Tenggara), lalu Panglima Kodam Sriwijaya (Sumatra bagian selatan), lalu Panglima Kodam Jaya. Ketika jadi Panglima Kodam Jaya inilah pembantaian Tanjung Priok terjadi. Try akhirnya menjadi Kasad dari 1986 hingga 1988. Sebelum jadi wakil presiden, Try Sutrisno menjabat Panglima ABRI dari 1988 hingga 1993.


Jejak Try Sutrisno hampir persis diikuti oleh Wiranto. Wiranto jadi ajudan presiden dari 1989 hingga 1993. “Atas pengangkatan itu, Wiranto mengucapkan terimakasih kepada Kivlan Zen di kantornya di Merdeka Timur,” aku Kivlan Zen dalam Konflik dan Integrasi TNI AD (2004: 72).

Menurut Kivlan, berkat dirinya dan Prabowo Subianto lah Wiranto mendapat jabatan yang separuh anugerah itu.

Wiranto menikmati periode sebagai ajudan. Dia mengaku belajar banyak dari Soeharto. Setelah melewati masa “pendidikan” itu, Wiranto menjadi Kepala Staf Kodam Jaya dan akhirnya Panglima Kodam Jaya. Dia lalu menempati posisi Panglima Kostrad, kemudian Kasad, dan akhirnya Panglima ABRI merangkap Menteri Pertahanan Keamanan (Menhankam) di tahun-tahun terakhir kekuasaan daripada Soeharto.

Sjafrie Sjamsoedin, yang lulus bersama Prabowo Subianto di tahun 1974, pun pernah jadi ajudan daripada Soeharto. “Sebagai komandan Grup A Pasukan Pengamanan Presiden (Paspampres) pada 1995 saya mengawal Pak Harto mengunjungi Bosnia Herzegovina,” aku Sjafrie dalam Pak Harto: The Untold Stories (hlm. 73). Di Bosnia, Soeharto tidak mendapat gangguan

Gangguan muncul saat Soeharto berada di Dresden. “Saat itu pengawal resmi Pak Harto hanya tiga orang,” tutur Sjafrie (hlm. 78-79).

Sjafrie kewalahan oleh para demonstran. Pada 5 April 1995 Soeharto jadi sasaran demonstran pro-Timor Timur. Sjafrie ingat, “tidak hanya mengacung-acungkan poster, tapi ada yang melempar-lempar telur, melempar kertas dan lainnya.”

Peristiwa itu tak bikin karier Sjafrie macet. Setelahnya dia menjadi komandan Korem Surya Kencana, lalu Kepala Staf Garnisun Tetap (Kosgartap) I Jakarta, dan kemudian Kepala Staf Kodam Jaya dengan pangkat brigadir jenderal. Konco Prabowo ini akhirnya menjadi Panglima Kodam Jaya dengan pangkat mayor jenderal. Sjafrie adalah panglima di Jakarta waktu Soeharto lengser dari kursi kepresidenan.

Mantan ajudan yang terkenal lainnya adalah Subagyo H.S. Dia senior Prabowo di Kopassus. Subagyo, yang ikut serta dalam Operasi Pembebasan Sandera Pesawat Woyla 1981, kariernya melesat setelah tak jadi ajudan presiden. Subagyo setidaknya pernah menjadi Danjen Kopassus dan Kasad.

Selain itu, ada pula ajudan bernama Soeyono. Dia seperti bapak mertuanya, Brigadir Jenderal Sugandhi, tokoh Golkar dari unsur Musyawarah Kekeluargaan Gotong Royong (MKGR), yang jadi ajudan Presiden Sukarno.



Ajudan adalah Murid

Setelah 1980-an, ketika orang-orang Angkatan 45 terlalu uzur untuk jadi pejabat, banyak perwira generasi sesudahnya yang masuk ke jajaran petinggi pemerintahan. Mau tidak mau Soeharto harus mencari bibit unggul dan terpercaya bagi kepemimpinan di ABRI atau bidang lainnya di pemerintahan.

“Ketika ABRI—sejak masa kepanglimaan Moerdani—sudah secara berangsur menunjukkan sikap tidak ingin terus bergantung kepada Soeharto, sejak itu pula bapak Presiden beralih mengandalkan orang-orang yang secara pribadi dikenalnya,” catat Salim Said dalam Menyaksikan 30 Tahun Pemerintahan Otoriter Soeharto (2016: 198). Ini terlihat dari pemilihan pejabat dari orang yang berlatar belakang ajudan presiden.

Akhirnya, periode menjadi ajudan presiden pun terasa seperti masa pengkaderan penting bagi sebagian perwira. Wiranto, dalam Pak Harto: The Untold Stories (hlm. 580-581), diberi wejangan yang mencerahkan dari Soeharto ketika pertama kali melapor sebagai ajudan.

“Tiga tahun adalah waktu yang tidak lama. Selama itu kamu akan mendapatkan pendidikan yang tidak pernah kamu dapatkan sebelumnya, karena kamu boleh membaca surat-surat saya sebagai presiden RI, bisa mendengar ucapan-ucapan saya, mendampingi saya menerima tamu-tamu negara,” begitu kata Soeharto.

Wiranto tentu belajar banyak. Setelah karier militernya lancar, dia tahu caranya menjadi pejabat negara, meski pernah gagal jadi presiden.

Baca juga artikel terkait AJUDAN PRESIDEN atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Ivan Aulia Ahsan
DarkLight