Misbar

The Umbrella Academy: Luka Menjadi Orang Dewasa

The Children. FOTO/Netflix
Oleh: Aulia Adam - 4 Maret 2019
Dibaca Normal 3 menit
Punya kekuatan super takkan menghindarkan fakta bahwa mereka tetaplah manusia. Rapuh dan rentan untuk disakiti.
“Dalam 12 jam pertama pada hari pertama Oktober 1989, [sebanyak] 43 perempuan melahirkan bersamaan di seluruh dunia. Hal ini tak lazim, karena tak satu pun dari mereka hamil saat hari itu dimulai.

“Sir Reginald Hargreeves, miliuner eksentrik dan seorang petualang, memutuskan untuk menjemput dan mengadopsi sebanyak mungkin bayi yang bisa didapatkannya,” kata sang narator.

“Luar biasa!” kata Sir Reginald Hargreeves, melepas sarung tangan latex-nya sambil menyentuh salah satu bayi yang lahir di Rusia dengan telunjuknya. “Berapa duit agar kau melepasnya?” sambung Sir Reginald Hargreeves, bertanya pada sang ibu yang sedang mengendong bayi itu dengan tatapan bingung dan takut.


Singkat cerita, dia berhasil mendapat tujuh bayi.

Prolog singkat yang tak sampai lima menit itu jadi pembuka The Umbrella Academy, serial baru Netflix yang diadaptasi dari komik karya Gerard Way dan Gabriel Ba, berjudul sama. Dalam 10 episode berikutnya, kita memang akan mengikuti hidup tujuh bayi yang diadopsi Sir Reginald Hargreeves—yang ia rekrut dan didik jadi pahlawan super sejak kecil.

Sayangnya, ini bukan cerita gembira tentang mereka melawan bandit dan menyelamat dunia. The Umbrella Academy adalah cerita tentang para pensiunan pahlawan super yang amat membenci ayah angkat mereka.

Daddy Issue

Jika dalam X-Men, Professor Xavier dinarasikan sebagai protagonis bijaksana, yang menjadi figur ayah bagi para mutan yang direkrutnya, maka Sir Reginald Hargreeves adalah anti-tesisnya. Ia sama sekali tak dicintai 7 bocah yang ia adopsi, sebagaimana para murid X-Mansion menghormati Professor Xavier.

Sebaliknya, ia malah dibenci dan ditinggalkan.

Selepas lima menit pertama di episode 1, kita akan langsung dibawa ke masa 30 tahun kemudian. Semua bocah yang diadopsi Sir Reginald Hargreeves sudah dewasa: ada yang tinggal di bulan sebagai astronot, pemain biola, aktris Hollywood, pahlawan kelas jalanan yang lebih sering dianggap vigilante, pembunuh bayaran, junkie, dan ada pula yang sudah mati.

Mereka baru bertemu lagi ketika mendapat kabar bahwa sang ayah telah semaput.

Keenamnya harus kembali bernostalgia dengan masa kecil mereka. Mengingat semua bekas luka yang bikin mereka meninggalkan sang ayah, dan hidup berpencar. Tak ada tangisan. Cuma perasaan getir dan kekikukan karena harus kembali berbaur dengan sanak keluarga yang sudah lama tak berjumpa.

Dalam reuni itu mereka bertukar kabar, tapi tanpa disadari juga saling berbagi duka akibat bekas luka yang ditinggalkan ayah mereka.


Sir Reginal Hargreeves memang bukan ayah yang baik. Ia memang menafkahi bocah-bocah itu, memberi makan, tempat tinggal layak, dan pendidikan ini-itu. Tapi, alih-alih seperti anak kandung, ia justru memperlakukan mereka seperti objek penelitian belaka. Tak ada yang diberi nama, mereka dipanggil sesuai nomor urutan: satu sampai tujuh.

Sejak kecil, mereka dididik untuk jadi pahlawan super, kecuali Nomor Tujuh alias Vanya (Ellen Pages), yang didiagnosis tidak memiliki kekuatan super oleh Sir Reginald Hargreeves. Enam bocah lainnya diajak memikirkan kemaslahatan dunia di atas segalanya. Mereka harus bangun pagi untuk latihan fisik, otak, dan segala yang dibutuhkan untuk jadi prajurit hebat. Sejak kecil pula mereka menurut.

Pemberontakan mulai terjadi ketika mereka beranjak remaja. Satu per satu ingin jadi manusianya sendiri, dan memilih pergi dari rumah. Tak ada yang mau dianggap sebatas objek, kecuali Vanya yang setengah mati cemburu pada semua saudaranya. Sang bontot akhirnya mendapat beban lebih karena menjadi minoritas.

Luka mereka terlalu dalam, hingga satu-satunya cara mengumpulkan mereka kembali adalah kematian Sir Reginald Hargreeves. Sang miliuner paham itu dan akhirnya merencanakan kematiannya sendiri. Ia butuh anak-anak adopsinya berkumpul dan menghentikan kiamat yang akan terjadi dalam beberapa hari lagi.

