The Professor and The Madman, Lebih dari Sekedar Sejarah Oxford

Oleh: Addi M Idhom - 12 Oktober 2020
Dibaca Normal 3 menit
Sinopsis film The Professor and The Madman: seorang ahli bahasa yang putus sekolah dan kriminal gila berperan besar di penyusunan kamus Oxford.
tirto.id - Ada banyak alasan yang membuat film The Professor and The Madman layak ditonton. Tiga hal utamanya adalah pemeran, kualitas naskah, dan alur cerita yang menarik.

Film yang tayang di Mola TV sejak 8 Oktober 2020 tersebut melibatkan 3 aktor kawakan: Mel Gibson, Sean Penn, dan Eddie Marsan.

Dari segi cerita pun tak kalah menarik. Garapan sutradara Farhad Safinia (dengan nama samaran PB. Shemran) ini menyajikan sebuah kisah misterius di sejarah penyusunan Kamus Besar Bahasa Inggris Oxford pada abad 19.

Farhad, sineas AS kelahiran Iran, tercatat pernah berkolaborasi dengan Mel Gibson ketika menulis skenario film legendaris Apocalypto. Sedangkan saat membesut The Professor and The Madman, Farhad menyusun naskah film ini bersama dengan Todd Komarnicki, penulis skenario dan novelis AS yang diperhitungkan.

Kisah dari Buku Karya Simon Winchester

Selain itu, film The Professor and The Madman merupakan adaptasi buku dengan judul mirip yang ditulis oleh Simon Winchester. Buku populer itu semula terbit di Inggris dengan judul The Surgeon of Crowthorne: A Tale of Murder, Madness and the Love of Words, pada 1998.

Setahun kemudian, buku tersebut diterbitkan HarperCollins di AS dengan judul baru, The Professor and the Madman: A Tale of Murder, Insanity, and the Making of the Oxford English Dictionary. Di Indonesia, terjemahan buku ini dihadirkan penerbit Serambi pada 2007 silam.

Nama Simon Winchester tak asing lagi bagi pembaca dunia. Lebih dari 25 buku sudah ditulis oleh eks jurnalis The Guardian sekaligus Geolog lulusan Universitas Oxford tersebut. Buku-buku karya Simon memuat kisah-kisah misterius dan tersembunyi dari berbagai belahan dunia dan momen bersejarah penting, hasil riset mendalamnya bertahun-tahun. Salah satunya Krakatau: Ketika Dunia Meledak 27 Agustus 1883 (2003).

Sejarah mencatat penyusunan Kamus Bahasa Inggris Oxford memerlukan waktu 70 tahun, dimulai sejak 1857. Untuk menyusun kamus ini, puluhan ribu pemikir brilian terlibat dalam pencatatan 414.825 kata dengan definisi yang tepat. Simon berhasil melacak kisah misterius, yakni hubungan dua sosok yang mempunyai peran besar di proyek itu, James Murray dan William Chester Minor.

Selama 2 dekade, Murray dan Minor saling berkorespondensi untuk keperluan penyusunan kamus Oxford. Dan, baru pada tahun 1896, ketika keduanya bertemu, Murray mengetahui bahwa sosok yang menjadi kolega pentingnya ternyata adalah pasien di Broadmoor, rumah sakit jiwa di Inggris untuk kriminal gila.

Di website pribadinya, Simon mengaku mulai tertarik dengan kisah dua orang tersebut pada awal 1980-an. Semula Simon diajak oleh koleganya dari lembaga penerbitan Universitas Oxford guna melihat gudang barang-barang lama milik kampus. Bagi Simon, barang di gudang itu harta karun.

Di antara barang yang ia pungut ialah sebuah pelat asli mesin cetak dari abad ke-19 untuk Kamus Oxford Volume 5, sebagian tentang kata-kata humor. Dari barang itu, Simon lantas menyisir kisah menarik yang terlupakan oleh banyak orang.

Selain sejarah misterius penyusunan kamus Bahasa Inggris Oxford versi pertama, di antara buku-buku Simon yang memikat pembaca internasional adalah The Map that Changed the World (2001), dan Krakatoa: The Day the World Exploded. Buku yang terakhir menceritakan kisah menggetarkan seputar ledakan dahsyat Gunung Krakatau pada 1883.

