Susu Sapi dan Taylor Swift: Ikon Fasisme Amerika Zaman Now

Taylor Swift memainkan lagu "I Does Something Bad" dalam perhelatan American Music Awards pada Selasa, 9 Oktober 2018, di Microsoft Theater di Los Angeles. Matt Sayles / Invision / AP
Oleh: Faisal Irfani - 26 Oktober 2018
Dibaca Normal 5 menit
Kelompok-kelompok fasis Amerika Serikat mengklaim susu sapi, Taylor Swift, dan sejumlah produk budaya populer lainnya sebagai simbol supremasi kulit putih. Lebih sering gagal ketimbang berhasil.
tirto.id - Naiknya Donald Trump ke kursi presiden melejitkan kelompok-kelompok supremasi kulit putih dan neo-nazi di Amerika Serikat ke ruang publik, baik online maupun offline. Kelompok-kelompok rasis ini mempropagandakan sikap anti-semit, anti-muslim, anti-LGBT, anti-kulit hitam, anti-kulit berwarna, serta menebarkan rumor bahwa warga kulit putih terancam jadi minoritas di tanah sendiri akibat arus imigrasi.

Pada Agustus 2017, dalam sebuah protes bertajuk "Unite the Right" di Charlottesville, Virginia, kelompok-kelompok pendukung supremasi kulit putih ini bentrok dengan demonstran sayap kiri dan menabrak 20 warga sipil dengan truk. Heath Heyer, seorang pengacara dan aktivis hak-hak sipil, dikabarkan tewas.

Data dari Anti-Defamation League menyebutkan, kelompok supremasi kulit putih adalah pihak yang paling bertanggungjawab dalam serangan mematikan sepanjang 2017. Aksi-aksi brutal mereka telah menewaskan 18 orang.

Tak ingin kehilangan popularitas, kelompok supremasi kulit putih AS kembali bikin heboh. Kali ini, mereka menjadikan susu—iya, susu putih—sebagai alat kampanye yang menggambarkan betapa unggulnya mereka dibandingkan warga dunia lainnya. Tentu, aksi itu bikin banyak pihak menggelengkan kepala.

“Bagi supremasi kulit putih,” kata Stephen Colbert, pembawa acara The Late Show with Stephen Colbert dalam monolognya, Kamis (18/10), “laktosa adalah satu-satunya bentuk toleransi mereka.”

Klaim Konyol

Tak lama usai pelantikan Trump sebagai presiden pada Januari 2016, sekelompok pria kulit putih mengadakan pesta di jalanan New York. Dalam pesta itu, mereka tak membawa alkohol, melainkan susu putih. Sambil bertelanjang dada, mereka menenggak susu sampai habis dan meneriakkan pernyataan-pernyataan seksis, rasis, dan homofobik. Usut punya usut, mereka adalah rombongan kelompok supremasi kulit putih AS.

Di YouTube, video “pesta susu” tersebut viral serta dirayakan dengan tagar #MilkTwitter tak lama setelahnya. Beberapa pentolan supremasi kulit putih seperti Richard Spencer (bos lembaga think tank National Policy Institute) pun mulai menyertakan simbol susu di akun media sosialnya. Susu sebagai simbol fasisme bahkan muncul di film Get Out (2017) yang menampilkan adegan seorang kulit putih rasis menyeruput segelas susu.

Susu sapi lantas bergabung dengan barisan Pepe the Frog dan emoji “oke” sebagai simbol rumpun ideologi supremasi kulit di Barat masa kini yang mencakup kelompok alt-right, neo-nazi, hingga neo-Ku Klux Klan. Dengan kata lain, fasisme gaya baru.

Dalam “The Unbearable Whiteness of Milk: Food Oppression and the USDA” yang dipublikasikan UC Irvine Law Review (2013), Andrea Freeman, profesor hukum dari Universitas Hawaii Richardson, menjelaskan hubungan susu dan klaim superioritas kulit putih secara historis. Fenomena ini dimulai dari kebudayaan populer, khususnya iklan. Pada 1920-an, catat Freeman, muncul banyak iklan yang menegaskan bahwa susu merupakan produk unggulan yang jadi santapan utama orang-orang kulit putih.

Iklan-iklan susu pada awal abad ke-20 seringkali memperlihatkan potret sebagai berikut: orang-orang yang tampak sehat (karena faktor konsumsi susu) digambarkan berkulit terang. Sementara yang jarang atau tidak minum susu digambarkan sakit dan berkulit gelap.


Dalam Nature's Perfect Food: How Milk Became America's Drink (2002), sosiolog Melanie DuPuis mengungkapkan bahwa susu dipandang sebagai elemen penting dalam pembangunan bangsa Barat di era modern. Orang-orang kulit putih bangga dengan susu karena mereka merasa susu bisa memberikan “tubuh yang sempurna”.

