Periksa Data

Yang Diingat dari Debat Pilgub Jakarta

Reporter: Dinda Purnamasari, tirto.id - 15 Feb 2017 15:16 WIB
Dibaca Normal 1 menit
"Lalu pertanyaannya apa?" tanya Anies kepada Sylvi. Ternyata, kalimat itulah yang paling diingat oleh masyarakat.
tirto.id - Menjelang pemilihan gubernur dan wakil gubernur, KPU DKI Jakarta menyelenggarakan debat sebagai wadah komunikasi para calon. Seperti yang disampaikan oleh Dahliah Umar, Komisioner KPU DKI, seperti dikutip Antara, "Kami ingin debat ini nantinya memberikan pencerahan kepada publik dalam memilih pemimpinnya, karena mereka yang akan menentukan."

Debat calon pemimpin DKI ini pun dilakukan pada tiga kali kesempatan, yaitu 13 dan 27 Januari, serta 10 Februari 2017. Pada setiap penayangannya, debat ini memaparkan berbagai tema, mulai dari pembangunan sosial ekonomi, reformasi birokrasi hingga kesejahteraan masyarakat berkebutuhan khusus.

Pada setiap kesempatan, para pasangan calon memaparkan visi misi serta program yang mereka tawarkan kepada masyarakat untuk mengatasi semua permasalahan yang ada di DKI Jakarta. Namun, apakah masyarakat DKI mengingat seluruh visi, misi serta program mereka sehingga bisa tercerahkan ketika memilih?

Tim Riset Tirto melakukan wawancara, menanyakan apa yang masyarakat Jakarta ingat dari acara debat kepada sejumlah responden. Berikut adalah hasilnya.

Sebanyak 81 responden diwawancara oleh Tim Riset Tirto untuk mengetahui persepsi warga setelah menyaksikan siaran debat calon gubernur dan wakil DKI Jakarta. Mayoritas responden pada riset yang dilakukan pada 13 Februari ini adalah perempuan dengan proporsi 57%. Dari sisi usia, responden terbesar berasal dari usia 28-35 tahun (44%), dan hanya 7% responden yang berusia di atas 44 tahun. Dari sisi agama, 72% responden beragama islam.

Responden dipilih dengan metode random sampling dengan karakteristik mereka yang tinggal di wilayah DKI Jakarta, memiliki KTP DKI Jakarta, berusia di atas 17 tahun dan menyaksikan secara langsung baik melalui televisi maupun datang ke lokasi acara di Bidakara.

Tiga hal utama yang diingat oleh masyarakat dari penayangan debat adalah momen lucu dan pernyataan menarik, gestur, dan penampilan serta program para kandidat dan pemaparan permasalahan DKI. Tak hanya itu, moderator juga menjadi pusat perhatian masyarakat pada acara debat kemarin.

Infografik Riset Mandiri Tirto 2 Yang Teringat dari acara debat


Momen lucu yang paling banyak diingat oleh masyarakat adalah Ahok yang menari di atas panggung pada debat kedua. Waktu itu, Ahok berusaha melerai Sylviana dan Anies.

Pernyataan apa yang paling menarik? Menurut responden, mereka paling banyak mengingat pertanyaan Anies kepada Sylviana, "Lalu pertanyannya apa?" yang muncul pada debat kedua.

Dari sisi program, uang muka rumah 0% yang disampaikan oleh paslon 3 adalah yang paling diingat oleh masyarakat. Selain itu, program kedua yang paling diingat oleh masyarakat adalah bantuan berupa uang serta KJP.

Infografik Riset Mandiri Tirto 3 Program Yang Diingat Masyarakat


Slogan yang paling menarik bagi masyarakat adalah OK-OCE milik pasangan calon nomor 3. Sebanyak 47% responden menyatakan mengingat slogan OK-OCE. Slogan OK-OCE ini paling sering disebutkan oleh Sandiaga Uno dalam debat. Bahkan, pada debat pertama dan kedua, tagar #AniesSandiOkeOce mendapatkan sentimen positif dari netizen.

Untuk pertanyaan ihwal moderator, yang paling banyak diingat oleh masyarakat adalah Ira Koesno. Setelah penampilannya sebagai penengah di helatan debat, Ira Koesno memang banyak mendapatkan perhatian dari netizen, mulai dari gaya busana, cara berbicara hingga penampilan fisiknya.

Dilihat secara umum, masyarakat Jakarta lebih memperhatikan penampilan dan perilaku pasangan calon gubernur dan wakil gubernur. Hal ini terlihat dari tujuh hal yang mereka ingat, 3 di antaranya adalah perilaku paslon. Bahkan, banyak masyarakat tidak mengingat visi dan misi yang dipaparkan oleh pasangan calon pemimpin Jakarta.

Baca juga artikel terkait PERIKSA DATA atau tulisan menarik lainnya Dinda Purnamasari
(tirto.id - Politik)

Reporter: Dinda Purnamasari
Penulis: Dinda Purnamasari
Editor: Maulida Sri Handayani

DarkLight