Periksa Fakta

Vaksin COVID-19 Tidak Mengubah Warna Darah

Oleh: Fina Nailur Rohmah - 12 Januari 2022
Dibaca Normal 2 menit
Variasi warna pada darah ditentukan oleh seberapa banyak oksigen di dalamnya.
tirto.id - Beberapa waktu lalu, akun Facebook bernama Edo Yance mengunggah foto dua kantong darah dengan warna merah dan merah merah gelap. Dalam foto yang diunggah, kantong darah berwarna merah diberi keterangan “darah orang yang belum vaksin,” sementara kantong darah dengan warna merah gelap diberi keterangan “darah orang yang sudah vaksin.”

Periksa Fakta Kantong Darah
Periksa Fakta Kantong Darah. foto/facebook/edoyance


Foto dua kantong darah dengan klaim yang sama juga diunggah oleh akun Facebook Imbron Tmvn (arsip). Akun tersebut juga menambahkan, “Yang sama sekali tidak mengejutkan saya mengetahui nanoteknologi vaksin covid mengubah ciptaan dewa menjadi ciptaan setan. Dan oksida graphene telah dibandingkan dengan goo hitam.”

Akun Facebook Imbron pun bilang bahwa Palang Merah tidak mengumpulkan darah dari orang-orang yang divaksinasi.

Foto yang sama juga bertebaran di beberapa cuitan di platform media sosial Twitter dalam bahasa Inggris, seperti di sini, sini dan di sini.

Sebagai informasi, vaksinasi COVID-19 di Indonesia sudah berjalan satu tahun sejak pertama kali dimulai pada 13 Januari 2021. Per 11 Januari 2022, sekitar 117 juta penduduk telah menerima vaksinasi COVID-19 dosis lengkap, yakni 56,34 persen dari total populasi sasaran vaksinasi, merujuk data Kementerian Kesehatan (Kemenkes).

Lalu, benarkah vaksin COVID-19 dapat memengaruhi warna darah?

Penelusuran Fakta

Tirto mula-mula melakukan pencarian Google tentang dampak vaksin COVID-19 terhadap warna darah dan menemukan artikel USA Today yang dipublikasikan pada 26 September 2021. Seperti dilansir dari artikel tersebut, Dr. Pampee Young, kepala petugas medis layanan biomedis di Palang Merah Amerika, menyampaikan tidak ada substansi klaim bahwa COVID-19 mengubah warna darah.

“Di Palang Merah Amerika, kami memeriksa secara visual semua unit [darah] yang disumbangkan dan belum melihat bahwa unit darah [orang] yang divaksinasi COVID-19 berubah warna,” ujar Young kepada USA Today melalui e-mail.

Young juga bilang bahwa warna darah secara natural bisa bervariasi karena beberapa faktor. Faktor ini misalnya variasi minor dalam tingkat senyawa kimia yang dibawa oleh plasma, atau variasi oksigen, zat besi, lipid dan sel darah merah.

Pernyataan bahwa vaksin COVID-19 memengaruhi warna darah juga dinilai tidak akurat menurut Dr. PJ Utz, profesor imunologi dan reumatologi yang menjalankan sebuah laboratorium penelitian di Universitas Stanford di Amerika Serikat. Melansir AFP, Utz menuturkan, “warna [darah] ditentukan oleh seberapa banyak oksigen di dalamnya, dan [warna darah] itu adalah hal yang amat bervariasi.”

Di dalam tubuh manusia, oksigen dalam darah diikat dan diangkut oleh hemogoblin. Hemoglobin adalah molekul yang terkandung dalam sel darah merah. Menukil Medical News Today, zat besi dalam hemoglobin mengikat oksigen di paru-paru saat menghirup udara. Itu sebabnya darah terlihat merah cerah saat dipompa dari paru-paru ke jaringan tubuh.

Lain halnya saat menghembuskan napas, oksigen dalam hemoglobin akan digantikan dengan karbon dioksida. Dengan begitu warnanya berubah dari merah terang menjadi merah tua dengan sedikit warna ungu.

Warna gelap juga ditemui ketika darah dimasukkan ke dalam kantong donor. Menurut keterangan Dan Milner, kepala petugas medis di American Society for Clinical Pathology kepada AFP, hal itu dikarenakan darah selalu diambil dari pembuluh vena, pembuluh darah yang membawa darah terdeoksigenasi kembali ke jantung.

Sementara itu, terkait dengan klaim mengenai graphene oxide yang disinggung oleh Imbron Tmvn, Tirto kemudian melakukan penelusuran lanjutan mengenai hubungan graphene oxide dengan vaksin COVID-19.

Melansir Health Desk—sebuah kanal informasi mengenai COVID-19, hasil kerja sama antara ahli kesehatan masyarakat dengan jurnalis, organisasi periksa fakta, dan organisasi non-profit, graphene oxide merupakan senyawa yang mengandung karbon, oksigen, dan hidrogen. Graphene oxide banyak digunakan untuk kebutuhan sensor, tekstil, hingga obat-obatan.

Menurut Health Desk pula, tidak ada vaksin yang telah disetujui WHO, baik produksi Pfizer, Moderna, AstraZeneca, CanSino, Sinovac, Sputnik V, ataupun Janssen, yang mengandung graphene oxide.

Graphene oxide juga tidak ditemukan dalam daftar bahan pada vaksin Pfizer-BioNtech, Moderna, AstraZeneca, maupun CoronaVac atau disebut juga Sinovac.

Kesimpulan

Berdasarkan penelusuran fakta yang dilakukan, vaksin COVID-19 tidak mengubah warna darah. Variasi warna darah ditentukan oleh seberapa banyak oksigen yang terkandung dalam darah, selain juga variasi minor dalam tingkat senyawa kimia yang dibawa oleh plasma, atau variasi oksigen, zat besi, lipid dan sel darah merah.

Unggahan Edo dan Imbron mengenai perbedaan warna darah pada penerima vaksin COVID-19 bersifat salah dan menyesatkan (false & misleading).

==============

Tirto mengundang pembaca untuk mengirimkan informasi-informasi yang berpotensi hoaks ke alamat email factcheck@tirto.id atau nomor aduan WhatsApp +6288223870202 (tautan). Apabila terdapat sanggahan atau pun masukan terhadap artikel-artikel periksa fakta maupun periksa data, pembaca dapat mengirimkannya ke alamat email tersebut.

Baca juga artikel terkait PERIKSA FAKTA atau tulisan menarik lainnya Fina Nailur Rohmah
(tirto.id - Kesehatan)

Penulis: Fina Nailur Rohmah
Editor: Farida Susanty
DarkLight