STOP PRESS! Pengacara Hadirkan Empat Ahli di Sidang Praperadilan Setnov

Kolumnis
Komponis dan Pianis

2000 Tahun Mempersoalkan Kelamin

Kolumnis: Ananda Sukarlan
05 Juli, 2017dibaca normal 5:30 menit
Walaupun tulisan ini mengulas isu gender dan kelamin, antara lain berdasarkan hasil perbincangan dengan seorang Bissu serta warga desa Segeri dari Bugis, niat awal saya sebetulnya bukan untuk mendalami hal itu. Mengapa seorang komponis seperti saya mendatangi sebuah suku di pedalaman?

Semua terjadi, tentu saja, gara-gara musik, dunia yang saya geluti bertahun-tahun lamanya. Rencana pertemuan saya dengan seorang Bissu (ia minta untuk dirahasiakan namanya) sebetulnya untuk bertanya soal tradisi seni, khususnya musik, di daerahnya. Saya sedang mengerjakan sebuah proyek berupa musik orkes yang menggambarkan hubungan Makassar dan kaum Aborigin di daerah Arnhem Land di utara benua Australia. Hubungan yang terjalin sejak 18 namun berhenti di awal abad 20.

Karya ini dikerjakan atas permintaan dan kerja sama Kedutaan Besar Australia dan Darwin International Festival. Untuk itulah saya berbincang-bincang dengan seorang Bissu dan/atau seniman musik tradisi untuk menanyakan hal-hal menyangkut tradisi musik, ritual dan naskah kuno Bugis yang erat berhubungan dengan Makassar -- walaupun keduanya berbeda suku dan bahasa.

Saya sendiri sudah membaca soal Bissu lewat berbagai buku dan sumber-sumber di internet. Tapi setelah bertemu dengannya, ternyata banyak sekali yang tidak dapat saya temukan di internet atau jurnal akademik sekali pun.

Ternyata, sejak abad 15, para pendatang dari Melayu (Sumatera) telah datang sebagai pedagang di Kerajaan Gowa. Proses akulturasi antara dua kebudayaan ini, Bugis dan Melayu, pun berlangsung tanpa bisa dihindarkan. Tapi kemudian terjadi konflik antara keduanya, dan para pengembara Bugis banyak yang pindah ke Kutai (Kalimantan) dan bahkan ke Sumatera dan Malaysia.

Setelah mengetahui hal itu, saya merasa tradisi Bugis bukan rujukan yang tepat untuk karya musik yang sedang saya siapkan. Saya memutuskan mengganti fokus dengan lebih menitikberatkan kepada tradisi Bissu. Dari sanalah, akhirnya, percakapan saya dengan orang Bissu dimulai. 

Suku Bugis sendiri adalah kelompok etnis terbesar di Sulawesi Selatan. Saat ini berjumlah sekitar tiga juta orang. Kebanyakan orang Bugis beragama Islam, namun ada banyak ritual pra-Islam yang masih terus dihormati dalam budaya Bugis, termasuk pandangan seksualitas yang lebih kompleks.

Bahasa mereka menawarkan lima istilah yang merujuk berbagai (kombinasi) jenis kelamin dan seksualitas: makkunrai (perempuan feminin), oroani (pria/laki-laki maskulin), calalai (perempuan kelelakian/perempuan maskulin"), calabai (pria keperempuanan/pria feminin) dan bissu (imam/pendeta transgender). Lima kategori ini tidak 100% tepat, karena masih banyak area abu-abu di antara 5 kategori itu, namun setidanya bisa dijadikan pijakan awal. Itu pun masih disederhanakan dalam hal-hal praktis dalam kehidupan. Jika ke toilet atau kamar ganti di tempat umum yang cukup modern, misalnya, hanya tersedia dua pintu: untuk perempuan dan untuk pria!

Tentu, seperti di masyarakat belahan dunia manapun, ada tekanan dari keluarga dan masyarakat untuk menikah dengan "lawan jenis" untuk melanjutkan keturunan serta menafkahi keturunan, baik untuk para calabai dan calalai. Terutama dalam kasus para calalai, mereka sering terpaksa menikah dengan pria heteroseksual. Ada yang merasa nyaman dengan tubuh mereka yang tidak sesuai dengan presentasi gendernya, sementara yang lain berusaha untuk mengatasi dilema ini dengan intervensi medis seperti membesarkan buah dada. Sedangkan para calabai banyak yang bekerja dalam bidang yang membutuhkan "tingkat kewanitaan" dan sensitivitas yang tinggi, seperti merias pengantin.

Beberapa dekade terakhir ini calabai dan calalai dapat mencapai tingkat toleransi dan apresiasi yang tinggi melalui berbagai pertunjukan di festival budaya dan kontes kecantikan. Di berbagai ajang ini mereka tampaknya telah menjadi simbol keunikan budaya Bugis. Meskipun demikian, dampak Undang-Undang Pornografi berpotensi menimbulkan masalah dalam tradisi pertunjukan calabai.

