Sri Mulyani: Suku Bunga Naik Ekstrem, Dunia Pasti Resesi pada 2023

Reporter: Dwi Aditya Putra, tirto.id - 26 Sep 2022 19:18 WIB
Dibaca Normal 1 menit
Sri Mulyani Indrawati memperkirakan, ekonomi global tahun depan akan jatuh ke dalam jurang resesi.
tirto.id - Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati memperkirakan, ekonomi global tahun depan akan jatuh ke dalam jurang resesi. Perkiraan itu semakin menguatkan proyeksi dilakukan oleh Bank Dunia.

Dia mengatakan, kenaikan suku bunga acuan bank sentral di sejumlah negara akan menghambat pertumbuhan ekonomi. Sehingga menghantarkan sejumlah negara berpotensi masuk ke jurang resesi.

"Kenaikan suku bunga cukup ekstrem bersama-sama, maka dunia pasti resesi pada 2023," ungkap Ani, sapaan akrabnya, dalam konferensi pers, Senin (26/9).

Sri Mulyani mengatakan, saat ini suku bunga acuan bank sentral Inggris sudah naik 200 basis poin selama 2022. Begitu pula dengan Amerika Serikat (AS) yang sudah naik 300 bps sejak awal tahun.

"(Bunga acuan) AS sudah 3,25 persen, sudah naik 300 bps, ini terutama karena rapat September ini mereka menaikkan lagi dengan 75 bps. Ini merespons inflasi AS 8,3 persen," ungkapnya.

Bank Dunia sebelumnya memprediksi, kemungkinan besar dunia akan bergerak menuju resesi global serangkaian krisis keuangan di pasar negara berkembang pada 2023.

Hal itu akan terjadi ketika bank sentral di seluruh dunia menaikkan suku bunga sebagai respons terhadap inflasi, demikian menurut studi baru oleh Bank Dunia.

Seperti dikutip laman resmi worldbank.org, bank-bank sentral di seluruh dunia telah menaikkan suku bunga di tahun ini. Diperkirakan, tren ini akan berlanjut sampai tahun depan.

“Kekhawatiran mendalam saya adalah bahwa tren ini akan bertahan, dengan konsekuensi jangka panjang yang menghancurkan orang-orang di pasar negara berkembang dan ekonomi berkembang,” kata Presiden Grup Bank Dunia David Malpass.

Bagaimana Respons IMF?

Dikutip Times of India, juru bicara IMF, Gerry Rice mengatakan, beberapa negara memang diperkirakan akan mengalami resesi di 2023, tapi terlalu dini mengatakan apakah akan ada resesi global secara lebih luas.

Pada Juli lalu, IMF merevisi pertumbuhan global turun menjadi 3,2 persen pada 2022 dan 2,9 persen pada 2023.

"Jelas apa yang kami tandai sebagai perlambatan ekonomi global hanya meningkat dalam beberapa minggu dan bulan terakhir," kata Rice.

Masalah itu, kata dia, terjadi karena lockdown COVID-19 yang berkelanjutan dan masalah real estate membebani aktivitas ekonomi di China, serta penguatan dolar AS yang memiliki implikasi bagi banyak negara.

"Kami memperkirakan beberapa negara akan menghadapi resesi di 2023. Masih terlalu dini untuk mengatakan apakah itu akan menjadi resesi global yang meluas," ungkapnya.



Baca juga artikel terkait RESESI EKONOMI GLOBAL atau tulisan menarik lainnya Dwi Aditya Putra
(tirto.id - Ekonomi)

Reporter: Dwi Aditya Putra
Penulis: Dwi Aditya Putra
Editor: Anggun P Situmorang

DarkLight