Misbar

Trinity Traveler: yang Penting Jalan-Jalan, Fokus Nomor Dua

Poster Film Trinity traveler
Oleh: Irma Garnesia - 1 Desember 2019
Dibaca Normal 4 menit
Cerita perjalanan seorang perempuan dengan bumbu percintaan dan sentuhan personal lainnya.
tirto.id - Trinity Traveler (2019) diangkat dari buku kedua Trinity berjudul The Naked Traveler 2 yang terbit pada 2009. Film ini melanjutkan kisah Trinity (Maudy Ayunda), seorang pekerja kantoran yang mengejar impiannya menjadi penulis perjalanan (travel writer). Demi mewujudkan pekerjaan impiannya itu, ia memutar otak dan mencoba berbagai cara, berburu tiket promo dan paket liburan terjangkau, melamar beasiswa dan mendaftar sekolah ke luar negeri, hingga fokus menulis cerita perjalanan di blog pribadinya.

Cerita perjalanan Trinity hanya berpusat pada pengalaman pribadinya, mulai dari tempat-tempat menarik di Filipina, makanan unik, dan hal-hal yang harus dilakukan selama berada di sana. Semua tercatat di bucket list yang telah ia buat. Pola sama yang juga ia terapkan di Labuhan Bajo, Pulau Komodo, Makassar, Lampung, hingga Maladewa.

Perjalanan Trinity biasanya memakan waktu hingga dua minggu ketika mendapat sponsor, atau bisa jadi lebih singkat jika dengan ongkos pribadi. Trinity memang sempat lama di Filipina untuk menyelesaikan sekolah. Selain itu, ia melakukan perjalanan dengan anggaran ketat, menghindari peak season, dan bekerja sama dengan pihak ketiga untuk endorsement.


Cerita Trinity memang berbeda dari Julia Roberts di film adaptasi Eat Pray Love (2010), yang filmnya populer di Indonesia. Penulis Eat, Pray, Love bisa berlama-lama di Italia, belajar meditasi di India, dan menikmati Bali serta mencari cinta di Indonesia tanpa diburu-buru oleh bujet atau tiket promo. Perjalanan Trinity juga tidak seperti Eric Weiner di buku Geography of Bliss (2008) yang mengunjungi banyak negara demi "mencari arti kebahagiaan".

Membaca buku-buku traveling Indonesia--terkecuali untuk beberapa judul--memang bisa sangat membosankan. Sebagian besar berisi tips dan trik, atau kisah-kisah lucu di perjalanan. Sulit menemukan keterlibatan mendalam penulis di masyarakat yang ia jumpai. Tentu ada pula travel writer asal Indonesia yang mengambil pendekatan berbeda. Agustinus Wibowo, misalnya, yang berkeliling Asia melalui jalur darat sejak 2005. Dari negeri tirai bambu, naik ke atap dunia Tibet, menyeberang ke Nepal, turun ke India, kemudian menembus ke barat, masuk ke Pakistan, Afghanistan, Iran, berputar lagi ke Asia Tengah, diawali Tajikistan, kemudian Kirgiztan, Kazakhstan, hingga Uzbekistan dan Turkmenistan.

Problemnya memang traveling (khususnya ke luar negeri) bukan aktivitas murah bagi kebanyakan masyarakat Indonesia, meski lebih terakses beberapa tahun belakangan ini--tepatnya setelah demam penerbangan murah dan ketentuan bebas visa di negara-negara ASEAN. Paspor Indonesia pun tak sekuat paspor warga Amerika Serikat, Jerman, atau Inggris yang bisa ke mana-mana dengan bebas visa. Belum lagi posisi rupiah yang lemah jika dibandingkan dengan mata uang lainnya. Maka, pilihan yang tersisa adalah sekolah ke luar negeri, curi-curi liburan ke negara bebas visa di Asia Tenggara, atau menseriusi blog perjalanan seperti Trinity.

Hal inilah yang membedakan fokus penceritaan dalam narasi-narasi perjalanan yang populer di Indonesia selama sepuluh tahun terakhir seperti The Naked Traveler atau Trave(love)ing dengan Eat, Pray, Love atau buku-buku Paul Theroux. Perjalanan Trinity tak dilakukan dalam jangka waktu lama, sehingga tempat tujuannya tak jadi fokus utama. Pengalaman yang ditulis merupakan pengalaman khas turis yang sehari-dua hari mampir di satu tempat dan melaporkan kesan yang ditangkapnya.

Selain bercerita soal perjalanan, Trinity Traveler juga mengangkat persoalan perempuan usia 20-an, yakni permintaan agar segera menikah dari keluarga. Permintaan itu tidak hanya datang dari keluarga inti, melainkan juga dari pertanyaan oom, tante, atau sepupu saat acara keluarga. Padahal, Trinity adalah perempuan mandiri dengan jiwa bebas. Meski demikian, akhirnya ia tetap mencari pasangan untuk memenuhi keinginan mendiang ayahnya.

Perjalanan Trinity tidak hanya soal mengarungi tempat, tapi juga perjalanan mencari belahan jiwa. Mengenai hal ini, ia pun berkonsultasi dengan sahabat-sahabatnya, Yasmin (Rachel Amanda) dan Nina (Anggika Bolsterli), serta sepupunya, Ezra (Babe Cabiita). Kemungkinannya adalah kembali pada mantan, orang misterius bernama Mr. X yang membelikannya tiket perjalanan ke Maladewa, atau Paul (Hamish Daud) yang beberapa kali ia temui selama perjalanan.

