Usia Berapa Sebaiknya Anak Dikhitan, Cara Agar Anak Tak Takut Sunat

Penulis: Nur Hidayah Perwitasari - 15 Jun 2022 12:09 WIB
Dibaca Normal 2 menit
Bila seseorang tak cuma mementingkan soal medis, tetapi juga faktor sosial, tak masalah menyunat anak sebelum akil balig atau saat usia 5 hingga 13 tahun.
tirto.id - Saat memasuki libur sekolah usai ujian akhir semester, tak sedikit orang tua yang memanfaatkannya untuk mengkhitan anak laki-lakinya.

Di Indonesia, proses khitan atau sunat untuk anak laki-laki biasanya akan dilakukan sebelum akil balig. Namun, sebenarnya kapan waktu yang tepat atau pada usia berapa sebaiknya mengajak anak untuk melakukan prosesi khitan?

Dokter Spesialis Bedah Saraf dari Perhimpunan Dokter Spesialis Bedah Saraf sekaligus pendiri Rumah Sunat dr. Mahdian, Mahdian Nur Nasution, mengatakan, sunat bisa dilakukan sejak anak masih bayi bila pertimbangannya murni soal medis.

"Yang terbaik saat bayi, kalau ada luka di sel-sel kulit bayi, akan cepat sekali kembali normal," kata dokter Mahdian seperti dilansir dari Antara.

Selain itu, menurutnya, berdasarkan penelitian terdapat 40 persen anak menderita fimosis alias kelainan pada penis karena kulup melekat, tak bisa ditarik ke belakang. Kelainan ini dapat menimbulkan demam hingga infeksi saluran kemih.

"Kalau dari bayi sudah disunat, risiko itu akan hilang," katanya.

Alasan lain menyunat anak sejak masih bayi adalah untuk menghindari trauma psikologi ketika anak merasakan pengalaman tak menyenangkan selama atau setelah dikhitan, seperti merasa sakit akibat luka khitan.

"Kalau disunat saat bayi, dia tidak akan ingat dan terbebas dari trauma psikologis ke depannya," tutur Mahdian.

Itulah mengapa, di negara-negara lain seperti Australia rata-rata proses khitan dilakukan saat bayi atau justru ketika seorang laki-laki sudah dewasa dan bisa memutuskan segala sesuatunya sendiri serta siap menanggung konsekuensinya.

Bila seseorang tak cuma mementingkan soal medis, tetapi juga faktor sosial dan hak anak atas tubuhnya sendiri maka tak masalah bila menyunat anak sebelum akil balig, rata-rata ketika duduk di sekolah dasar atau saat anak berusia 5 hingga 13 tahun.

Pada umumnya, masih ada sebagian masyarakat yang mengadakan perayaan sunat dan menggelar pesta sebagai rasa syukur dan mengundang orang-orang terdekat.

"Ada untungnya sunat saat anak SD, karena habis disunat keluarga bisa kumpul-kumpul. Sebab masyarakat Indonesia kan seperti masyarakat Melayu yang memang senang berkumpul," ujarnya.

Lantas bagaimana tips dan cara untuk mempersiapkan anak melakukan sunat atau khitan?

Infografik SC Usia Sunat
Infografik SC Usia Sunat. tirto.id/Quita


Cara mempersiapkan anak agar tak takut dikhitan



Mahdian mengatakan bahwa penting untuk mempersiapkan buah hati agar siap secara mental menjalani sunat guna meminimalisir trauma pada anak.

"Penting sekali mempersiapkan agar anak tak takut disunat," kata dokter Mahdian.

Menurutnya, Indonesia dan Malaysia punya kemiripan soal usia yang tepat menyunat anak, yakni sebelum akil balig antara 5 hingga 13 tahun. Ini berbeda dengan apa yang terjadi di negara Barat, karena proses khitan biasa dilakukan saat bayi atau justru saat sudah dewasa ketika seseorang melakukannya demi alasan kesehatan.

"Di Indonesia bisa jelang TK dan SD, kita perlu mengedukasi anak dan meyakinkan bahwa sunat bermanfaat, tidak sakit, sehingga mental anak siap," kata Mahdian.

Berikut cara yang bisa dilakukan orang tua untuk mempersiapkan anak agar tak takut disunat atau dikhitan.

1. Jelaskan soal khitan dengan jujur pada anak termasuk rasa sakit dan tak nyaman usai khitan

Mahdian mengajak orang tua untuk memberi penjelasan yang menyeluruh dengan cara menyenangkan, termasuk apa saja prosedur yang akan dilakukan dan efek samping yang mungkin terjadi, seperti sedikit rasa nyeri akibat luka khitan. Anak-anak juga harus memahami soal perawatan yang harus dijalani setelah khitan.

2. Jelaskan soal manfaat khitan pada anak

Buatlah anak-anak memahami bahwa khitan atau sunat adalah hal yang bermanfaat untuk dirinya hingga kelak buah hati ingin melakukannya atas kesadaran diri sendiri.

"Sekarang informasi sunat banyak di media sosial, orangtua bisa memilih video edukasi sunat biar tahu prosesnya," kata Mahdian.

Di sisi lain, teknologi metode sunat sudah semakin canggih sehingga anak bisa menjalani prosesnya dengan lebih nyaman, berbeda dengan standar masa lalu di mana sunat identik dengan rasa sakit dan momok menyeramkan.

3. Jelaskan juga apa yang harus dilakukan usai sunat atau khitan

Mahdian mengingatkan bahwa anak yang baru disunat juga harus menjaga kebersihan agar luka khitan lekas sembuh dan tidak melakukan aktivitas fisik secara berlebihan yang dapat menimbulkan benturan pada penis.


Baca juga artikel terkait LIFESTYLE atau tulisan menarik lainnya Nur Hidayah Perwitasari
(tirto.id - Gaya Hidup)

Penulis: Nur Hidayah Perwitasari
Editor: Iswara N Raditya

DarkLight