Periksa Fakta

Uji Klaim Artikel The Global Review Soal COVID-19 & Ketakutan Massa

Oleh: Irma Garnesia - 30 April 2020
Dibaca Normal 4 menit
Artikel analisis di laman The Global Review mencantumkan sejumlah 'fakta' mengenai COVID-19. Sayangnya, informasi di artikel itu sifatnya salah sebagian dan menyesatkan.
tirto.id - Pada 24 April lalu, situs Theglobal-review.com memuat sebuah artikel analisis berjudul “Ketakutan yang Diproduksi Media Lebih Mematikan dari COVID-19” (arsip). Tulisan itu mengklaim, arus pemberitaan yang deras terkait virus corona baru SARS-CoV-2 penyebab COVID-19 di media arus utama telah menciptakan ketakutan dan kepanikan berlebih.

Sudarto Murtaufiq merupakan penulis artikel tersebut. Dalam keterangan di akhir tulisan, Sudarto disebut sebagai peneliti senior Global Future Institute. Sudarto mencurigai adanya 'bisnis terselubung' di balik pemberitaan COVID-19 yang begitu gencar.

Di laman ‘tentang kami,’ dituliskan bahwa Global Future Institute merupakan pemilik dari The Global Review. The Global Review mendukung dan menyebarkan isu-isu yang menjadi kajian dari Global Future Institute. The Global Review sendiri tidak terdaftar dan terakreditasi oleh Dewan Pers.

Artikel ini sendiri mencantumkan sejumlah 'fakta' mengenai COVID-19 yang diklaim berasal dari beberapa penelitian sebagai premis utama. Berikut isi dari poin-poin 'fakta' tersebut:

Fakta 1. Seperti dilaporkan oleh seorang dokter setelah meneliti data di Italia, bahwa 80% dari korban yang meninggal ternyata mempunyai dua atau lebih penyakit kronis dan 90% dari yang meninggal berumur lebih dari 70 tahun. Selain itu, ‘Kurang dari 1% dari orang yang meninggal adalah tergolong sehat’ yaitu ‘orang tanpa penyakit kronis yang sudah ada sebelumnya’. Mengingat Italia utara memiliki salah satu populasi tertua dan kualitas udara terburuk di Eropa, yang telah menyebabkan peningkatan jumlah penyakit pernapasan dan kematian di masa lalu, ini tidak diragukan lagi adalah faktor yang membantu menjelaskan krisis kesehatan di wilayah tersebut saat ini.

Fakta 2. Kematian di AS akibat influenza dari 1950 hingga 2017 berkisar antara 13,5 hingga 53,7 per 100.000 (sumber statista.com).

Periksa Fakta The Global Review
Periksa Fakta Data Salah dan Narasi Menyesatkan COVID-19 dari The Global Review. (Screnshoot/theglobal-review.com)


Fakta 3. Kematian di AS (informasi update kemarin, 24 April 2020) akibat Covid-19 adalah 14,9 per 100.000 (sumber worldmeters.info). Dan yang perlu menjadi sorotan kia sebenarnya bahwa jumlah ini termasuk kematian yang “kemungkinan” akibat Covid-19 serta kematian yang terkonfirmasi akibat Covid-19.

Jadi, jumlah ini, kematian per kapita di AS akibat Covid-19 lebih rendah daripada kematian per kapita akibat flu di hampir setiap tahun dari 1950 hingga 2017. Jumlah kematian tertinggi akibat flu per kapita terjadi pada tahun 1960. Kematian tahun itu mencapai 53,7 per 100.000, lebih dari tiga kali lebih tinggi dari kematian akibat Covid-19. Inilah faktanya. Silakan pembaca yang budiman melakukan pengecekan sendiri, atas fakta di atas. Secara kebetulan, tingkat kematian per kapita dari yang diberitakan oleh media “histeris” dan suka menyebutnya sebagai, “pandemi global” hanya 2,4 per 100.000. (Silahkan klik data ini)

Model terbaru Satuan Tugas Virus Corona Gedung Putih memprediksikan bahwa kematian akibat Covid-19 bisa mencapai 60.000. Saat ini tercatat di angka 49.000. Bahkan jika [perkiraan]angka itu [yang dimanipulasi]adalah dua kali lipat menjadi 98.000, itu masih akan jauh lebih rendah daripada semua kematian akibat flu per kapita dari tahun 1950 hingga 1998.