Di antara kaum calalai dan calabai, ada orang-orang yang "terpilih" menjadi Bissu, yaitu pemimpin. Biasanya hal itu terjadi saat mereka memasuki usia remaja ketika mereka menerima "ilham" atau "wangsit" melalui mimpi atau kejadian spiritual. Tapi untuk menjadi Bissu tidaklah mudah. Untuk itu, mereka harus mengikuti berbagai ritual sebagai pembuktian. Hanya mereka yang terpilih yang boleh ikut menjalani pendadaran yang dilakukan para Bissu yang lebih tua. Selama masa pendadaran, mereka belajar mengenal sejarah, adat istiadat, bahasa, sastra dan kitab kuno sampai ujian fisik dan mental yang tidak mudah. Para Bissu yang terpilih kemudian mengikuti upacara maggiri yang -- konon -- harus dijalani dengan melewati ujian berat selama tujuh hari tujuh malam.

Mereka akan dikafani layaknya orang mati (dalam bahasa Bugis disebut diujug), disimpan dalam sebuah ruangan atau diletakkan di atas perahu di atas air dan dibiarkan tanpa makan, minum dan buang air selama tujuh hari tujuh malam. Hanya mereka yang punya kemampuan lebih yang bisa menjalaninya, sisanya akan  gagal dan tidak bisa ikut dalam upacara maggiri.

Tentu saja para Bissu ini dulunya sangat dihormati. Mereka dianggap sebagai orang yang terpandang, bahkan dianggap sebagai orang pilihan oleh sukunya. Dalam cerita kuno Bugis I La Galigo, kelahiran Bissu disebut sama tuanya dengan kehadiran manusia di bumi.

Tapi itu dulu. Keadaan mereka kini sangat menyedihkan. Dengan semakin kuatnya pengaruh Islam di Bugis, mereka dianggap "melanggar agama" karena gender yang diakui hanyalah laki-laki dan perempuan. Mereka tidak lagi mendapatkan subsidi sebagai cultural heritage dari pemerintah setempat, bahkan mereka kini rebutan lapangan pekerjaan, antara lain, sebagai perias pengantin. Itu pun secara "diam-diam" karena, menurut agama sekarang, pengantin harus dirias oleh seseorang yang tidak melanggar peraturan agama.

Untunglah banyak yang masih berpikir bahwa para Bissu dapat memberikan aura yang lebih spiritual sehingga pengantin yang dirias oleh Bissu bisa mendapatkan kecantikan yang lebih, yang tidak dapat didapatkan oleh perias "biasa".

Sebetulnya, adakah arti lain bagi homoseksual selain semata hubungan seks sesama jenis?

Setahu saya, istilah itu diciptakan pada 1869 oleh dokter Hungaria bernama Karoly Maria Benkert (1824-1882). Baru beberapa dekade kemudian istilah itu menjadi lebih populer. Di Yunani kuno, seperti yang ditulis Plato, tidak pernah ada istilah untuk menggambarkan praktek homoseksual: mereka hanyalah bagian dari afrodisia, cinta, termasuk pria dan wanita.

Kritikus sosial dan filsuf sosial Prancis Michel Foucault (1926-1984), juga mempersoalkan apakah konsep modern yang mengandaikan kualitas psikologis atau kecenderungan/identitas, dapat digunakan untuk menggambarkan situasi di Athena kuno. Jawaban Foucault, yang sering dikutip, adalah bahwa dia menganggap awal abad kesembilanbelas merupakan awal diskontinuitas dengan sejarah sebelumnya.

Dan memang benar: sikap dan cara hidup orang Yahudi dan kaum Kristiani tidak "merestui" kehidupan seksual orang Yunani kuno. Di mata orang Yunani kuno, ketika seorang pria yang sudah menikah memiliki hubungan dengan seorang lelaki itu tidak tercela, meskipun masyarakat Athena mengharapkan seorang pria untuk memiliki anak laki-laki dengan istrinya yang sah. Lelaki Athena itu, menurut Foucault, seorang macho, penetrator, orang yang memaksa orang lain melakukan apa yang dia inginkan, dan seorang perempuan itu "penerima keadaan" dan submisif.

Terkait ekspresi gender dan seksualitas ini, dengan menengok sebentar ke khasanah kebudayaan Yunani Kuno, lebih dari dua ribu tahun silam, kita bisa menemukan pandangan yang lebih berwarna. Dalam beberapa bukunya, seperti Symposium dan Phaedrus, filsuf Plato (427-347 S.M.) memahami cinta sejati adalah cinta antara dua pria. Cinta homo-erotis yang dimaksudkan Plat ini berhubungan dengan pendidikan dan pengetahuan, dan ini membuatnya lebih unggul dari jenis cinta lainnya.

