5 Cara Agar Tak Selalu Bandingkan Diri Sendiri dengan Orang Lain

Kontributor: Abdul Hadi - 26 Mei 2020 15:15 WIB
Dibaca Normal 2 menit
Cara agar tidak selalu membandingkan diri sendiri dengan orang lain: temukan panutan terbaik hingga hinndari kompetitor negatif.
tirto.id - Membandingkan diri sendiri dengan orang lain tidak selamanya buruk. Kompetisi sehat bisa lahir dari proses membandingkan diri yang positif dengan orang lain.

Hasilnya, seseorang menjadi termotivasi dan terdorong untuk mengejar pencapaian yang lebih tinggi.

Kendati memiliki efek positif, terkadang membandingkan diri sendiri dengan orang lain berdampak negatif pada psikologis seseorang.

Berkat bantuan media sosial dan internet, orang mudah sekali melihat pencapaian orang lain sehingga sering kali terjerumus dalam lingkaran negatif.

Akibatnya diri akan merasa gagal, inferior, rendah diri, diliputi kekurangan, serta tidak puas dengan keadaan yang dialami sekarang.

Penulis terkenal Amerika, Jack Canfield pernah menyatakan kutipan terkenalnya bahwa jalan pintas untuk menjadi tidak bahagia adalah dengan membandingkan diri sendiri dengan orang lain.

Masalahnya, dalam "The Comparison Trap" yang ditulis Rebecca Webber di Psychology Today, membandingkan diri sendiri dengan orang lain merupakan impuls alamiah manusia.

Tidak ada cara untuk menghentikan otak untuk tidak membandingkan diri dengan orang di sekeliling kita.

Namun, jika kita memahami cara mengelola diri, mekanismenya, serta efek negatif yang ditimbulkan, kita dapat berupaya mengontrol proses membandingkan diri yang melahirkan efek buruk pada mental manusia.

Cara Agar Tidak Membandingkan Diri Sendiri dengan Orang Lain


Bagaimana mengelola proses membandingkan diri sendiri dengan orang lain dengan efektif? Laman Very Well Mind menuliskan beberapa langkah sebagai berikut:

1. Menemukan panutan atau teladan di bidang masing-masing

Jika sedang bekerja atau menekuni suatu bidang, tetapkan panutan atau role model yang menjadi sumber inspirasi.

Namun perlu diingat, panutan itu sebagai patron untuk diikuti, bukan sebagai kompetitor yang harus dilampaui.

Hal ini dikarenakan lebih mudah untuk belajar dari panutan seperti Oprah Winfrey atau Elon Musk. Di Indonesia, misalnya belajar dari Hotman Paris atau B.J. Habibie akan lebih membantu daripada membandingkan diri dengan teman sebaya di kehidupan kita.

Jika ada rekan mencapai hal yang lebih besar, namun sudah menetapkan panutan lain sebagai role model, perasaan tersaingi akan lebih kecil daripada tidak memiliki panutan sama sekali.

2. Memiliki grup atau kelompok sosial yang mendukung

Akan lebih mudah menghindari kompetisi atau persaingan tidak sehat jika memiliki kelompok sosial yang saling mendukung satu sama lain.

Kelompok sosial itu dapat berupa grup pertemanan yang memiliki tujuan sama. Misalnya, komunitas olahraga, komunitas baca, hingga grup formal atau informal yang dapat menunjang untuk mencapai hal yang diinginkan.

3. Memiliki rekan seperjuangan

Jika tidak menemukan kelompok sosial yang dapat mendukung satu sama lain, maka dapat menemukan rekan seperjuangan yang bisa saling membantu.

Upaya mendukung satu sama lain dapat dilakukan dengan saling mengevaluasi, merayakan pencapaian yang sudah diraih, serta saling memotivasi agar tetap setia dengan rencana yang ditetapkan sejak awal.

4. Mengingat anugerah atau pencapaian yang sudah diraih

Membandingkan diri secara negatif berarti melihat kelebihan atau pencapaian orang lain, serta merutuki kekurangan yang dimiliki.

Oleh sebab itu, jika perasaan membandingkan diri muncul, cobalah mengingat bahwa Anda pun sebenarnya memiliki pencapaian-pencapaian khusus di bidang yang ditekuni, sekecil apa pun itu.

Laman Healthline merekomendasikan untuk menuliskan catatan keberhasilan, ungkapan terima kasih, atau hal-hal yang harus disyukuri di kehidupan (gratitude journal).

Dengan mengingat keberhasilan dan pencapaian yang sudah diraih, maka turut membantu fokus pada kehidupan diri sendiri daripada memikirkan kehidupan orang lain.

5. Menghindari kompetitor negatif

Jika memiliki rekan yang tampaknya terus mencela atau mambandingkan pencapaian Anda dengan dirinya atau orang lain, sebaiknya hindarilah kompetitor negatif seperti itu.

Mungkin, karena alasan tertentu, mustahil memutuskan hubungan dengan orang tersebut. Bagaimanapun juga, kadang-kadang yang suka membandingkan itu adalah orang tua sendiri kepada anaknya.

Oleh karena itu, belajarlah untuk meregulasi emosi dan berkompetisi secara sehat daripada harus mendengarkan bandingan negatif pencapaian orang lain dengan kekurangan yang dimiliki.


Baca juga artikel terkait MEMBANDINGKAN DIRI SENDIRI DENGAN ORANG LAIN atau tulisan menarik lainnya Abdul Hadi
(tirto.id - Kesehatan)

Kontributor: Abdul Hadi
Penulis: Abdul Hadi
Editor: Dewi Adhitya S. Koesno

DarkLight