STOP PRESS! Masyarakat Diminta Waspadai Ransomware Petya

Survei: Streaming Musik Lebih Digandrungi Masyarakat Korea

Survei: Streaming Musik Lebih Digandrungi Masyarakat Korea
Ilustrasi musik digital [foto/shutterstock]
17 April, 2017 dibaca normal 1 menit
Sebanyak 41 persen warga Korea Selatan berlangganan layanan streaming musik, jauh di atas persentase negara-negara lain.
tirto.id - Menurut sebuah survei, hampir setengah dari masyarakat Korea Selatan menikmati konten musik melalui streaming ketimbang mengunduhnya.

Federasi Internasional Industri Phonographic (IFPI) mencatat, sebanyak 41 persen warga Korea Selatan berlangganan layanan streaming musik, jauh di atas persentase negara-negara lain seperti Swedia (40 persen), Meksiko (39 persen), dan Brasil (26 persen).

"Korea Selatan menawarkan lingkungan internet mobile yang menguntungkan. Operator ponsel juga memicu pertumbuhan layanan streaming selain strategi pemasaran yang kuat," kata seorang pengamat industri.

Ia menambahkan, banyak warga Korea Selatan cenderung memilih musik berdasarkan peringkat grafik. Oleh karena itu, permintaan untuk menikmati musik terbaru melalui streaming lebih tinggi daripada unduhan.

Seperti dikutip dari Antara, industri streaming musik Korea Selatan saat ini didominasi oleh Melon, kepanjangan bisnis dari Kakao Corp., yang menyumbang 50 persen pasaran.

Sementara itu, KT Corp Genie dan Bugs NHN Entertainment masing-masing menyumbang 20 persen dan 15 persen.

Kendati begitu, IFPI mengungkapkan, industri ini menghadapi tantangan karena "aliran ripping," yang bisa mengacu pada rekaman musik melalui streaming untuk distribusi ilegal, demikian seperti diwartakan Kantor Berita Yonhap.

Sebelumnya pada 2016, IFPI juga sempat mengeluarkan studi terkait perkembangan musik digital. Dalam studi itu disebutkan bahwa musik digital mengambil 45 persen bagian dari kekayaan industri musik, sedangkan media fisik hanya 39 persen.

Hal tersebut, menurut IFPI, dikarenakan semakin banyaknya layanan musik, seperti Apple Music dan Tidal yang mulai bermunculan.

"Setelah dua dekade mengalami penurunan, 2015 menjadi tonggak sejarah untuk industri rekaman musik di mana pertumbuhan pendapatan terukur secara global. Konsumsi musik meledak, dan untuk pertama kalinya pendapatan digital menyalip pendapatan format fisik," kata bos IFPI Frances Moore.

Hal ini, menurut Moore,  mencerminkan industri yang telah disesuaikan dengan era digital dan muncul lebih kuat dan lebih cerdas.

Baca juga artikel terkait MUSIK DIGITAL atau tulisan menarik lainnya Yuliana Ratnasari
(tirto.id - rat/rat)

Keyword