Kelihatannya banyak kehidupan dan kisah cinta di Athena Kuno terjadi di tempat umum. Cukup banyak gambar di vas bunga menunjukkan orang-orang yang sedang menyaksikan dua orang melakukan hubungan seks. Sebelum Plato, tidak ada satu pun bukti tertulis ada pihak atau orang berkeberatan dengan seks di ruang publik.

Ini berbeda dengan prostitusi. Seorang warganegara seharusnya tidak menjual tubuhnya, dan pada tahun 450 SM  sebuah hukum diajukan yang menyatakan bahwa orang-orang yang pernah melacurkan diri tidak dapat mencalonkan diri sebagai pejabat publik. Seseorang yang pernah menjual dirinya diyakini mampu menjual kepentingan masyarakat juga.

Undang-undang ini tidak ada hubungannya dengan homoseksualitas. Sampai ratusan tahun ke depan, adalah suatu hal yang umum jika dua lelaki hidup bersama, walaupun tidak ada bukti bahwa pernikahan resmi bisa terjadi di zaman tersebut antara sesama jenis. Lagi-lagi, peresmian hubungan dua manusia (berbeda kelamin) adalah konsep yang baru diperkenalkan oleh agama Kristiani.

Homoseksualitas bukan hanya ada di dunia nyata tapi juga dalam mitologi Yunani. Alkisah, Zeus -- dewa dari segala dewa -- menjelma menjadi burung elang dan menyambar Ganymede, seorang pangeran muda yang sangat tampan dan berambut pirang dari Troya. Zeus terpesona dan membawanya ke kahyangan untuk hidup di antara para dewa. Ganymede menjadi kekasih Zeus dan berperan sebagai cup bearer alias penuang nektar, minuman para dewa.

Pandangan ini tampaknya mengendur setelah era Plato. Pengaruh Kristiani, juga agama Abrahamik lainnya, terasa betul dalam mempengaruhi bahkan menentukan konstelasi pemahaman mengenai gender dan ekspresi seksual. Desakan dari pandangan oposisi binarian dalam gender, bahwa hanya ada laki-laki dan perempuan, dan yang di luar itu sebagai penyimpangan, membuat Bissu -- dan kategori gender di luar laki-laki dan perempuan -- menjadi sulit bergerak. 

Pandangan agamis bercorak Abrahamik ini menggeser, salah satunya, cara berpikir kolektif-komunal yang sudah mengakar dari generasi ke generasi. Tradisi sebagai produk kolektif yang dibangun secara perlahan dan bertahap, melalui konsensus yang dibangun melalui proses yang panjang dan berliku. Dominasi pandangan keagamaan, di satu sisi, sering berdampak pada eksistensi tradisi itu tadi. Jadi bukan hanya modernitas yang dapat menggerus tradisi.

Termasuk dalam soal gender ini. Cara berpikir soal kelamin, menurut saya, tidaklah sesederhana menjadi dua "blok", laki-laki dan perempuan, seperti yang diperkenalkan oleh agama Kristiani dan kemudian agama-agama sesudahnya. Mungkin akan lebih tepat jika menganggapnya sebagai spektrum, atau lebih mudahnya dapat bayangkan sebuah garis: di kedua ujung garis terdapat laki-laki dan perempuan, tapi di sepanjang garis ini ada banyak sekali orang dengan segala jenis orientasi seksual dan karakter yang berbeda. Sama seperti hal-hal lain dalam kehidupan yang tidak dapat kita batasi dengan "hitam" dan "putih", "terang" dan "gelap", "suci" dan "dosa".

Buat saya pribadi, pandangan hitam putih terhadap jenis kelamin dan gender hanya berdampak positif di dunia seni. Itu pun ditebus dengan penderitaan para senimannya yang mengalami cinta tak terbalas. Praktis, 80% puisi Walt Whitman ditulis sebagai obat pelipur laranya terhadap cinta yang terlarang, begitu juga karya Emily Dickinson, Arthur Rimbaud, Oscar Wilde, musik Georg F. Handel, Tchaikovsky, Maurice Ravel atau lukisan Michelangelo dan Leonardo da Vinci.

Dengan "stigma" yang diciptakan agama dan masyarakat, para seniman itu bertanya, dan menjawabnya, melalui karya seni. Seperti yang dilakukan Walt Whitman dengan sepucuk puisi yang begitu dalam:

The question, O me! so sad, recurring—What good amid these, O me, O life?
                                      Answer.
That you are here—that life exists and identity,
That the powerful play goes on, and you may contribute a verse.


*) Opini kolumnis ini adalah tanggungjawab penulis seperti tertera, tidak menjadi bagian tanggungjawab redaksi tirto.id.

Keyword