Saat berbicara dalam sebuah diskusi di Yogyakarta pada 2017 lalu, Simon mengaku tidak pernah kehabisan ide karena selalu mencermati banyak hal yang dinilai kebanyakan orang sebagai sesuatu yang biasa dan sepele. Dari hal-hal sepele itulah, ia menemukan cerita-cerita besar.

"Dunia harus dilihat dari kaca mata anak usia 10 tahun, yang selalu kagum saat melihat semua hal dan selalu ingin tahu tentang segalanya," kata Simon.


Alur Cerita The Professor and The Madman

Dengan konteks era pertengahan abad ke-19, The Professor and The Madman mengisahkan kerja sama 2 sosok yang punya latar berlakang jauh berlainan dalam perumusan kamus Oxford. Sang profesor dan si Gila itu ialah James Augustus Murray (Mel Gibson) dan William Chester Minor (Sean Penn).

Murray, filolog asal Skotlandia, menerima mandat dari Delegasi Agung Oxford University Press untuk memimpin proyek yang mengalami kebuntuan bertahun-tahun, yakni penyusunan Kamus Besar Bahasa Inggris Oxford. Pemilihan Murray sebenarnya kontroversial karena ia tak punya latar belakang akademik meyakinkan.

Murray hanyalah pembelajar ilmu sastra dan bahasa otodidak yang putus sekolah sejak usia 14 tahun. Namun, kapasitas Murray sama sekali tidak meragukan. Ia menguasai belasan bahasa. Sebagai poliglot, ia fasih dalam bahasa Latin, Belanda, Jerman, Celtic, Denmark hingga Arab. Murray pun layak disebut sebagai Polimatik karena pengetahuannya yang luas.

Sebaliknya, William Chester Minor adalah eks perwira militer Amerika Serikat yang dijebloskan ke rumah sakit jiwa di Inggris karena membunuh orang. Minor sebenarnya ahli bedah, tapi eks dokter militer berpangkat kapten itu didiagnosis mengidap skizofrenia.

Meskipun begitu, Minor mempunyai kontribusi besar terhadap penyusunan kamus Oxford. Melalui surat-suratnya dari rumah sakit jiwa, Minor menyumbangkan definisi sebanyak 10 ribu kata, yang sebelumnya sempat membingungkan Murray.


Keterlibatan Minor berawal dari ide Murray yang ingin memecahkan kebuntuan proyeknya setelah meleset kembali dari target penyelesaian. Murray lalu meminta bantuan masyarakat umum untuk mnginformasikan kata-kata dalam bahasa Inggris yang mereka ketahui, bersama dengan definisi, penggunaan, dan asal-usulnya.

Maka, jadilah Minor yang mengalami masalah kejiwaan, salah satu kontributor untuk perumusan kamus Oxford. Minor, mantan dokter militer pada masa perang itu menjadikan kegiatan menyelami buku-buku untuk menyigi puluhan ribu kata sebagai semacam penenang dan penawar atas jiwa gelisahnya. Di tengah kesibukan baru itu, Minor bertemu istri pria (Natalie Dormer) yang ia bunuh. Dan, cinta yang rumit lantas tumbuh.

Relasi Murray dan Minor memang seperti hubungan simbiosis mutualisme. Bagi Murray, "si gila" adalah anugerah untuk penyelesaian proyeknya. Sebalinya, bagi Minor, si profesor membantunya mencari jalan kesembuhan. Akan tetapi, upaya mereka berdua menyusun kamus Oxford bukan sesuatu yang gampang dan sepi rintangan.


Dengan lokasi syuting di Dublin, secara teknis film ini menyajikan sinematografi memikat. Namun, meski film bercerita mengenai sejarah "pencarian kata-kata" untuk sebuah kamus istimewa, tidak banyak dialog dengan kalimat-kalimat yang menyentak kepala bisa ditemukan di film ini.

Sekalipun begitu, penampilan Mel Gibson dan Sean Penn tidak diragukan lagi telah menjadi tulang punggung utama film yang proses produksinya diwarnai saling gugat antara Gibson-Farhad dengan Voltage Picture tersebut.

Untuk menyimak keseluruhan kisah dalam The Professor and the Madman, pemirsa bisa menonton film ini di Mola TV.

Baca juga artikel terkait FILM MOLA TV atau tulisan menarik lainnya Addi M Idhom
(tirto.id - Film)

Penulis: Addi M Idhom
Editor: Agung DH
DarkLight