Tinjamu Mungkin Bisa Selamatkan Dunia, Maka Hargailah

Ilustrasi Toilet. FOTO/iStockphoto
Oleh: Aditya Widya Putri - 15 November 2019
Dibaca Normal 3 menit
Kandungan tinja terdiri dari berbagai senyawa dan mikroorganisme yang menghasilkan beragam reaksi kimia yang bermanfaat bagi manusia.
Selama ini tinja hanyalah dianggap sebatas sisa kotoran yang sama sekali tak punya nilai manfaat. Namun, siapa mengira jika hasil akhir dari sekresi manusia itu nyatanya sangat berdaya guna? Bukan cuma bisa dijadikan pupuk atau sumber bahan bakar, tinja telah menjadi solusi kesehatan dunia, bahkan dapat diolah menjadi berbagai macam panganan.

Seperti sampah, keberadaan Tinja selama ini kerap disepelekan dan tidak dikelola secara benar. Dalam laporan WHO (2012), Indonesia menempati peringkat tiga besar negara yang masih buang hajat sembarangan. Sementara dilansir dari Antara, awal tahun 2019 lalu Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) menyatakan sekitar 25 juta rakyat Indonesia tidak buang hajat di kakus.

Mereka yang memiliki kakus pun belum tentu paham aturan pembuangan tinja yang aman. Tragedi ledakan bak penampung tinja pekan lalu, Rabu (6/11/2019) di Cawang, Jakarta Timur, adalah salah satu contoh teraktualnya.

Korban yang berprofesi sebagai tukang sedot wc justru menyalakan penerangan dengan cara membakar kertas koran. Gas di dalam bak penampungan kemudian bereaksi terhadap energi panas dari api hingga menimbulkan ledakan. Perilaku korban menggambarkan dengan jelas ketidaktahuan soal kandungan dan perlakuan yang tepat dalam mengelola tinja.


Feses manusia tersusun dari berbagai macam zat dan mikroba. Secara umum, 75 persen komposisinya adalah air dan 25 persen lainnya zat padat. Persentase zat padat pada tinja terdiri dari bakteri mati sebanyak 30 persen, 10-20 persen lemak, 10-20 persen zat anorganik seperti kalsium fosfat dan magnesium fosfat, 2-3 persen protein, serta 30 persen zat tidak tercerna seperti selulosa.

Manusia dewasa rata-rata mengeluarkan 135-270 gram tinja setiap hari. Di dalamnya termasuk sisa sel yang keluar dari selaput lendir saluran usus, seperti pigmen empedu (bilirubin) dan leukosit (sel darah putih). Warna coklat pada tinja merupakan hasil dari aksi bakteri pada bilirubin – yang merupakan produk akhir dari pemecahan hemoglobin (sel darah merah).

Sumber Energi

Sebuah penelitian di Jurnal Plos (2017) mengungkapkan, dalam kondisi bebas oksigen, ternyata tinja memelihara 50 persen bakteri hidup. Setiap satu gram tinja basah kira-kira hidup hampir 100 miliar bakteri. Mikroorganisme itulah yang membuat beragam reaksi kimia, termasuk bau pada tinja dan dekomposisi.

Bau kotoran tercipta dari aksi bakteri yang menghasilkan bahan kimia indole, skatole, hidrogen sulfida, dan merkaptan. Sementara gas dihasilkan dari proses dekomposisi tinja yang bisa terjadi dalam dua bentuk. Pertama dekomposisi aerobik dengan menyertakan unsur oksigen atau dekomposisi anaerob, tanpa adanya oksigen.


Dekomposisi anaerob lebih banyak melibatkan bakteri karena oksigen memiliki sifat merusak bakteri tertentu. Proses ini melewati empat fase berbeda sebelum akhirnya dekomposisi tinja menghasilkan gas metana: fase hidrolisis, asidogenesis, asetogenesis, dan metanogenesis.

Pada fase pertama, bakteri penghasil asam bertugas mengonversi komposit organik tinja menjadi molekul yang lebih kecil. Begitu juga di tiap fase berikutnya, bakteri mengurai produk tinja ke senyawa yang lebih sederhana. Hingga di fase terakhir bakteri metanogen menghasilkan metana (CH4) dan karbon dioksida (CO2).

Dari sinilah produksi biogas tinja tercipta dan menjadi sumber bahan bakar. Beberapa wilayah di Indonesia, seperti Gunung Kidul, Jawa Tengah, hingga Maros, Sulawesi Selatan, sudah menerapkan biogas tinja sebagai sumber bahan bakar pengganti gas LPG. Sementara sisa fermentasi berupa ampas tinja (bio-slurry) lazim dimanfaatkan sebagai pupuk organik.



