Tanggapan Mendag Soal Kenaikan Harga Daging Ayam di Pasaran

Oleh: Shintaloka Pradita Sicca - 24 Mei 2018
Dibaca Normal 1 menit
Menteri Perdagangan, Enggartiasto Lukita mengatakan kenaikan harga daging ayam ini disebabkan ketersediaan yang berkurang di pasar.
tirto.id - Harga daging ayam mengalami kenaikan mulai dari menjelang Ramadan hingga saat ini harga masih di atas Harga Eceran Tertinggi (HET) Rp32 ribu per kilogram. Menteri Perdagangan, Enggartiasto Lukita mengatakan kenaikan harga daging ayam ini disebabkan ketersediaan yang berkurang di pasar.

Ia menyebutkan suplai daging ayam di pasar sekitar 30-40 persen dari kebutuhan. "Kami [jajaran pejabat/staf Kemendag] semua turun [cek] ke pasar, kenaikan karena suplai berkurang," ujar Enggar di Kementerian Perdagangan Jakarta pada Rabu (24/5/2018).

Adanya penimbun dalam suplai daging ayam, dikatakannya itu tidak mungkin terjadi. Sebab, jika ayam mati sifatnya harus segera didistribusikan karena dapat menurunkan harga kalau disimpan lama. Sementara kalau ayam hidup ditahan dapat menambah biaya pakan.

"Ayam tidak mungkin ditahan, pasti dilepas. Itu menunjukkan suplai pasti berkurang," terangnya.

Ia telah memanggil seluruh pengusaha ternak ayam, daging ayam terkait untuk memasok pasar. Kemudian, untuk industri makanan-minuman besar diharapkan tidak mengambil ketersediaan di pasar.

"Kami panggil integrator [pengusaha terkait], suplai, grojokin [pasok], keluarkan itu [ketersediaan daging ayam]. Upayakan agar integrator besar tidak masuk [membeli stok] ke pasar tradisional mengingat harga sudah terlalu tinggi. Kami tidak mungkin bermain-main membatasi itu, tapi kemudian tidak ada suplainya enggak bisa," ucapnya.

Sementara itu, ia menampik kenaikan harga daging ayam berasal dari harga pakan impor yang naik karena penguatan kurs dolar AS. "[Harga] pakannya beda dikit," kata dia.

Ketua Dewan Pembina Perhimpunan Peternak Unggas Nusantara (PPUN) Sigit Prabowo menerangkan persoalan minimnya pasokan daging ayam di pasaran, sehingga mengerek harga tinggi. Ia mengatakan ada masalah dalam produksi ayam, yaitu karena belakangan pertumbuhan ayam mengalami keterlambatan berkisar 3-5 hari. Usia panen ayam biasanya sekitar 30 hari, sekarang 35 hari.

Selain itu, tingkat kematian ayam tinggi. Persentasenya bisa 8-15 persen, bahkan bisa 15-20 persen.

Produksi daging ayam hidup saat ini sekitar 50 jutaan ekor per minggu, sedangkan kebutuhan konsumsi pada masa Ramadan hingga Lebaran bisa naik 20 persen per kapita.

"Artinya kebutuhan konsumsinya 70 jutaan ekor per minggu. Kalau kebutuhan di angka itu, kurang [pasokan]. Sekarang saja sudah terasa saat kondisi normal, harga melejit, apalagi dalam kondisi minggu-minggu Lebaran," kata Sigit kepada Tirto pada Selasa (15/5/2018).

Kemudian, ia juga menekankan bahwa kenaikan harga ini lebih karena gangguan produksi, bukan karena kenaikkan harga pakan yang berasal dari impor. "[Penyebab utama bukan harga pakan] harga pakan cuma naik Rp150 per kg," sebutnya.

Berdasarkan data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional hingga 23 Mei 2018, harga daging ayam rata-rata nasional Rp36.050 per kg. Harga tertinggi Rp45.350 per kg ada di Nusa Tenggara Timur (NTT), disusul Kepulauan Bangka Belitung Rp43 ribu per kg dan di Sumatera Barat Rp41.750 per kg.

Sedangkan, harga termurah Rp26 ribu per Kg di Aceh. Disusul Rp28.150 per kg di Sulawesi Selatan Rp28.150 per kg dan Rp28.750 per kg di Gorontalo.

Jika melihat grafik harga dari hari ke hari rata-rata nasional sejak 16 Mei 2018, harga ada kecenderungan menurun. Pada 16 Mei, harga ada di level Rp37.050 per kg. Dua hari kemudian menjadi Rp37 ribu per kg.

Pada 21 Mei, turun lagi menjadi Rp36.600 per kg. Sehari kemudian menjadi Rp36.500 per Kg dan Selasa kemarin Rp36.050 per kg.


Baca juga artikel terkait RAMADAN 2018 atau tulisan menarik lainnya Shintaloka Pradita Sicca
(tirto.id - Ekonomi)

Reporter: Shintaloka Pradita Sicca
Penulis: Shintaloka Pradita Sicca
Editor: Maya Saputri