Berdasarkan poin-poin itu, Sudarto mengkritik pemberitaan media-media arus utama. Ia berpendapat, respons terhadap krisis ini berlebihan dan malah menimbulkan kepanikan. Ia khawatir kepanikan global tersebut sengaja diciptakan kepentingan elite kapitalis dengan memanfaatkan organisasi dunia seperti WHO (Organisasi Kesehatan Dunia), juga pemerintah, tenaga medis, dan perusahaan media.

Sudarto juga menyoroti perihal penerapan kebijakan social distancing untuk memutus persebaran COVID-19. Menurutnya, kebijakan itu melemahkan kekuatan ekonomi sebuah negara. Ia mengambil contoh Swedia sebagai negara yang sukses melawan COVID-19 tanpa mematikan ekonomi.

"Andaikan kita memberlakukan social distancing setiap kali virus muncul di masa lalu, negara kita Indonesia, mungkin tidak akan sampai pada tahap negara berkembang seperti saat ini. Justru masalahnya sekarang adalah, kebijakan pemerintah–yang paling mutakhir terkait penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB)–telah mendapatkan tanggapan yang beragam bahkan bertolak belakang antara satu dengan yang lain,” tulis Sudarto.


Penelusuran Fakta

Pada fakta pertama, Sudarto menulis “seorang dokter setelah meneliti data di Italia” sembari mengutip catatan dari lembaga bernama Swiss Propaganda Research. Catatan penting, Swiss Propaganda Research tidak spesifik hanya menyebut data Italia saja.

Sudarto kemudian menuliskan, “80% dari korban yang meninggal ternyata mempunyai dua atau lebih penyakit kronis dan 90% dari yang meninggal berumur lebih dari 70 tahun. Selain itu, 'Kurang dari 1% dari orang yang meninggal adalah tergolong sehat yaitu orang tanpa penyakit kronis yang sudah ada sebelumnya.'"

Namun, pada situs Swiss Propaganda Research, angka 80% salah satunya hanya ditemukan pada kalimat “50% hingga 80% individu yang positif Corona tidak menunjukkan gejala.” Kalimat lain yang merujuk “80 persen” membahas 80 persen kematian di kota dengan polusi tinggi, sebanyak 80 persen korban meninggal yang menggunakan antibiotik, dan catatan lain yang tak memiliki hubungan dengan klaim The Global Review.

Sementara itu, terkait klaim kurang dari 1% orang yang meninggal tergolong sehat, Tirto menemukan klaim sama pada pemberitaan Bloomberg yang merujuk pada laporan dari lembaga kesehatan nasional Italia, Istituto Superiore di Sanità atau ISS. Laporan yang menggunakan data per 17 Maret 2020 itu menuliskan sebanyak 0,8 persen pasien COVID-19 meninggal tanpa komplikasi penyakit lain.

Yang menarik, Swiss Propaganda Research sendiri tidak mencantumkan identitas dari dokter yang menuliskan catatan terkait COVID-19 di laman mereka. Swiss Propaganda Research juga tidak mencantumkan dengan jelas di laman resmi mereka siapa orang-orang yang bekerja di lembaga tersebut.


Poin kedua adalah kematian akibat influenza di Amerika Serikat dari 1950 hingga 2017 yang mencapai 13,5 hingga 53,7 per 100.000 penduduk dan bersumber dari Statista.

Berdasarkan penelusuran Tirto, data yang disajikan Statista memang menunjukkan angka kematian berkisar di angka 13,5-53,7 per 100.000 penduduk. Namun, angka itu secara garis besar menunjukkan grafik penurunan dari 1950 ke 2017. Pada 1950, angka kematian karena influenza mencapai 48,1 per 100.000 penduduk. Namun pada 2017, angka kematian menurun jadi 14,3 per 100.000 penduduk.