Ada anggapan luas bahwa orang-orang kulit putih mampu mencerna kandungan susu, terutama laktosa, secara baik karena mutasi genetik—yang biasa dikenal sebagai “persistensi laktosa.” Sebaliknya, orang non-kulit putih dipercaya tak bisa mencerna susu karena intoleran terhadap laktosa.

Mitos inilah yang menyebabkan kelompok supremasi kulit putih jumawa. Mereka bahkan menganggap semua produk susu di luar susu sapi sebagai sampah. Susu keledai, misalnya, dipandang tidak bergizi dan hanya melambangkan kelemahan dan ketidakmampuan. Narasi ini bertahan sampai sekarang dan dijadikan bahan oleh kelompok supremasi kulit putih untuk merisak peminum susu keledai.

“Minum susu keledai sama saja dengan memenuhi tubuhmu dengan estrogen dan menutup semua saluran testosteronmu,” kata James Allsup, YouTuber supremasi kulit putih, dalam videonya.

Dalam artikelnya yang terbit di The New York Times, Amy Hormon mengatakan bahwa kelompok supremasi kulit putih, sehubungan dengan kasus susu, "telah mendistorsi dan menggunakan ilmu genetika untuk tujuan aneh yang terkesan mementingkan diri sendiri." Klaim supremasi kulit, catat Amy, "banyak celahnya."

Pertama, sebagaimana ditulis Vox, varian gen yang menciptakan laktase, enzim yang memecah laktosa, juga bisa ditemukan di tubuh orang-orang Afrika sampai Asia. Dengan kata lain, laktase tidak cuma dimiliki orang kulit putih di Eropa maupun AS. Kenyataannya, 35 persen populasi dunia punya gen itu. Kedua, urusan gen jauh lebih kompleks dibanding argumen “sederhana” yang digembar-gemborkan kelompok supremasi kulit putih.

Gagal Mengklaim Taylor Swift

Tak hanya susu, Taylor Swift, penyanyi kondang yang terkenal lewat album Red (2012) dan 1989 (2014), ternyata juga pernah diusung sebagai simbol oleh gerombolan neo-Nazi dan supremasi kulit putih AS sebagai “simbol superioritas ras.”

Kabar tersebut menyeruak dua tahun silam ketika kaum fasis ini ramai-ramai menyanjung Swift sebagai "Dewi Arya". Mereka menyebarkan teori konspirasi di internet bahwa Swift adalah Nazi yang terselubung. Dasar argumennya adalah lagu-lagu Swift yang dipercaya menyimpan agenda konservatisme. Atribut fisik Swift sendiri sangat mudah diklaim oleh kalangan fasis. Ia berkulit putih dan berambut pirang. Dua ciri itulah yang sering dimunculkan dalam bahan-bahan propaganda visual 'ras unggul' kaum fasis, bahkan sejak era Nazi. Di Belanda, politikus anti-imigran Belanda bernama Geert Wilders bahkan mencat rambutnya pirang untuk menutupi asal-usul salah satu moyangnya yang asli Sukabumi.

“Pertama, Taylor Swift merupakan seorang Dewi Arya. Seperti sesuatu yang muncul dari puisi Yunani klasik. Itulah yang paling penting,” jelas Andre Anglin, penulis blog supremasi kulit putih, Daily Stormer. “Tinggal tunggu waktu saja agar Donald Trump membuat Swift bisa mengumumkan pandangan politik dan agenda Arya-nya kepada dunia. Mungkin juga, ia akan bertunangan dengan putra Trump dan mereka pun bakal dinobatkan sebagai bangsawan Amerika.”

Sebagaimana ditulis Broadly dalam “Can't Shake It Off: How Taylor Swift Became a Nazi Idol,” tidak jelas kapan pertama kali para fasis ini memuja Swift. Ada yang memperkirakan bahwa pemujaan Swif sebagai dewi fasis dimulai sejak balada “Teardrops on My Guitar” dilepas ke pasaran. Milo Yiannopoulos, propagandis situs sayap kanan Breitbart, menyatakan bahwa pemujaan terhadap Swift dimulai ketika meme Taylor Swift yang diunggah akun bernama @poopcutie di Pinterest mendadak viral pada 2013.

Dalam meme itu, Swift digambarkan berjalan melewati pepohonan dengan mengenakan gaun disertai petikan kutipan Hitler: “Seperti dalam segala hal, ALAM adalah instruksi terbaik.”

Entah apa yang memulainya, popularitas Swift di kalangan kaum supremasi kulit putih memang tak terbendung. Di Facebook, misalnya, muncul grup bernama “Taylor Swift for Facist Europe” yang di-like oleh 18 ribu akun. Manajer komunitas tersebut mengatakan kepada Broadly bahwa tujuan dibikinnya grup ini ialah untuk “melestarikan Eropa melalui fasisme.” Ia percaya, fasisme akan membuat Eropa kembali berjaya dan Taylor Swift adalah salah satu sosok yang bakal merealisasikan mimpi itu.

