Menuju konten utama
Studi Covid-19 Terbaru

50% Penderita Long COVID Tak Pulih Setelah Setahun, Kata Studi

Studi COVID terbaru menemukan 50% penderita Long COVID Panjang tidak pulih bahkan setelah satu tahun.

50% Penderita Long COVID Tak Pulih Setelah Setahun, Kata Studi
Ilustrasi penyintas long COVID. foto/Istockphoto

tirto.id - Sebuah studi Long COVID terbaru yang dilakukan secara besar-besaran terhadap 1 juta orang menemukan bahwa 42% pasien COVID tidak benar-benar pulih bahkan setahun setelah terinfeksi.

Long COVID adalah ancaman dan sedang ditangani di tingkat global saat ini. Hal ini juga menunjukkan bahwa Long COVID memang telah merusak kualitas hidup seseorang.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bersama dengan lembaga kesehatan lainnya pun menyadari ada kondisi kesehatan serius yang terjadi setelah infeksi COVID dan mengganggu kualitas hidup orang yang terinfeksi selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.

Long COVID bukanlah kumpulan penyakit atau gejala yang jelas. Studi penelitian ini telah menemukan lebih dari 50 tanda dari long COVID.

Dari total 102.473 peserta yang diundang untuk penelitian ini, hanya 6.235 peserta yang hasil tesnya negatif, tetapi sebelumnya mereka juga pernah menderita COVID.

Sementara 96.238 peserta masih merasakan beberapa gejala usai dinyatakan negatif COVID, bahkan setelah berbulan-bulan dan lebih dari setahun terbebas dari COVID.

Penelitian ini terdiri dari 39% laki-laki dan usia rata-rata peserta adalah 45 tahun.

Dari total peserta 30% memiliki setidaknya satu kondisi kesehatan yang sudah ada sebelumnya dan 16% setidaknya dua; 4% telah menerima setidaknya satu dosis vaksinasi COVID-19.

Sesuai dengan laporan Scottlandia Study, hampir setengah dari mereka yang terinfeksi melaporkan pemulihannya tidak lengkap.

Hasilnya dikatakan, enam dan 18 bulan setelah infeksi, 1 dari 20 orang belum pulih dan 42 persen melaporkan pemulihan parsial.

Studi ini merupakan dukungan besar bagi mereka yang telah memperingatkan orang-orang dan pemerintah tentang long COVID.

Ini menyoroti beban jangka panjang long COVID dan memberikan bukti nyata dengan studi kohortnya yang besar.

Studi tersebut mengatakan bahwa infeksi COVID bergejala dikaitkan dengan berbagai gejala persisten, gangguan aktivitas sehari-hari, dan penurunan kualitas hidup terkait kesehatan.

"Hubungan terkuat diamati untuk gejala yang berpotensi berasal dari kardiovaskular (sesak napas, nyeri dada, dan palpitasi) dan kebingungan," tulis studi tersebut seperti dikutip laman Times of India.

Sebuah studi penelitian lain yang dilakukan sebelumnya bahkan menyebutkan, dengan aktivitas harian COVID yang panjang seperti mobilitas, perawatan pribadi juga bisa terpengaruh.

Penelitian yang dilakukan terhadap 1.020 peserta menunjukkan, bahwa long COVID memengaruhi kemampuan bekerja pada lebih dari 45% orang.

Long ​Covid tidak mungkin terjadi pada kasus tanpa gejala dan mereka yang divaksinasi sebelum infeksi​

Sementara menekankan pada dampak long COVID terhadap kehidupan sehari-hari para penyintas COVID, penelitian tersebut menambahkan bahwa sekuel lebih mungkin terjadi setelah infeksi parah.

"Kondisi ini tidak diamati setelah infeksi tanpa gejala dan vaksinasi pra-infeksi yang mungkin bersifat protektif," jelas penelitian tersebut.

Namun, penting untuk dicatat bahwa vaksinasi COVID dimulai di banyak negara hampir setahun setelah infeksi pertama kali terlihat, yang membuat jelas bahwa populasi besar berisiko terkena COVID yang berkepanjangan.

"Long Covid benar-benar membuat gangguan multisistem​"

“Keindahan dari penelitian ini adalah mereka memiliki kelompok kontrol, dan mereka dapat mengisolasi proporsi gejala yang disebabkan oleh infeksi Covid,” kata Dr. Ziyad AlAly, kepala penelitian di V.A. Sistem Perawatan Kesehatan St. Louis dan ahli epidemiologi klinis di Universitas Washington di St. Louis, seperti diwartakan New York Times.

Menurut Aly yang bukan termasuk bagian dari kelompok penelitian, ini juga sejalan dengan gagasan yang lebih luas bahwa long Covid benar-benar membuat gangguan multisistem

"Gangguan tidak hanya terjadi di otak, tidak hanya di jantung, tapi semua yang ada di sistem tubuh," tukasnya.

Hingga hari ini, Jumat (14/10/2022) pagi, data Worldometers menyebutkan, jumlah kasus Corona di dunia telah mencapai 629 juta atau tepatnya 628.927.183 kasus positiff.

Dari jumlah itu, yang meninggal dunia tercatat sebanyak 6.568.207orang, dan yang berhasil sembuh menjadi607.992.599 pasien.

Sementara kasus aktif yang tersisa dari seluruh negara yang terinfeksi COVID-19 adalah 14.366.377 kasus, dengan 38.602 di antaranya adalah kasus yang berada dalam kondisi serius.

Baca juga artikel terkait LONG COVID-19 atau tulisan lainnya dari Dhita Koesno

tirto.id - Pendidikan
Penulis: Dhita Koesno
Editor: Iswara N Raditya