Yang Mesra yang Tak Berkomitmen

Ilustrasi berpelukan. FOTO/Carla Axtman
Oleh: Patresia Kirnandita - 9 April 2017
Dibaca Normal 3 menit
Di Jepang, kedai tidur bersama menjadi alternatif bagi orang-orang yang ingin merasa senang tanpa repot-repot menjalin intimasi dengan orang lain.
Menyewa jasa perempuan untuk berhubungan seksual sudah lazim ditemukan dalam konteks masyarakat berbagai penjuru dunia. Pun demikian dengan restoran atau kafe yang menghadirkan pelayan-pelayan bertubuh seksi plus berparas elok dan memungkinkan pelanggannya untuk melakukan kontak fisik dengan mereka.

Namun, apakah Anda familier dengan tempat yang khusus menyediakan jasa tidur bersama—tanpa adanya tindakan seksual lebih lanjut—untuk para pelanggan?

Meski bukan hal anyar, banyak orang yang belum mengetahui keberadaan kedai tidur bersama bernama Soineya yang dibuka di Akihabara, Tokyo pada 2012. Sebelum kemunculan kedai ini, telah populer kedai makanan di Jepang yang menyuguhkan pemandangan pelayan-pelayan perempuan imut dan kerap menjadi tujuan wisata mata pengunjung laki-laki dari dalam dan luar negeri.

Ada orang-orang yang mendapat kenikmatan hanya dengan melewatkan waktu rebahan bersama orang lain dan melakukan sentuhan-sentuhan tanpa tujuan seksual selepas penat menjalani rutinitas. Mereka cenderung enggan ke tempat prostitusi lantaran bukan memuaskan nafsu berahilah yang menjadi tujuan utama, melainkan semata melepas stres.

Seperti diwartakan Japan Today, Soineya menjawab kebutuhan ini dengan menawarkan pengalaman tidur bersama dengan karyawannya dengan tarif-tarif tertentu berdasarkan durasi dan tindakan yang diinginkan pelanggan. Layanan berdurasi paling singkat, yakni 20 menit, dibanderol 3000 yen atau setara Rp360.000 rupiah, sementara untuk layanan 10 jam dibanderol 50.000 yen. Dengan ekstra biaya, pelanggan juga dapat memilih perempuan mana yang ingin dijadikan teman tidurnya.

Menariknya, Soineya mengenakan tarif untuk perlakuan-perlakuan khusus karyawannya terhadap pelanggan. Untuk tidur di pelukan sang karyawan selama tiga menit misalnya, pelanggan dikenakan biaya 1000 yen. Begitupun dengan tepukan di punggung pelanggan selama tidur, pijatan di kaki pelanggan oleh karyawan, kesempatan pelanggan membelai kepala karyawan, atau kesempatan pelanggan tidur di pangkuan sang karyawan.

Teman Pelukan di Era Digital

Sebagian orang yang sinis terhadap hal ini akan mencibir, “Sebegitu putus asakah seseorang sampai harus membayar orang untuk menemani tidur dan menikmati sentuhan?” Tentunya ada pihak-pihak konservatif terkait hubungan romantis yang menganggap sentuhan fisik sepatutnya dilakukan oleh pasangan yang telah sepakat berkomitmen.

Terlepas dari apa pun yang dipikirkan pihak luar, orang-orang yang memilih menyewa jasa Soineya atau mereka yang senang berkontak fisik dengan orang asing atau yang tak terikat komitmen romantis dengannya merasakan sejumlah manfaat kontak fisik dan sensasi tidur bersama orang lain.

Beberapa penelitian memaparkan, kontak fisik termasuk pelukan dapat mereduksi stres dan meningkatkan mood seseorang. Tak cuma itu, penelitian dari University of North Carolina juga menemukan efek positif kontak fisik terhadap sistem imunitas tubuh dan penurunan tekanan darah.

Namun demikian, tak semua orang dapat mengakses fasilitas kedai semacam Soineya karena belum tentu hadir di sekitar tempat tinggal mereka. Alasan lain, teman tidur berbayar ini bisa jadi masih dianggap sebagai kemewahan. Alih-alih mengeluarkan uang, sebagian orang pun mencari cara lain untuk mendapat kenyamanan dan kenikmatan tidur bersama seseorang seraya berpelukan atau membuat kontak fisik lainnya.

