Menuju konten utama

Stop Belanja, Pakai Dulu Baju yang Ada di Lemarimu

Fashion designer Ichwan Thoha beri bocoran wardrobe essentials yang wajib dipertahankan untuk mendukung sustainable movement.

Stop Belanja, Pakai Dulu Baju yang Ada di Lemarimu
Header Diajeng Fast Fashion. tirto.id/Quita

tirto.id - Sebagian dari kita mungkin sudah lama mengumpulkan niat untuk mengonsumsi mode secara sadar karena dampaknya pada lingkungan, tapi seringkali gagal karena tergoda merek-merek fast fashion kekinian yang dijual murah. Lantas apa yang bisa dilakukan?

Ichwan Thoha, fashion designer sekaligus penulis, berbagi tips.

Baju-baju yang terlanjur menumpuk di lemari bisa didonasikan atau dijual di garage sale. Uang hasil penjualan didonasikan, atau bisa juga menyalurkan baju-baju tersebut ke badan-badan yang melakukan recycle atau upcycle.

Selanjutnya, jadilah smart and conscious buyer agar tak mudah check out.

“Pada dasarnya, kita harus menyadari kalau e-commerce atau online shops adalah media yang menjadikan seseorang lebih konsumtif. Hal ini lantaran begitu banyak kemudahan untuk mengaksesnya, display yang memanjakan mata juga perasaan, dan harga-harga yang terjangkau, serta proses beli yang sangat mudah.”

“Kapitalisme online telah menjadi gaya hidup bahkan mendikte. Sebaiknya kita sebagai konsumen harus pandai mengatur kebutuhan (needs) dan keinginan (wants). Apakah sudah waktunya membeli t-shirt baru sedangkan yang sebelumnya belum lama dipakai? Ngapain juga menumpuk baju di lemari?”

Header Diajeng Fast Fashion

Header Diajeng Fast Fashion. foto/IStockphoto

Pikirkan juga, adakah keuntungan dari belanja baju-baju secara online? Apa hanya kepuasan lantaran harga murah, atau murni kebutuhan? Apa sebaiknya uangnya kita pakai untuk belanja yang lain, atau dialokasikan untuk kelas-kelas kursus yang bisa meningkatkan keahlian, keterampilan, intelektual, dan menambah jejaring?

“Nah, kalau banyak perempuan yang masih mengeluhkan selalu nggak punya baju saat ingin pergi, padahal baju di lemari menumpuk, yang pasti dan yang pertama dilakukan adalah, kita harus bersyukur dan jangan pernah merasa nggak punya baju,” terang Ichwan yang juga seorang mentor ini.

“Bisa jadi karena kamu sedang bosan dengan koleksi yang itu-itu saja. How to wear, bukan what to wear, adalah salah satu fashion quote saya yang bisa dijadikan rujukan sekaligus motivasi kalau sedang merasa bosan dengan koleksi baju juga aksesori yang ada. Perbanyak literasi mode untuk mendapatkan inspirasi penampilan, baik dari runway, editorial fashion, fashion spread, artikel mode, print ad, comersial page, dan masih banyak lagi.”

Praktik simpelnya, coba keluarkan kemeja putih favoritmu. Dipastikan ditemukan lebih dari 2 kemeja putih, kan? Postingan @bobrownn di TikTok bisa jadi inspirasi seru.

Content creator asal Belanda ini menampilkan fashion hacks kemeja putih. Dengan bermodal satu kemeja putih, ia melakukan restyling kemeja putih menjadi tampilan baru sebanyak lebih dari 26 gaya. Total, video-video viralnya telah menghasilkan lebih dari 20 juta views.

Kemeja putih bertransformasi menjadi model crop, diubah menjadi outerwear atau jaket, menjelma menjadi model off-shoulder dengan model bahu asimetris, model halterneck, atau kemeja dengan detail ujung menyilang. Bahkan bisa berubah jadi rok sekalipun!

Selain dengan melakukan restyling, kemeja putih bisa dipercantik dengan pemakaian scarf pada leher, diberi sentuhan kalung atau bros indah, atau ditumpuk dengan crop vest untuk tampilan beda.

Namun selera, gaya hidup, dan tubuh berubah seiring bertambahnya usia. Secara realistis kita tidak bisa berharap mengenakan pakaian yang sama persis selamanya. Faktor ini juga yang kerap kita jadikan alasan untuk beli baju baru.

Setelah baju menumpuk, mulailah rasa itu datang lagi. Perasaan tak punya baju.

Header Diajeng Fast Fashion

Header Diajeng Fast Fashion. foto/Istocphoto

Dilys Williams, Direktur Centre for Sustainable Fashion di London College of Fashion, University of the Arts London, membagikan formula bila kamu ingin mengaudit lemari baju. Ia menyarankan untuk membaginya ke dalam dua kategori: investasi dan biaya.

"Untuk barang-barang yang kamu sukai dan ingin kenakan, yang membuat kamu merasa nyaman, mencerminkan identitas dan nilai-nilaimu, ini yang disebut investasi. Simpan. Sedangkan baju yang kamu sudah lupakan dan nggak yakin akan asal usulnya, yang membuat kamu merasa nggak nyaman, yang menggantung dan nggak terpakai di lemari, ini adalah kategori biaya. Keluarkan dari lemari," jelasnya.

Saat mengurasi tumpukan dan gantungan penuh baju di lemari, Ichwan juga memberi bocoran wardrobe essentials apa saja yang wajib dipertahankan untuk mendukung sustainable movement.

“Miliki baju-baju yang klasik, timeless, tak lekang dimakan waktu, mudah dipadupadankan, di-styling-kan, dan versatile bisa dipakai dalam kesempatan apa pun. Contohnya, Little Black Dress (LBD), Summer trench coat, kemeja putih, hitam, atau biru muda, celana hitam atau khaki, blazer, celana jeans, kaus polos, tank top, dan cardigan hitam.

Dari semua baju itu, perhatikan satu persatu, dan mulailah jatuh cinta lagi. Karena toh, saat dulu ingin membelinya, kamu juga merasakan hal yang sama, kan?

Love at first sight. Kenakan berkali-kali dengan padu padan dan styling berbeda. Nikmati keseruannya sekaligus ikut serta dalam gerakan berkelanjutan demi masa depan, berbagi dengan yang membutuhkan, dan punya uang ekstra sebagai bonus dari penghematan.

Baca juga artikel terkait DIAJENG atau tulisan lainnya dari Glenny Levina

tirto.id - Diajeng
Kontributor: Glenny Levina
Penulis: Glenny Levina
Editor: Yemima Lintang