Keluarga Berantakan, Narkoba, dan Sang Rock Star

Gerard Way menulis komik The Umbrella Academy 12 tahun lalu, saat band-nya, My Chemical Romance, berada di puncak kejayaan. Luka menjadi orang dewasa jadi tema besar dalam komik itu. Semua emosinya tentang perpecahan band, ketenaran, dan pengaruh narkoba ia salurkan pada tujuh bocah berkekuatan super yang hidup di bawah tekanan ayah mereka yang otoritatif.

Lewat persaingan konyol antara Nomor Satu alias Luther (Tom Hopper) dan Nomor Dua alias Diego (David Castañeda) yang selalu ingin jadi pemimpin, Way berbagi pengalamannya berdiskusi dengan ego ketika hidup di sebuah band terkenal. Dalam wawancaranya dengan Rolling Stone, ia bahkan mendeskripsikan band-nya sebagai keluarga berantakan karena berisi kepribadian-kepribadian besar, yang punya perasaan ingin selalu menonjol.

Lewat Allison alias Nomor Tiga (Emmy Raver-Lampman), Way bercerita tentang pengalamannya punya anak dan jadi orang terkenal. Way juga tak lupa menyelipkan kisah perceraian pada hidup Allison, dan bagaimana hal itu mempengaruhi hidup sang bintang.

Sementara lewat Klaus alias Nomor Empat (Robert Sheehan), Way menggambarkan kecanduannya atas narkoba dengan amat detail. Karakter satu itu punya kekuatan super bisa melihat orang mati, dan berkomunikasi dengan mereka. Klaus sendiri bukan penggemar kekuatannya, sehingga mati-matian untuk bisa berhenti melihat apa yang tak bisa dilihat manusia normal. Obat-obatan jadi jalan keluarnya.


Lewat karakter Klaus, kita akan paham mengapa seorang junkie benar-benar butuh bantuan orang-orang sekitarnya. Mereka memang akan sangat menyebalkan dan susah dimengerti karena amat destruktif. Namun, hal itu pula yang jadi alasan besar kita untuk menolong mereka, alih-alih menimpakan stigma.

Tak jauh beda dari Klaus, Nomor Lima (Aidan Gallagher) yang punya kekuatan menerobos ruang dan waktu, juga punya kecanduan yang susah dilepasnya. Ia amat pintar dan altruis, sehingga candu untuk jadi yang paling terdepan menyelamatkan dunia. Sikap itu membuat Nomor Lima malah jadi dingin dan berjarak dengan orang-orang di sekitarnya. Ia malah terlihat lebih egois karena tak bisa menghargai lawan bicaranya dengan sepadan.

Sementara lewat Vanya, Way menyelipkan sebagian dirinya yang selalu merasa terasing dan tidak pas dengan lingkungan umum. Tumbuh sebagai anak yang tidak istimewa seperti saudaranya yang lain, membuat Vanya tumbuh dalam kesunyian, dengan luka yang pedih. Ia selalu merasa kurang dari yang lainnya, dan sering kali terkucilkan.

Kepedihan itu pula yang membuat dirinya jadi bom waktu—yang tak akan diduga-duga kedatangannya. Sesuatu yang patut ditakuti sebagaimana kiamat yang ditakuti Sir Reginald Hargreeves.




Luka Orang Dewasa

The Umbrella Academy mungkin akan terlihat seperti reuni seru tujuh orang saudara angkat menyelamatkan dunia dari kiamat. Mereka akan dihadap pembunuh bayaran yang punya koper mesin waktu, sebuah organisasi penjaga ketertiban waktu, bahkan seorang bandit psikopat yang terobsesi jadi salah satu bocah di Umbrella Academy.

Namun, lebih dalam dari itu, serial ini bercerita tentang bagaimana keluarga bisa merusak sekaligus jadi tempat pulang dan menjadi diri sendiri.

Semua karakter dikembangkan dengan sangat rapi dan tidak dangkal. Tak cuma para protagonis, bandit-bandit di serial ini juga mendapat ruang untuk berkembang jadi karakter solid. Karakter mereka tak semena-mena muncul dan jadi jahat. Ada motif dan latar yang dibangun rapi. Misalnya tokoh Leonard Peabody atau Harold Jenkins (John Magaro) yang jadi bandit psikopat. Ia diberi ruangan cukup luas agar tumbuh jadi antagonis yang kejam. Misteri tentang dirinya dibangun pelan-pelan, hingga kita tak akan terkejut ketika topengnya disingkap.

Kedalaman cerita ini jadi salah satu yang menonjol dalam The Umbrella Academy. Kita bisa melihat, semua karakter di dalamnya bukan pribadi hitam-putih. Ada kompleksitas yang mereka bawa, yang tentu saja punya nilai reflektif buat penonton. Masing-masing punya luka yang dibawa, luka yang cuma bisa dipahami orang dewasa.

Baca juga artikel terkait FILM HOLLYWOOD atau tulisan menarik lainnya Aulia Adam
(tirto.id - Film)

Penulis: Aulia Adam
Editor: Maulida Sri Handayani
DarkLight