Dari Terapi Kesehatan hingga Makanan

Pemimpin Korea Utara, Kim Jong-un, terkenal selalu membawa toilet pribadi kemanapun ia pergi. Jong-un punya alasan di balik tindakan nyelenehnya itu. Ia tak mau kotorannya tercecer dan dimanfaatkan pihak lawan untuk mengetahui kelemahannya, karena cukup lewat tinja status kesehatan seseorang dapat teridentifikasi.

Laman The Continence Foundation of Australia, sebuah organisasi yang giat mempromosikan kesehatan kandung kemih dan usus, mengidentifikasi tujuh tipe feses. Tipe-tipe feses ini adalah gudang informasi kesehatan milik tuannya. Feses tipe 1 dan 2 menandakan gejala konstipasi. Sekresinya sulit dikeluarkan, berbentuk bongkahan-bongkahan kecil seperti kerikil dan keras. Jenis feses ini menunjukkan dua identifikasi kesehatan: kekurangan serat atau dehidrasi.

Feses tipe 3 dan 5 merupakan bentuk feses yang mendekati baik dan bentuk terbaiknya adalah tipe 4. Feses tipe ini dikeluarkan dengan mudah, konturnya tidak keras dan tidak lembek, dan berbentuk utuh. Tandanya pencernaan tubuh berada dalam kondisi normal. Mereka yang memiliki tipe feses ini bisa menjadi pendonor tinja di bidang medis selayaknya donor darah.


Berkat teknologi kesehatan kiwari yang sudah semakin canggih, terobosan obat-obatan pun bisa bersumber dari hal seremeh tinja. Ekstraksi bakteri baik tinja telah menjadi solusi atas pengobatan infeksi bakteri Clostridium difficile (bakteri pada usus besar). Infeksi ini setidaknya telah membunuh 15 ribu orang dan menyerang setengah juta orang per tahunnya di Amerika.

Selama ini, pengobatan infeksi tersebut lazim menggunakan antibiotik. Tapi penggunaan antibiotik akan meningkatkan resistensi atau bahkan gagal pengobatan karena bakteri baik terbunuh, sementara bakteri jahat justru tumbuh tak terkendali. Dengan transplantasi feses, proses pengobatan akan lebih efektif karena hanya bakteri baik yang akan ditransfer ke usus pasien

Selanjutnya, feses tipe 6 dan 7 menunjukkan kondisi diare. Tipe ini sangat mudah dikeluarkan, frekuensinya dapat terjadi berkali-kali, serta lembek dan berair. Kondisi feses ini terjadi karena gangguan pada keseimbangan bakteri baik di usus.

Selain dimanfaatkan sebagai biogas, pupuk, obat, daur ulang tinja menjadi makanan atau minuman mungkin menjadi terobosan yang paling aneh. Tapi mengingat adanya krisis pangan di berbagai belahan dunia, penciptaan ini mungkin akan menjadi solusi masa depan.

Di Jepang, Mitsuyuki Ikeda dari Okayama Laboratory menciptakan inovasi steak tinja dari ekstraksi tinja ditambah protein kedelai dan pewarna makanan.


Kandungan protein yang tinggi menjadi dasar ide pembuatan berbagai makanan berbahan tinja. Di Spanyol ada sosis “Feut” yang terbuat dari daging sapi ditambah bakteri prebiotik, yakni Lactobacillus dan Bifidobacterium dari tinja bayi. Bakteri ini membuat "Feut" menjadi makanan kesehatan yang mengandung prebiotik, seperti yoghurt.

Sementara di Korea Selatan, terdapat minuman beralkohol bernama Ttongsul yang terbuat dari fermentasi tinja anak usia di bawah enam tahun dan alkohol dari sulingan air gandum. Minuman dengan kadar alkohol 9 persen ini, meski sudah sangat jarang ditemui, tapi pernah populer digunakan orang Korea zaman dulu sebagai obat.

Setelah membaca artikel panjang ini, kamu mestinya harus mulai menghargai fesesmu sebagaimana Kim Jong-un menghargai fesesnya. Sebab ternyata, tinjamu bisa menyelamatkan dunia dari kelaparan, ancaman kesehatan, dan ancaman lingkungan. Minimal, kamu sudah bisa memberi jawaban ketika ada orang bertanya: "Ada apa dengan tinja?"

Baca juga artikel terkait TINJA atau tulisan menarik lainnya Aditya Widya Putri
(tirto.id - Kesehatan)

Penulis: Aditya Widya Putri
Editor: Eddward S Kennedy
DarkLight