Wiweko Soepono: Diberhentikan Soeharto Saat Membesarkan Garuda

Oleh: Petrik Matanasi - 10 September 2021
Dibaca Normal 3 menit
Wiweko Soepono menggemari dunia penerbangan sejak muda. Berkarier di perusahaan pelat merah setelah undur diri dari AURI.
tirto.id - Sekitar 1984, Garuda Indonesia Airways ditawari asuransi oleh sebuah perusahaan yang dimiliki salah satu anak daripada Presiden Soeharto. Padahal, Garuda Indonesia kala itu sudah memakai asuransi Lloyd. Direktur Utama (Dirut) Garuda Indonesia Airways Wiweko Soepono tentu saja menolak tawaran daripada perusahaan salah satu anak Soeharto itu.

Menjelang akhir 1984, Wiweko digantikan oleh R.A.J. Lumenta selaku Dirut Garuda. Kroni-kroni Soeharto mulai pesta pora menjadikan garuda “sapi perah” untuk mendapat uang dari asuransi pesawat terbang, bagian pembelian suku cadang dan sebagainya,” tulis Rosihan Anwar dalam obituari Wiweko yang terhimpun dalam In Memoriam: Mengenang Yang Wafat (2002, hlm. 318).

Kala dicopot, Wiweko sebenarnya sudah cukup lama menduduki jabatan Dirut Garuda Indonesia. Dia memegang jabatan itu sejak 1968. Rosihan mencatat, ketika Wiweko keluar dari Garuda Indonesia, konon tidak ada santunan dari pihak Garuda Indonesia.

Padalah, Garuda Indonesia amat berkembang di masa kepemimpinannya. Menurut catatan Apa dan Siapa Sejumlah Orang Indonesia 1983-1984 (1984, hlm. 999), dalam setahun kepemimpinan Wiweko, Garuda Indonesia berhasil membukukan 400 ribu penumpang. Jumlahnya kian meningkat lagi pada 1979 menjadi 3,3 juta penumpang.

Itu pun baru terhitung penerbangan dalam negeri. Pada 1981, Garuda Indonesia tercatat telah mengangkut 1,2 juta penumpang internasional. Wiweko pun turut memperluas lini bisnis Garuda Indonesia dengan merambah perhotelan.

Wiweko, menurut Rosihan Anwar, adalah sosok yang bersikap lurus dan dianggap kaku dalam hubungan kerja. Dia terkenal hemat dan ketat dalam hal menejemen perusahaan. Lain itu, dia juga dikenal sebagai bos yang hidup sederhana. Padahal, pada masanya, Garuda Indonesia adalah maskapai terbesar kedua di Asia setelah Japan Air Lines (JAL).

Dalam sejarah maskapai penerbangan Indonesia, Wiweko punya jasa besar. Semula, dia adalah seorang penerbang Angkatan Udara. Dia memang mencintai dunia penerbangan sejak remaja. Bersama Nurtanio dan Yum Sumarsono, Wiweko pernah merancang pesawat sendiri, meski hasilnya belum bisa banyak membantu Republik di era Revolusi.

Pada pertengahan 1948, Wiweko ditugaskan membeli pesawat di Singapura dari emas 20 kilogram sumbangan rakyat Aceh. Emas itu semestinya dicairkan jadi $120 ribu, tapi Wiweko hanya menerima $60 ribu saja. Separuh uang tersebut, menurut Rosihan Anwar, sudah dikorupsi.

Wiweko tentu saja harus bersusah payah untuk mendapat sebuah pesawat angkut Dakota. Pesawat itu kemudian dinamai RI-1 Seulawah. Pesawat ini kerap mengantar para pejabat RI untuk urusan kenegaraan dan melewati blokade Belanda.

Saat Yogyakarta diduduki Belanda usai Agresi Militer II, RI-1 Seulawah sedang berada di India. Berhubung ada masalah pembayaran suku cadang, Wiweko dan kawan-kawan yang mengurus pesawat tersebut memiliki dua pilihan: menjual pesawat untuk melunasi hutangnya atau mengkaryakan pesawat itu demi mencicil hutang.

