Tips Siaga Bencana saat Pandemi Corona & Langkah Antisipasi Penting

Oleh: Addi M Idhom - 6 Februari 2021
Dibaca Normal 3 menit
Sejumlah langkah siaga bencana penting untuk dilakukan oleh pemda dan masyarakat selama masa pandemi Covid-19.
tirto.id - Ratusan kejadian bencana alam sudah melanda berbagai wilayah di Indonesia selama Januari hingga awal Februari 2021. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menunjukkan selama 1 Januari sampai 6 Februari 2021, sebanyak 337 kejadian bencana alam sudah muncul di tanah air.

Mayoritas kejadian bencana itu adalah banjir (206 kasus), tanah longsor (54 kasus), dan angin puting beliung (61 kasus). Selain itu, ada 7 kasus gempa bumi, 2 kali karhutla dan 7 insiden gelombang pasang serta abrasi.

BNPB mencatat, 337 kejadian bencana tersebut mengakibatkan 203 jiwa meninggal, 10 orang hilang, dan 12.052 korban luka. Adapun total jumlah warga yang terdampak bencana dan mengungsi mencapai 1,7 juta orang.

Banyaknya bencana pada awal tahun ini, terutama banjir, longsor dan puting beliung, tidak terlepas dari kondisi cuaca di mayoritas wilayah Indonesia yang mengalami puncak musim hujam pada Januari dan Februari 2021. Di sisi lain, bencana alam pada awal tahun ini juga perlu penangan lebih ekstra mengingat terjadi di tengah masa pandemi Covid-19.

Satgas Penanganan Covid-19 sudah berulang kali mengingatkan pentingnya rencana kesiapsiagaan ancaman bencana dalam masa pandemi Covid-19.

Selain penting untuk mengurangi dampak bencana kepada masyarakat, langkah kesiapsiagaan itu pun perlu guna mencegah potensi penularan Covid-19.

Upaya pencegahan Covid-19 di wilayah terdampak bencana tidak hanya bisa mengandalkan peran dari Satgas Covid-19 semata. Keterlibatan pemerintah daerah dan masyarakat sangat dibutuhkan.

"Perlu diingat, manajemen bencana akan lebih sempurna dengan adanya keterlibatan masyarakat dan pemerintah daerah untuk gotong-royong melalui rencana kesiapsiagaan pada masa pandemi," kata Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito pada 19 Januari lalu.

Wiku menjelaskan langkah mencegah penularan Covid-19 di kawasan bencana yang penting untuk dilakukan, salah satunya dalam proses evakuasi warga terdampak dan pengelolaan lokasi-lokasi pengungsian.

"Keadaan berdesakan bisa menyebabkan tempat tesebut menjadi pusat infeksi virus corona," ujar Wiku.

Risiko terjadi penularan Covid-19 di lokasi evakuasi dan pengungsian itu bisa menjadi beban ganda karena di tempat-tempat seperti itu sering kali menyebar pula berbagai penyakit lain.

"[.....] Umumnya di pengungsian akan meningkat kemunculan penyakit-penyakit umum yang lain, seperti gangguan pencernaan, diare maupun stres," dia menambahkan.

Berdasar penjelasan Wiku, berikut sejumlah langkah kesiapsiagaan yang penting untuk dijalankan oleh pemerintah daerah guna mengantisipasi bencana alam pada masa pandemi corona.

1. Evaluasi kondisi RS

Evaluasi kondisi rumah sakit yang menangani pasien Covid-19 perlu dilakukan. Dengan begitu, jika terdampak bencana, pengelola rumah sakit sudah siap merujuk pasien Covid-19 ke RS rujukan lain yang terdekat.

2. Menyiapkan tempat evakuasi dan pengungsian

Langkah kesiapsiagaan penting lainnya, menurut Wiku adalah meninjau kembali Tempat Evakuasi Sementara (TES) dan Tempat Evakuasi Akhir (TEA).

Peninjauan itu penting untuk memastikan bahwa warga pengungsi bisa menerapkan jaga jarak dan tidak berkerumun. Disinfeksi secara rutin sebelum terjadinya bencana perlu juga dilakukan di tiap tempat evakuasi.

Hal serupa juga disarankan di lokasi pengungsian. Selain itu, pemda perlu memastikan sudah ada sarana kebersihan, seperti air bersih, fasilitas cuci tangan, sabun ataupun hand sanitizer, di lokasi yang disiapkan untuk pengungsian warga terdampak bencana.

3. Menyiapkan sarana pendukung protokol kesehatan

Langkah lainnya, Wiku melanjutkan, yakni menyiapkan sarana dan prasarana pendukung protokol kesehatan di lokasi evakuasi maupun pengungsian. Sarana itu seperti cadangan alat pelindung diri (APD) dan termometer sebagai bagian dari peralatan P3K.

