Syarat Vaksin COVID-19 untuk Pasien HIV, Apa Saja?

Oleh: Desika Pemita - 30 Januari 2021
Dibaca Normal 1 menit
Syarat vaksin covid-19 bagi pasien HIV/AIDS antara lain catatan CD4 di atas 200 atau hasil dari pemeriksaan viral load-nya tidak terdeteksi.
tirto.id - Vaksin Covid-19 bisa digunakan untuk orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Mereka berhak mendapatkan vaksinasi virus corona, demikian dilaporkan Reuters.

Terkait hal ini, pemerintah juga akan melakukan vaksinasi kepada ODHA. Namun Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI memberlakukan syarat vaksin Covid-19 bagi para ODHA.

Syarat Vaksin Covid-19 untuk ODHA

Kasubdit HIV/AIDS dan Penyakit Infeksi Menular Seksual (PIMS) Kemenkes RI, Nurjannah menjelaskan bahwa ada beberapa syarat vaksin Covid-19 untuk ODHA. Syarat itu antara lain, Cluster of Differentiation 4 atau sel darah putih yang di atas 200 dan hasil pemeriksaan viral load (tingkat kerentanan) yang tidak terdeteksi.

"Untuk HIV, mereka bisa menerima (vaksin) dengan catatan CD4-nya (Cluster of Differentiation) di atas 200 atau hasil dari pemeriksaan viral load-nya tidak terdeteksi," ujar Nurjannah seperti dilaporkan Antara.

Viral load tidak terdeteksi adalah sistem kekebalan tubuh memulih dan berhasil memperkuat diri. Artinya kondisinya stabil, itu khusus untuk HIV.

Syarat itu berdasarkan fakta bahwa HIV itu tidak tidak bisa disembuhkan. Jadi, lebih baik menggunakan pilihan tidak terdeteksi atau undetectable atau tersupresi virusnya setelah diperiksa dengan viral load.

"Artinya kondisinya itu stabil, itu khusus untuk HIV. HIV itu tidak ada kata sembuh, yang ada adalah kata tidak terdeteksi atau undetectable atau tersupresi virusnya itu setelah diperiksa dengan viral load," kata Nurjannah.


Kebijakan Negara Lain Soal Vaksin bagi ODHA


Beberapa negara lain telah merekomendasikan bahwa orang positif-HIV harus diberi prioritas untuk vaksin Covid-19. Mereka menjadi salah satu kelompok yang paling berisiko, selain lansia dan petugas kesehatan yang menjadi garda terdepan.

Vaksin Covid-19 untuk penderita HIV/AIDS juga telah menjadi salah satu hal yang paling utama di beberapa negara di dunia. Di Jerman, warga yang terkena HIV akan dimasukkan ke tingkat ketiga dari pasien prioritas, bersama dengan orang yang berusia di atas 60-an.

Di Inggris, orang yang hidup dengan HIV dimasukkan ke kelompok prioritas keenam untuk vaksinasi. Selanjutnya, mereka yang berusia 65 tahun ke atas, petugas layanan kesehatan dan orang dengan kondisi kesehatan yang parah.

Setelah penelitian awal menunjukkan bahwa vaksin aman untuk populasi yang lebih luas, orang dengan HIV mulai mengambil bagian dalam penelitian. Ini termasuk masing-masing dari tiga vaksin yang hasil keberhasilannya telah diumumkan secara publik.

Melansir dari UNAIDS, Studi Pfizer telah merekrut setidaknya 196 orang dengan HIV. Namun data mereka tidak ke dalam analisis yang diterbitkan di New England Journal of Medicine atau data yang telah disetujui oleh regulator di AS dan Inggris.

Ada kemungkinan bahwa orang dengan HIV mungkin khawatir dengan vaksin ini. Namun setelah melewati beberapa penelitian, vaksin Covid-19 yang dibuat biasanya berdasarkan standarisasi dari WHO. Bisa disebut aman digunakan.

Studi Moderna telah merekrut 176 orang dengan HIV. Satu orang yang menerima plasebo dan tidak ada yang menerima vaksin mengembangkan Covid-19. Penelitian serupa juga dilakukan oleh Oxford/AstraZeneca telah merekrut 160 orang dengan HIV di Inggris dan Afrika Selatan.

Menurut laporan, subjek penelitian tidak mengalami masalah kesehatan setelah divaksin. Dengan kata lain, vaksin Covid-19 relatif aman digunakan untuk penderita HIV/AIDS.

Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS menyarankan bahwa mRNA Covid-19 vaksin dapat diberikan kepada orang-orang dengan kondisi medis yang mendasari asalkan mereka tidak memiliki reaksi alergi yang parah terhadap salah satu bahan dalam vaksin. Mereka mencatat bahwa orang dengan HIV mungkin berisiko lebih tinggi terapar virus corona parah. Hal itu menjadi salah satu hal yang membuat mereka seharusnya menerima vaksin Covid-19.


Baca juga artikel terkait VAKSIN COVID-19 atau tulisan menarik lainnya Desika Pemita
(tirto.id - Kesehatan)

Kontributor: Desika Pemita
Penulis: Desika Pemita
Editor: Agung DH
DarkLight