Para penggemar Swift mulai gerah dengan informasi-informasi yang disebarluaskan fasis-fasis ini. Terlebih lagi, pihak Swift sama sekali tidak pernah memberikan klarifikasi dan tak pernah mau bicara politik. Di sisi lain, anggapan bahwa Swift mendukung ideologi supremasi kulit putih sempat dikuatkan oleh sebuah videoklip untuk single berjudul "Wildest Dreams". Dalam videoklip itu, Swift Swift mengenakan kostum safari era kolonial di tengah latar padang rumput Afrika. Tak ada orang Afrika di sana, hanya orang kulit putih yang dikelilingi hewan-hewan liar. Tak lama setelah videoklip "Wildest Dreams" dirilis, Swift dituduh tidak sensitif pada sejarah kolonialisme di Afrika, bahkan "meromantisir fantasi kolonialisme" kulit putih di benua tersebut".

Namun, semua spekulasi tentang Swift gugur tatkala pada pertengahan Oktober silam, Swift memutuskan sikap politiknya: mendukung Partai Demokrat dalam pemilu paruh waktu (midterm election).


“Aku percaya bahwa rasisme sistemik yang masih kita lihat di negara ini terhadap orang kulit berwarna begitu menakutkan, memuakkan, dan menyebar,” terang Swift dalam unggahan di akun Instagram-nya. “Aku tidak bisa memilih seseorang yang tidak mau berjuang untuk martabat SEMUA orang Amerika, tidak peduli warna kulit mereka, jenis kelamin, atau siapa yang mereka cintai.”

Sikap Swift, seperti diwartakan BuzzFeed News, langsung melegakan penggemarnya—meskipun ada beberapa yang bingung mengapa baru sekarang Swift buka suara.





“Aku sudah lama menunggu dia mengunggah hal semacam itu,” ungkap Olivia Cherry, remaja 17 tahun asal Illinois dengan akun Twitter @SwiftingDaily. “Sebagai seseorang yang memujanya selama 10 tahun, aku tahu dia orang seperti apa. Tapi, aku tidak bisa meyakinkan orang lain.”

Pendapat senada juga diucapkan Lizbeth, 21 tahun, lewat akun Twitternya @iwishyou. Menurut Lizbeth, hari itu adalah "hari kemerdekaan" untuk para penggemar Swift alias "Swifties."

“Selamat pagi, Swifties,” cuit Elizabeth pada keesokan harinya disertai GIF bergambar Betty White. “Kemarin, swiftland secara resmi menyatakan kemerdekaan dari kaum konservatif.”

Jika penggemar Swift bersukacita, kaum pendukung supremasi kulit putih malah putus asa.

“GADIS KAMI sudah tak ada lagi,” begitu kira-kira kata mereka. Beberapa bahkan berspekulasi bahwa dukungan terhadap demokrat itu tidak ditulis oleh Swift, melainkan oleh "Yahudi homo".

Kelompok fasis macam neo-Nazi maupun supremasi kulit putih di AS sebelumnya telah berusaha mengklaim produk-produk budaya populer. Selain Taylor Swift, tercatat mereka juga pernah mengklaim Papa John’s, Wendy’s, sepatu New Balance, hingga baju polo Fred Perry sebagai barang konsumsi orang kulit putih. Pengamat mengatakan, dengan menggandeng produk-produk itu, kelompok fasis ingin memberi kesan punya sekutu yang bisa diajak berbagi visi tentang dunia versi mereka.

“Dukungan itu menciptakan semacam pembenaran karena bisa mengaitkan eksistensi mereka dengan merek-merek yang dikenal banyak orang,” ucap Devin Burghart, peneliti Institute for Research and Education on Human Rights, kepada Newsweek. “Cara itu mereka pakai untuk membedakan diri dengan siapapun yang mereka anggap ‘normies’ [orang-orang 'konvensional']”

Menulis di laman Southern Poverty Law Center, David Neiwert mengungkapkan ada tiga hal yang bisa dipetik dari fenomena ini. Pertama, klaim sayap kanan terhadap budaya pop tidak berbahaya dan sebatas ekspresi belaka. Kedua, klaim-klaim ngawur kelompok itu sengaja dilontarkan untuk memancing reaksi kalangan liberal yang mereka sebut "SJW" (Social Justice Warrior). Terakhir, segala klaim tersebut adalah salah satu cara berkomunikasi antar orang atau kelompok supremasi kulit putih.

Pada akhirnya, kita bisa bersyukur ketika Taylor Swift tidak terjerumus ke jalan yang salah.

Baca juga artikel terkait FASISME atau tulisan menarik lainnya Faisal Irfani
(tirto.id - Politik)

Penulis: Faisal Irfani
Editor: Windu Jusuf
DarkLight