Popularitas aplikasi kencan seperti Tindr, OKCupid, Grindr, dan lain sebagainya memicu dua sekawan, Charlie Williams dan Jeff Kulak untuk membuat aplikasi khusus berpelukan, Cuddlr pada 2014. Dilansir International Business Times, mereka mengklaim aplikasi ini bukan seperti aplikasi kencan mayoritas yang bertujuan hubungan romantis atau hubungan badan yang jamak ditemukan dalam gaya hidup masyarakat digital di berbagai negara. Williams dan Kulak menekankan pada tujuan relasi platonik dari pembuatan Cuddlr.

Pada minggu pertama peluncurannya, Cuddlr diunduh 200.000 orang. Namun ternyata, aplikasi ini tak berumur lama. Pada Maret 2015, kedua penggagasnya mengumumkan Cuddlr ditutup. Hal ini pun mendatangkan kekecewaan sejumlah pengguna yang diutarakan via e-mail kepada mereka.

Ada banyak asumsi yang menyebabkan matinya Cuddlr, di antaranya popularitas aplikasi kencan terdahulu yang tak dapat tersaingi serta skeptisisme terhadap intensi pelukan semata yang digadang-gadang oleh Williams dan Kulak. Banyak yang menganggap pertemuan yang terjadi antara dua orang asing pengguna Cuddlr cepat lambat akan berujung pada seks.

Sebagai tambahan, Mark Morman, direktur Pascasarjana Ilmu Komunikasi Baylor University, berpendapat bahwa tak semua orang dapat menerima pandangan bahwa berpelukan dengan orang asing itu sah-sah saja dan perlu. Morman mengutip teori yang dikemukakan Kory Floyd bahwa orang masih berpikir bahwa perhatian—termasuk dalam bentuk sentuhan fisik—hanya dapat diberikan terbatas kepada orang-orang tertentu.

“Bahkan kepada orang-orang yang kita perhatikan, kita tak membagikannya dalam kadar yang sama,” ungkap Morman.



Yang Penting Pihak-Pihak yang Terlibat Bersepakat

Terlepas dari ditutupnya aplikasi Cuddlr, memang terdapat fenomena berkontak fisik atau bahkan berhubungan badan tanpa adanya ikatan. Dalam berbagai konteks kebudayaan, hal ini dapat dipandang sebagai degradasi moral atau pelanggaran norma kesusilaan. Akan tetapi, hal ini bukan muncul tanpa alasan.

Di kota-kota besar, terutama, kepadatan aktivitas membuat waktu seseorang untuk bersenang-senang—termasuk mencari tandem tidur atau pemberi perhatian fisik—terbatas.

Belum lagi aneka tuntutan yang mesti dipenuhi dalam berhubungan—entah pacaran atau pernikahan—yang tidak jarang malah meningkatkan level stres seseorang. Memang benar, dipedulikan orang lain itu menyenangkan. Akan tetapi, pengorbanan waktu, tenaga, pikiran, perasaan, dan materi membuat sebagian orang berpikir ulang untuk memulai hubungan romantis, terlebih generasi milenial yang berdasarkan penelitian di berbagai negara menunjukkan keengganan untuk berkomitmen serius.

Pertimbangan-pertimbangan semacam ini bisa jadi justifikasi bagi mereka yang pro terhadap pelukan atau kontak fisik lainnya tanpa komitmen. Dengan bantuan aplikasi pada ponsel pintar yang jamak dimiliki masyarakat modern, pertemuan dan kontak fisik dengan orang asing kian dipermudah.

Kendati demikian, pandangan negatif terhadap ‘teman tapi mesra’ ini tak bisa tergeser begitu saja. Kebiasaan sentuhan fisik dan hubungan badan yang dewasa ini seolah dipromosikan aplikasi kencan atau kedai tidur bersama semacam Soineya akan menjauhkan seseorang dari esensi berelasi.

Pelukan dan sentuhan semata-mata hanya sesuatu yang dicapai untuk memenuhi kebutuhan biologis semata. Kenikmatan temporer dari berhubungan mesra tanpa komitmen dianggap tidak mampu menurunkan legalisasi hubungan dari posisi prioritas dalam benak masyarakat pada umumnya.

Memilih atau tak memilih berkontak fisik dengan orang lain atas pertimbangan apa pun adalah kebebasan tiap individu. Satu catatan, segala tindakan yang dilakukan terhadap orang lain idealnya berbasis pada kesepakatan dua pihak demi menciptakan kenyamanan untuk satu sama lain.

Baca juga artikel terkait MEDIA SOSIAL atau tulisan menarik lainnya Patresia Kirnandita
(tirto.id - Gaya Hidup)

Reporter: Patresia Kirnandita
Penulis: Patresia Kirnandita
Editor: Maulida Sri Handayani
DarkLight