Tema Hari Pemberantasan Kemiskinan Sedunia 2021 dan Sejarahnya

Oleh: Ega Krisnawati - 16 Oktober 2021
Dibaca Normal 1 menit
Tema peringatan Hari Pemberantasan Kemiskinan Sedunia pada tanggal 17 Oktober 2021 dikaitkan dengan kondisi orang-orang miskin saat pandemi.
tirto.id - Hari Pemberantasan Kemiskinan Sedunia atau International Day for the Eradication of Poverty dirayakan setiap tanggal 17 Oktober. Tahun ini, peringatan Hari Pemberantasan Kemiskinan Sedunia pada Minggu (17/10/2021).

Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) menetapkan tema Hari Pemberantasan Kemiskinan Sedunia 2021 ialah sebagai betikut: "

Building forward together: ending persistent poverty, respecting all people and our planet. Artinya, membangun kemajuan bersama: mengakhiri kemiskinan akut, menghormati sesama dan planet kita."

PBB menilai pandemi Covid-19 yang saat ini telah mengakibatkan nyaris 5 juta kematian membalikkan kemajuan dalam memerangi kemiskinan yang sudah dicapai dalam puluhan tahun terakhir.

Laporan Bank Dunia bertajuk "Dampak kemiskinan yang Diperkirakan Akibat Covid-19," sebanyak 71 hingga 100 juta orang masuk dalam jurang kemiskinan ekstrem selama krisis pada saat pandemi. Bank Dunia memperkirakan banyak orang yang mengalami kemiskinan ekstrem saat pandemi berada di Asia Selatan dan Negara-negara sub-Sahara.

Selama tahun 2021, masih mengutip publikasi PBB, jumlah orang dengan kemiskinan ekstrem diprediksi melonjak menjadi sekitar 143 sampai 163 juta jiwa. Mereka yang menjadi "orang miskin baru" tersebut bergabung dengan 1,3 miliar orang yang sebelumnya sudah hidup dalam kemiskinan multidimensi dan makin parah kondisinya ketika pandemi. Apalagi, langkah-langkah penanganan pandemi, semacam pembatasan mobilitas, sering kali menambah parah kondisi kemiskinan mereka.

Karena itu, makna dari tema "membangun kemajuan bersama," ialah upaya memperbaiki hubungan manusia dan alam, membongkar struktur diskriminasi yang memicu kemiskinan, membangun kerangka moral dan HAM untuk menempatkan martabat manusia di inti sari kebijakan.

PBB menegaskan, tema "membangun kemajuan" lebih dari sekadar mewujudkan visi "tidak ada yang tertinggal," tetapi juga mendorong dan mendukung orang-orang miskin guna secara aktif berpartisipasi di proses pengambilan kebijakan yang secara langsung memengaruhi kehidupan mereka.

Sejarah Hari Pemberantasan Kemiskinan Sedunia

Sejarah peringatan Hari Pemberantasan Kemiskinan Sedunia bermula pada 17 Oktober 1987. Kala itu, sebanyak lebih dari 100 ribu orang berkumpul di Trocadéro, Paris, Prancis untuk menyaksikan Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia.

Dikutip dari laman resmi UNESCO, deklarasi itu ditandatangani untuk memberikan dukungan kepada mereka yang menjadi korban kemiskinan ekstrem, kelaparan, dan kekerasan. Dalam deklarasi itu, kemiskinan dianggap sebagai bagian dari pelanggaran hak asasi manusia (HAM) dan bukti akan pentingnya menghormati hak-hak sesama.

Selanjutnya, setiap tanggal 17 Oktober, semua orang dari latar belakang yang berbeda berkumpul memperbarui komitmen dan menunjukkan solidaritas mereka kepada orang-orang miskin.

Lantas, pada 22 Desember 1992, Majelis Umum PBB menetapkan tanggal 17 Oktober sebagai Hari Internasional untuk Pemberantasan Kemiskinan atau Hari Pemberantasan Kemiskinan Sedunia.

PBB meyakini bahwa upaya berkelanjutan dalam pemberantasan kemiskinan membutuhkan dukungan kapasitas individu melalui peningkatan kualitas pendidikan, ilmu pengetahuan, dan ekonomi kreatif. Mengakhiri kemiskinan tidak hanya membantu orang-orang miskin, tetapi juga memberi mereka kesempatan untuk hidup layak.

Penetapan peringatan Hari Pemberantasan Kemiskinan Sedunia setiap tanggal 17 Oktober dilatarbelakangi adanya keyakinan bahwa kemiskinan bukan semata-mata masalah ekonomi, tapi fenomena multidimensi yang mencakup kurangnya pendapatan dan kemampuan dasar untuk hidup layak.

Orang-orang yang hidup dalam kemiskinan mengalami ketidakadilan, sehingga mereka tidak bisa mewujudkan hak-haknya sebagai manusia. Sejumlah ketidakadilan yang mendorong banyak orang di dunia terjerat kemiskinan di antaranya adalah: kondisi kerja yang berbahaya; perumahan yang tidak aman; kekurangan makanan bergizi; akses yang tidak setara terhadap keadilan; kurangnya daya tawar politik; hingga minimnya akses pada kesehatan yang layak.

Baca juga artikel terkait KEMISKINAN atau tulisan menarik lainnya Ega Krisnawati
(tirto.id - Sosial Budaya)

Kontributor: Ega Krisnawati
Penulis: Ega Krisnawati
Editor: Addi M Idhom
DarkLight