4. Sosialisasi protokol kesehatan sejak dini

Rencana evakuasi dan penerapan protokol kesehatan bagi masyarakat harus disiapkan. Sosialisasi kepada masyarakat semestinya dilakukan sejak dini, terutama soal pentingnya 3M, yakni menjaga jarak, memakai masker, mencuci tangan dan menjaga kebersihan, ketika evakuasi dan mengungsi.

5. Menyusun rencana evakuasi pasien Covid-19

Langkah kesiapsiagaan yang tidak kalah penting adalah menyusun rencana evakuasi berdasarkan penggolongan orang terdampak Covid-19.

"Sebaiknya, pasien Covid-19 tidak dirawat di daerah dengan risiko bencana tinggi agar tidak perlu dilakukan mobilisasi pasien saat bencana terjadi," kata Wiku.

6. Menyiapkan protokol evakuasi khusus pasien

Yang juga tidak kalah penting, kata Wiku, BPBD dan pemda di daerah bencana harus menyiapkan protokol evakuasi khusus untuk pasien dan pekerja medis.

Maka itu, setiap BPBD perlu berkoordinasi dengan dinas kesehatan, untuk mengetahui data detail tentang lokasi para penderita Covid-19 yang berada di area terdampak bencana.

7. Menyiapkan tanda khusus bagi pasien Covid-19 saat evakuasi

Tanda khusus bagi penderita Covid-19 perlu diberikan saat proses evakuasi. Tanda tersebut dapat berupa pita dengan warna khusus di tangan, dan masker bersimbol tertentu.

8. Menyiapkan lokasi evakuasi dan pengungsian khusus bagi pasien Covid-19

Menyiapkan Tempat Evakuasi Sementara (TES) dan Tempat Evakuasi Akhir (TEA) yang khusus bagi penderita Covid-19, dan terpisah dari masyarakat umum, juga jadi langkah kesiapsiagaan penting untuk menghadapi potensi bencana di tengah pandemi.

Jalur evakuasi khusus bagi orang berstatus positif Covid-19 pun penting untuk disiapkan. Dengan begitu, risiko warga yang sehat dan positif Covid-19 berkumpul di satu tempat dapat dicegah.

"Dengan dibarengi sosilisasi yang masif sebelum pelaksanaan evakuasi. Dan perlu ditekankan pada pekerja sosial agar membantu evakuasi kasus positif dengan dilengkapi APD dan peralatan P3K," kata Wiku.


Tips Siaga Bencana Bagi Masyarakat saat Pandemi

Pada masa pandemi Covid-19, bencana akan terasa lebih berat dirasakan masyarakat. Selain akan terdampak oleh bencana, masyarakat juga berisiko lebih mudah tertular Covid-19 ketika terpaksa harus tinggal di lokasi pengungsian.

Risiko penularan Covid-19 meningkat karena, saat bencana terjadi, biasanya banyak warga harus berkumpul di tempat evakuasi atau pengungsian, sekaligus dengan sarana pendukung minim.

Apalagi, ketika bencana alam mengharuskan warga mengungsi, kelompok rentan seperti ibu hamil, bayi, anak-anak dan lanjut usia mudah terserang penyakit. Di sisi lain, akses ke layanan kesehatan dan sumber pangan, serta kebutuhan pokok lainnya, bisa jadi sangat terbatas.

Oleh karena itu, masyarakat di daerah rawan bencana penting untuk melakukan langkah persiapan dan antisipasi.

Untuk menghadapi risiko bencana alam pada masa pandemi Covid-19, Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes) menyarankan masyarakat untuk melakukan langkah-langkah berikut:

  • Kenali ancaman bencana di sekitar tempat tinggal
  • Pantau berita terkait ancaman bencana
  • Lengkapi perlengkapan siaga bencana dengan masker cadangan, hand sanitizer, alat mandi
  • Rencanakan tempat evakuasi yang aman dengan tetap menjaga jarak
  • Memakai masker apabila keluar dari rumah
  • Rajin mencuci tangan pakai sabun dengan air mengalir minimal 20 detik
  • Selalu jaga jarak dengan orang lain minimal 1 meter
  • Rutin berolahraga
  • Mengikuti akun media sosial penting (terkait informasi bencana)
  • Mencatat nomor telepon penting (panggilan untuk pertolongan darurat)
  • Melakukan simulasi bencana di rumah bersama keluarga sebagai langkah persiapan
  • Tetap melaksanakan protokol kesehatan 3M secara disiplin.

Sementara langkah-langkah penting lainnya yang perlu dilakukan untuk mengantisipasi berbagai jenis bencana alam, masyarakat bisa mencermatinya melalui link buku saku BNPB.

Baca juga artikel terkait BENCANA atau tulisan menarik lainnya Addi M Idhom
(tirto.id - Sosial Budaya)

Penulis: Addi M Idhom
Editor: Agung DH
DarkLight