Trinity pun menjatuhkan pilihan pada Paul. Pemuda blasteran yang tak sengaja ia temui ketika berkelana di Thailand. Keduanya sudah dekat sejak pertemuan pertama. Mereka pun kembali berjumpa saat Trinity sedang liburan di Maladewa. Kemudian, seolah memang ditakdirkan bersama, mereka lagi-lagi bertemu di Jakarta. Trinity pun memberi Paul kesempatan untuk melakukan pendekatan hingga mereka liburan bersama ke Nusa Tenggara Timur. Singkat cerita, pertemuan tak disengaja itu membuat Trinity dan Paul cinlok.


Seperti biasa, permasalahan film yang diadaptasi dari novel adalah memilih bagian yang hendak difilmkan. Trinity Traveler berusaha keras memasukkan semua cerita buku ke dalam film. Alhasil, cerita film ini jadi sangat padat. Mulai dari cerita Trinity bekerja di kantor dan menjadi penjelajah paruh waktu, melamar beasiswa di Filipina, menyelesaikan kuliah, hingga cerita setelah ia kembali ke Indonesia.

Masalah lainnya adalah cerita yang padat di awal; pekerjaan Trinity di kantor, memutar otak untuk tetap jalan-jalan, mencari beasiswa dan kuliah, hingga lulus. Coba bayangkan, proses dari melamar beasiswa, kuliah, menyelesaikan tesis, hingga lulus kuliah dieksekusi dengan cepat di awal cerita dan tak meninggalkan bekas yang begitu berarti.

Saya masih ingat salah satu dialog Trinity, “Iya, sulit sekali proses seleksi beasiswanya.” Padahal proses Trinity mengurus beasiswa ditampilkan sangat minim, hanya satu atau dua adegan menulis surat lamaran dan melihat website kampus, dan tiba-tiba ia diperlihatkan lulus seluruh beasiswa ke Filipina.

Selain itu, permasalahan adaptasi novel menjadi film adalah dominannya bahasa tutur yang digunakan di awal film. Menonton Trinity Traveler di awal-awal seperti mendengar dongeng yang dituturkan, namun dengan ritme cepat, karena sangat banyak yang ingin diceritakan di bagian awal.

Film ini pun jadi membosankan di tengah cerita, karena plotnya dieksekusi dengan lambat. Sebenarnya, hal ini tidak akan jadi masalah jika ada elemen-elemen cerita tertentu yang diperdalam. Namun, bagian ini hanya menunjukkan Trinity yang memantapkan hatinya untuk Paul. Ia butuh waktu lama untuk memutuskan akan menjalin hubungan. Sementara, hubungan keduanya yang memburuk pun baru diperlihatkan menjelang akhir cerita. Konflik antara mereka sendiri juga sebenarnya sederhana; buruknya komunikasi dan keberadaan orang ketiga.

Sayang tidak ada narasi Paul dikenalkan dengan orangtua Trinity, meski sejak awal gadis itu buru-buru mencari pasangan karena dorongan keluarga. Tidak ada pula penggalan kisah perjodohan paksa dengan mantan yang merupakan pilihan orangtua.



Satu hal lagi yang sebenarnya aneh. Mengapa di awal film, Trinity mau saja dimintai nomor paspor oleh Mr. X yang menjanjikannya tiket liburan ke Maladewa. Ini nomor paspor yang sifatnya rahasia dan menyangkut keamanan diri, lho.

Selain itu, apa sebenarnya hubungan utama cerita antara Trinity dan Mr. X? Memang pria itu bersikap baik dan ingin menunjukkan rasa terima kasih pada Trinity yang suatu kali menyelamatkan dompetnya. Namun, saya tak melihat karakternya dengan benang merah cerita hidup Trinity antara mencari pasangan, jalan-jalan, dan menemukan kebahagiaan.

Sebagai film yang bercerita mengenai perjalanan, Trinity Traveler sebenarnya punya dua pilihan. Pertama, menjadikan kota-kota yang dituju sebagai pusat cerita yang menentukan tindakan-tindakan para pemerannya. Film Trinity Traveler tidak mengeksekusi pilihan ini dan alasannya sudah dijelaskan panjang lebar di awal: bepergian dengan budget terbatas dan jangka waktu pendek. Sayang sekali banyak tempat yang dikunjungi hanya menjadi tempat singgah dan tidak memberi kesan tertentu untuk si pengunjung.

Kedua adalah meningkatkan kompleksitas cerita. Bagaimana jarak yang ditempuh dapat memberi pelajaran tentang hidup, relasi sosial dengan diri, atau dengan orang-orang di sekitar. Cerita perjalanan bisa menjadi wadah kontemplasi kontemplasi bagi siapapun yang melakoninya. Sayangnya Trinity Traveler bukan cerita yang seperti itu.

Baca juga artikel terkait FILM INDONESIA atau tulisan menarik lainnya Irma Garnesia
(tirto.id - Film)

Penulis: Irma Garnesia
Editor: Windu Jusuf
DarkLight