Fakta ketiga terkait angka kematian di AS per 24 April 2020 akibat COVID-19 yang mencapai 14,9 per 100.000 penduduk dengan sumber dari worldmeters.info. Sudarto menuliskan, angka 14,9 tersebut menghitung kematian yang "kemungkinan" akibat COVID-19 serta kematian yang terkonfirmasi akibat COVID-19.

Namun, jika merujuk pada jumlah kasus dan kematian akibat kasus COVID-19 pada 24 April, dan melalui perhitungan "(Angka kematian / populasi pada tahun yang sama) x 100.000,” maka angka kematian yang didapat untuk AS adalah 15,24 per 100 ribu penduduk (estimasi jumlah penduduk 329,56 juta jiwa pada 2020).

Sebagai tambahan, sumber yang digunakan Worldometer untuk kasus COVID-19 di AS bersumber pada CDC. Selain itu, angka kematian yang ditampilkan di Worldometer sebagian besar merupakan angka kumulatif dari kasus terdeteksi (positif), bukan "kemungkinan" seperti yang diklaim Sudarto pada analisisnya di The Global Review.

Dengan demikian, jumlah kematian akibat COVID-19 di Amerika Serikat telah melebihi angka kematian akibat influenza pada 2017, yakni 15,24 dibanding 14,30 per 100 ribu penduduk. Kendati belum genap satu tahun, angka tersebut diprediksi masih akan terus naik.

Catatan tambahan, angka kematian akibat influenza di Amerika Serikat pada 2019 mencapai 10,42 per 100 ribu penduduk (proyeksi penduduk AS pada 2019 sebanyak 327,54 juta penduduk). Jauh lebih rendah dibanding angka kematian pada 2017.


Selanjutnya, Sudarto mencontohkan Swedia yang memiliki kondisi lebih baik dibanding negara Eropa lain yang menerapkan pembatasan ketat kendati tidak "menutup ekonomi" selama pandemi COVID-19.

Perlu diketahui, per 27 April menurut pantauan John Hopkins, ada 18.640 kasus positif di Swedia dan jumlah tersebut diperkirakan terus meningkat. Jumlah kasus ini jauh lebih banyak dibanding Denmark (8.773 kasus) dan Polandia (11.617 kasus), negara tetangga mereka.

Per 9 April, menurut catatan Vox, rumah sakit di Swedia kewalahan menangani pasien yang sangat banyak, petugas kesehatan juga bekerja melebihi jam tugas mereka. Pemerintah kini mencari jalan untuk melakukan pembatasan lebih lanjut.

Masih dari Vox, peneliti memperkirakan sebanyak empat juta masyarakat Swediadari populasi sekitar 10 jutapada akhirnya dapat tertular penyakit ini. Perdana Menteri Swedia Stefan Löfven sempat menyatakan bahwa "ribuan" orang di Swedia dapat meninggal karena COVID-19.

Menurut Quartz, kendati tidak menerapkan kebijakan pembatasan sosial yang ketat secara luas, Swedia tetap menerapkan pembatasan sosial secara terbatas. Selain itu, masyarakat Swedia juga menerapkan pembatasan sosial secara mandiri dengan disiplin. Mengutip data Citymapper, Quartz melaporkan mobilitas di Stockholm berkurang hingga sekitar 75 persen.

Perekonomian Swedia diperkirakan tetap akan terpukul. Masih dari Quartz, Menteri Keuangan Swedia Magdalena Andersson mengatakan Produk Domestik Bruto (PDB) akan menyusut hingga 10 persen pada 2020. Sementara itu, pengangguran dapat naik menjadi 13,5 persen.

Kesimpulan

Berdasarkan penelusuran fakta yang dilakukan, informasi yang disampaikan Sudarto dalam analisisnya di The Global Review bersifat salah sebagian dan menyesatkan (partly false & misleading).


Baca juga artikel terkait PERIKSA FAKTA atau tulisan menarik lainnya Irma Garnesia
(tirto.id - Kesehatan)

Penulis: Irma Garnesia
Editor: Ign. L. Adhi Bhaskara
DarkLight