Waktu itu kami memilih alternatif kedua,” aku Wiweko seperti dicatat Apa dan Siapa Sejumlah Orang Indonesia 1983-1984 (1984, hlm. 999).

Bermodal pesawat Seulawah itu, pada 23 Januari 1949, Wiweko dan kawan-kawan mendirikan Indonesia Airways di Rangoon, Burma. Rosihan Anwar menyebut Indonesia Airways melayani jasa angkut pasukan. Salah satu penyewanya adalah Jenderal Ne Win yang hendak menumpas pemberontakan suku Karen.

Keuntungan perusahaan itu lantas dipakai untuk membiayai perwakilan pemerintah RI yang bertahan di India, Pakistan, dan Mesir. Bisnis Indonesia Airways pun membesar dalam waktu singkat, dari hanya armada satu pesawat menjadi tiga pesawat. Pada akhir 1949, peran Indonesia Airways berakhir setelah berdirinya Garuda Indonesia Airways.

Wiweko yang idealis dan terbuka ini sempat terlibat dalam konflik politik di Angkatan Udara pada 1950-an.

Sejak 1952, AURI diliputi konflik internal antara kubu perwira di bawah pimpinan Soejono/Wiweko yang menghendaki ‘modernisasi AURI’ versus kubu AURI Resmi yang dipimpin KSAU Soeriadarma,” aku Budiardjo dalam Siapa Sudi Saya Dongengi (1996, hlm. 79).

Soejono yang dimaksud adalah Komodor Hubertus Soejono yang pernah menjadi Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) versi PDRI. Supeno dan Soejono menganggap Soeridarma tidak memiliki personeel beleids (kebijakan kepegawaian) yang jelas. Konflik di AURI itu mencapai puncaknya pada upacara pelantikan Soejono sebagai Wakil KSAU pada 14 Desember 1955.

Infografik Wiweko Soepono
Infografik Wiweko Soepono 1923-2000, tirto.id/Fuad


Abdul Rauf Soehoed dalam Menyertai Setengah Abad Perjalanan Republik (2001, hlm. 136-137) mengaku dirinya dapat kabar dari bintara bawahan bahwa upacara itu akan diobrak-abrik. Maka dia lantas mengabarkannya kepada Wiweko dan Soejono.

Oh enggak. Enggak bakal. Mana berani mereka begitu di depan banyak tamu asing,” kata Wiweko. Ternyata, sekelompok prajurit AURI dengan Kopral Kalebos di depan maju dan kemudian menghajar Wiweko.

Setelah kejadian itu, banyak anggota AURI yang mengundurkan diri. Wiweko adalah salah satunya. Setelah itu, dia sempat kuliah lagi di program manajemen Univeristas California, Amerika Serikat. Sekembalinya ke Indonesia, laki-laki kelahiran Blitar, 18 Januari 1923, ini berturut-turut bekerja di Pertamina, Bank Indonesia, dan Bank Negara Indonesia. Sampai akhirnya Soeharto menunjuknya menjadi Dirut Garuda.

Rosihan Anwar menyebut Wiweko pernah ikut berkumpul di rumah Subadio Sastrowardojo di Jalan Guntur nomor 49. Itu adalah tempat berkumpulnya orang-orang yang berseberangan dengan Soeharto.

Seingat Rosihan, Wiweko kerap menganalisis sebuah peristiwa dari aspek intelijen. Dia juga rajin bicara soal konspirasi Yahudi dan agen intelijennya yang terkenal, Mossad. Sebelum tutup usia pada 8 September 2000, Wiweko dikabarkan mengalami sakit pada prostatnya dan enggan dioperasi. Setelah menghembuskan nafas terakhir, pemakaman umum Jeruk Purut menjadi peristirahatan terakhirnya.

Baca juga artikel terkait PENERBANGAN atau tulisan menarik lainnya Petrik Matanasi
(tirto.id - Politik)

Penulis: Petrik Matanasi
Editor: Fadrik Aziz Firdausi
DarkLight