Trump Akhiri Tradisi Buka Puasa Bersama di Gedung Putih

Oleh: Dipna Videlia Putsanra - 27 Juni 2017
Dibaca Normal 1 menit
Bagi muslim Amerika, tradisi ini menjadi harapan terwujudnya persatuan setelah kebencian terhadap muslim meningkat tajam.
tirto.id - Gedung Putih memiliki tradisi makan malam yang dilakukan saat matahari terbenam pada akhir bulan suci Ramadan, atau bulan kesembilan dari kalender Islam. Makan malam di akhir Ramadan ini sudah menjadi tradisi Muslim di Gedung Putih selama lebih dari dua abad.

Namun, hingga saat ini, makan malam di akhir bulan Ramadan itu belum diadakan oleh Presiden AS Donald Trump.

Padahal, sebelumnya di bawah pemerintahan Clinton, Bush, dan Obama, pihak Gedung Putih bisa menghabiskan waktu berbulan-bulan mempersiapkan acara itu. Namun tahun ini tradisi itu tak berlanjut.

Sekretaris Negara Rex Tillerson sebelumnya pernah mengatakan, pemerintah tidak akan menyelenggarakan makan malam tahun ini.

"Umat Muslim di Amerika Serikat bergabung dengan Muslim di seluruh dunia selama bulan suci Ramadan, fokus pada ibadah dan amal. Sekarang, saat mereka memperingati Idul Fitri bersama keluarga dan teman, mereka meneruskan tradisi membantu tetangga dan berbagi [zakat]," demikian pernyataan pihak Gedung Putih pada Sabtu (24/6/2017) malam lalu.

Tradisi makan malam di akhir Ramadan dilakukan mantan Presiden Thomas Jefferson pada Desember 1805. Jefferson yang dikenal sebagai pendukung kebebasan beragama melakukan hal ini untuk menghormati duta besar Tunisia Sidi Soliman Mellimelli saat konflik Amerika dan negara yang mereka sebut "barbar" terjadi.

"Makan malam dilakukan persis saat matahari terbenam"--demikian isi undangannya.

Dalam catatan hariannya, John Quincy Adams menuliskan bahwa makan malam itu disajikan sore hari seperti pada bulan Ramadan.

Terlepas dari apa yang disajikan saat makan atau siapa pun yang hadir saat itu, itu sama halnya seperti momen berbuka puasa.

Tradisi ini berlanjut pada tahun 1996, ketika Ibu Negara Hillary Clinton, setelah dirinya mempelajari lebih lanjut tentang ritual tersebut. Sang putri, Chelsea bahkan diketahui telah mempelajari sejarah Islam di sekolahnya, menurut laporan Muslim Voices.

Selanjutnya giliran Presiden George W Bush, termasuk setelah serangan 9/11. Dia mengatakan saat makan malam bahwa perang dilakukan untuk melawan terorisme, bukan Islam.

Bagi muslim Amerika, makan malam yang mungkin bisa kembali diadakan di Gedung Putih tahun ini merupakan sebuah harapan terwujudnya persatuan setelah kebencian terhadap muslim meningkat tajam dibandingkan 2001 lalu. Demikian seperti dilansir Antara dari Independent.

Baca juga artikel terkait RAMADHAN atau tulisan menarik lainnya Dipna Videlia Putsanra
(tirto.id - Sosial Budaya)

Reporter: Dipna Videlia Putsanra
Penulis: Dipna Videlia Putsanra
Editor: Dipna Videlia Putsanra